[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: 5 Hal WHO dan Tata Kelola Makanan

WHO mengungkap 866 juta kasus penyakit akibat makanan tak aman setiap tahun, apa penyebab utamanya?

Diterbitkan 24 Juni 2026, 14:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Prof Tjandra merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran UI juga Direktur Program Pasca Sarjana Universitas YARSI Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta - Kita sudah mengetahui bahwa masa libur sekolah kali ini akan dimanfaatkan untuk evaluasi program MBG, tentu termasuk tata kelola makanannya. Dalam hal ini, baik kalau kita cermati publikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekitar dua minggu yang lalu, 4 Juni 2026, tentang dampak buruk makanan yang tidak aman (unsafe food), yang berjudul “Unsafe Food Causes 866 Million Illnesses and 1.5 Million Deaths Annually, Young Children at Highest Risk”.

Ada lima hal tentang publikasi WHO ini yang mungkin jadi bahan pertimbangan. Walau memang publikasi WHO ini bukan spesifik tentang program tertentu di negara tertentu tapi jelas merupakan kajian ilmiah yang baik kita cermati, termasuk dalam pengelolaan dapur di rumah, di fasilitas umum, dan juga di SPPG.

Pertama, WHO memperkirakan bahwa makanan tidak aman di dunia berhubungan dengan sekitar 866 juta kejadian sakit dalam setahunnya. Sebagian besar kejadian sakit ini terjadi akibat paparan cemaran biologis, termasuk bakteri, virus, dan juga parasit.

Kedua, WHO juga menyatakan makanan yang tidak aman (unsafe food) berhubungan dengan bahkan 1,5 juta kematian.

Sekitar 73 persen kematian di dunia akibat kontaminasi makanan itu terjadi karena paparan bahan kimia, utamanya arsen inorganik (42 persen) dan 31 persen akibat timbal (Pb–plumbum). Hal ketiga, keempat, dan kelima adalah tentang pengendalian makanan tidak aman ini.

Ketiga, perbaikan dan menjamin mutu air, sanitasi, dan higiene (WASH – water sanitation and hygiene). Keempat adalah selalu melaksanakan praktik keamanan pangan (food safety practices).

Hal ketiga dan keempat ini tentu berhubungan langsung dengan dapur yang menyediakan makanan, di mana pun berada.

Kelima, WHO juga menyampaikan perlunya tersedianya akses pelayanan kesehatan untuk kelompok yang rentan terhadap keracunan makanan.

WHO juga menyatakan bahwa walaupun penyakit akibat makanan tidak sehat (foodborne disease) memang secara umum di dunia sudah turun sejak tahun 2000, tetapi di berbagai kawasan masih terjadi masalah, dengan beban terbesar di Afrika dan Asia Tenggara.

Prof. Tjandra Yoga Aditama

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University

Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, Kepala Balitbangkes, serta Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara

Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 Persatuan Rumah Sakit se-Indonesia, dan

Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.