Liputan6.com, Jakarta - Penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) menunjukkan banyaknya kepala keluarga yang merokok di rumah. Bahkan, ada ayah yang rela tidak makan demi bisa merokok.
"Suami saya berhenti merokok karena sakit gagal ginjal. Dokternya bilang karena rokok dan kopi. Suami saya lebih baik nggak makan daripada nggak merokok," seperti dikutip Kesehatan Liputan6.com dari pernyataan responden dalam penelitian yang disusun Ketua PKJS-UI, Aryana Satrya.
Menanggapi hasil penelitian tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dokter Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, seharusnya kepala keluarga menyayangi anak dan istri.
Advertisement
"Aktivitas merokok di rumah itu masih 45 persen. Tidak ada kesadaran di rumah tangga tentang pemahaman bagaimana melindungi anak dan istri. Padahal kan anak istri itu harusnya disayang bapak-bapak. Ternyata enggak ada tuh kesadaran para kepala keluarga untuk melindungi anak istri dari asap rokok," ujar Nadia dalam Diseminasi Riset di Jakarta pada Kamis, 4 Juni 2026.
Nadia, menambahkan, pajanan asap rokok tidak hanya berdampak pada perokok, tapi juga keluarganya. "Kita bisa lihat perempuan juga banyak kan yang sakit kanker paru karena menjadi perokok pasif," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua dan peneliti PKJS-UI, Aryana Satrya, mengatakan, konsumsi rokok berpotensi mencederai tujuan program gizi.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa perilaku merokok itu akan membuat generasi yang tidak sehat, tidak produktif, padahal kita mau mencapai Indonesia Emas. Konsumsi rokok kami perkirakan akan mencederai tujuan program gizi karena tujuan utamanya berisiko tidak tercapai optimal," kata Aryana.
Dia, menambahkan, konsumsi rokok dapat menurunkan kecukupan gizi dan kesehatan anak. Kebiasaan merokok juga mengurangi kemampuan keluarga untuk membeli makanan bergizi dan layanan kesehatan.
Menurut Aryana, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat mengurangi beban keluarga untuk membelikan makan pada anak dan pengeluaran untuk uang saku.
Dengan penghematan ini, diharapkan daya beli keluarga menjadi lebih tinggi untuk sesuatu yang bermanfaat. "Tetapi ternyata ada kemungkinan pengeluarannya itu dipakai untuk membeli rokok alih-alih untuk membeli yang bermanfaat seperti makanan bergizi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya," ujarnya.
Â
Perilaku Merokok Cederai Program MBG
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/7743636/original/088327300_1780551050-aryana.jpeg)
Konsumsi rokok dalam keluarga tak hanya bisa menghambat pemenuhan gizi anak, tetapi juga memicu penyakit, gizi buruk, stunting, hingga kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah.
"Keluarga perokok juga memiliki peluang lebih miskin 6 persen, jadi udah sakit miskin pula," ujar Aryana.
Penelitian bertajuk 'Perilaku Merokok dalam Rumah Tangga Anak Penerima Makan Bergizi Gratis (MBG)' menunjukkan distribusi perokok berdasarkan wilayah yang seimbang antara daerah urban dan rural, masing-masing sebesar 50 persen.
Rata-rata jumlah anggota rumah tangga mencapai 4,2 orang dengan rata-rata dua anak usia sekolah dalam setiap rumah tangga.
Dari sisi sosial ekonomi, kepala rumah tangga didominasi oleh lulusan SMA sederajat (57,62 persen), diikuti SMP sederajat (18,95 persen), dan perguruan tinggi (12,30 persen).
Jenis pekerjaan kepala rumah tangga sebagian besar berada pada sektor informal dan nonformal, seperti pegawai swasta (35,74 persen), buruh harian lepas (30,27 persen), serta pekerja mandiri/wirausaha (26,17 persen).
Â
Advertisement
Profil Perokok dalam Rumah Tangga
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/3762407/original/007169300_1640052720-vave.jpg)
Kondisi ekonomi rumah tangga responden cenderung berada pada kelompok menengah ke bawah, dengan mayoritas penghasilan rumah tangga berada pada rentang Rp 2–4 juta (44,42 persen) dan Rp 4–6 juta (31,51 persen) per bulan.
Sebagian besar rumah tangga juga merupakan penerima bantuan sosial (90,43 persen) dan penerima Program MBG (86,08 persen).
Di sisi lain, prevalensi perilaku merokok dalam rumah tangga tergolong tinggi, dengan 68,36 persen rumah tangga memiliki anggota yang merokok dan rata-rata jumlah perokok sebanyak 1,17 orang per rumah tangga.
Selain itu, sebanyak 6,38 persen rumah tangga juga memiliki perokok berusia di bawah 21 tahun.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301033/original/004849700_1784434276-blt_umkm_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298964/original/044978900_1784188695-Screenshot_2026-07-15_123742bbbb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299928/original/085453400_1784279402-cek_fakta_dana_hibah_prabowo_-_purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6454660/original/051756600_1779318782-1001276959.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/7748912/original/048506200_1780556734-nadia.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301703/original/072952300_1784513338-AP26200795262872.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301623/original/095037200_1784505166-ar6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301645/original/011342100_1784508477-WhatsApp_Image_2026-07-20_at_06.14.43__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301615/original/050018500_1784504753-enzo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301648/original/090533900_1784509911-000_C2LJ4BG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301590/original/096790100_1784498446-063_2286805977.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301595/original/065930700_1784499809-000_C2LD9FF.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301642/original/073800100_1784506920-trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301606/original/080786700_1784502167-063_2286810313.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301593/original/066412700_1784499333-000_C2LD8RK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300211/original/085807700_1784328539-WhatsApp_Image_2026-07-17_at_13.24.36.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8959594/original/086365400_1782975655-Ridhwan.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8972268/original/091844000_1782982120-Jasra.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8967572/original/097145900_1782979764-ridhwan__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1360914/original/098618500_1475232909-20160930--Bea-Cukai-Rilis-Temuan-Rokok-Ilegal-Jakarta--Faizal-Fanani-08.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1115402/original/035378100_1453179673-20160119-Buruh-Tembakau-AFP1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3146516/original/009220300_1591597610-20200608-Pagi-Ini-IHSG-Menguat--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5248084/original/085492600_1749556947-WhatsApp_Image_2025-06-10_at_10.42.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2233920/original/010136500_1527754896-Bungkus-Rokok3.jpg)