Viral Dugaan Riset Palsu Pakai AI, Ini 3 Masalah Besar di Baliknya

Viral dugaan riset palsu berbasis AI, pakar bongkar tiga persoalan serius di balik dunia akademik.

Diterbitkan 26 Mei 2026, 17:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dugaan penelitian palsu mengemuka di media sosial belakangan ini. Sekelompok Warga Negara Indonesia (WNI) disebut ketahuan membuat riset palsu menggunakan artificial intelligence (AI). Kepalsuan riset kesehatan ini disebut-sebut terungkap dalam ajang internasional di Denmark.

Terkait dugaan ini, dokter sekaligus peneliti dari Griffith University, Dicky Budiman, menilai kejadian ini sebagai fenomena dari tiga kombinasi masalah besar, yakni:

1. Komersialisasi Prestise Akademik

Pertama, ada komersialisasi dan industrialisasi prestise akademik. Artinya, saat ini banyak orang melihat publikasi, konferensi internasional, travel grant, atau sertifikat pembicara sebagai status sosial, bukan lagi proses ilmiah.

"Sehingga muncul ghost writing, fake conferences, jurnal predator, manipulasi sitasi. Ini yang menggiring orang menggunakan AI untuk menghasilkan manuskrip massal. AI sendiri sebetulnya netral, yang dipermasalahkan manusianya, oknumnya," kata Dicky kepada Kesehatan Liputan6.com saat dihubungi pada Selasa, 26 Mei 2026.

Dicky, menjelaskan, sebetulnya penggunaan AI masih diperbolehkan secara etis untuk membantu grammar, coding statistik, literature mapping, brainstorming, dan visualisasi data.

Namun, kata Dicky, AI masuk dalam penipuan sains jika dipakai untuk membuat data palsu, responden fiktif, pemalsuan analisis, dan membuat penelitian yang sebetulnya tidak pernah dilakukan.

2. Lemahnya Literasi

Hal kedua yang memicu terjadinya fenomena ini adalah lemahnya literasi metodologi penelitian. Banyak orang bisa membuat tulisan yang terlihat ilmiah, tapi tidak memahami epistemologinya, tidak memahami validitas, bias, dan etika penelitian.

"Sehingga, itu sebabnya AI ini digunakan oleh orang-orang tidak beretika untuk menghasilkan paper yang tidak meyakinkan, bahkan dalam hitungan menit," ujar Dicky.

"Padahal, bicara penelitian, sejatinya penelitian itu bukan sekadar tulisan. Ada proses, ada data, ada audit trail, ada validasi, ada integritas," tambahnya.

3. Sistem Akademik

Alasan ketiga kenapa fenomena ini terjadi karena sistem akademik global dan nasional punya celah.

"Jadi, harus jujur diakui, dunia akademik internasional juga sedang menghadapi krisis integritas. Dan, banyak konferensi internasional terlalu longgar mengejar biaya registrasi, review juga sangat dangkal. Karena itu, penelitian palsu sering atau kadang bisa lolos," katanya.

"Jadi, ini bukan hanya masalah di Indonesia, tapi masalah global di era AI ini," pungkas Dicky.