Gunther von Hagens Meninggal, Penemu Plastinasi Punya Wasiat Tak Lazim

Di balik wafatnya Gunther von Hagens, tersimpan keinginan terakhir yang tak biasa. Simak kisahnya.

Diterbitkan 02 Agustus 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ahli anatomi asal Jerman yang dikenal sebagai penemu teknik plastinasi dan pendiri pameran kontroversial Body Worlds, Gunther von Hagens, meninggal dunia pada umur 81 tahun. Kepergiannya juga menjadi awal terwujudnya keinginan yang telah lama dia sampaikan, yakni menjadikan jasadnya sendiri sebagai koleksi museum.

Mengutip The Guardian pada Jumat (31/7/2026), Institut Plastinasi yang didirikannya mengumumkan bahwa von Hagens meninggal dunia pada 24 Juli 2026 di sebuah rumah sakit di Heidelberg setelah mengalami pendarahan otak sehari sebelumnya.

"Dengan kesedihan yang mendalam, keluarga dan Institut Plastinasi mengumumkan wafatnya Dr. Gunther von Hagens, penemu plastinasi dan pencipta pameran Body Worlds," demikian bunyi pernyataan resmi lembaga tersebut dikutip dari Kanal Global Liputan6.com pada Minggu (2/8/2026)

Von Hagens didiagnosis mengidap penyakit Parkinson pada 2008. Meski kesehatannya terus menurun, dia tetap berkomitmen agar tubuhnya diplastinasi setelah meninggal sebagai bagian dari warisan ilmiah yang telah dibangunnya.

Dalam wawancara dengan The Guardian pada 2018, dia mengaku pernah membayangkan tubuhnya dipajang di pintu masuk pameran dalam posisi menyambut pengunjung. Dia juga sempat mempertimbangkan agar tubuhnya diiris menjadi lembaran tipis untuk dipamerkan di berbagai lokasi.

Keinginan tersebut kini akan diwujudkan. Juru bicara Plastinarium, museum yang didirikan von Hagens di Guben, Jerman, pada 2006, mengatakan jasadnya akan menjalani proses plastinasi sesuai keinginannya. Namun, lokasi pamerannya masih belum ditentukan.

Jalan Panjang Temukan Teknik Plastinasi

Gunther von Hagens lahir dengan nama Gunther Gerhard Liebchen pada Januari 1945 di Skalmierzyce, Polandia, yang saat itu berada di bawah pendudukan Jerman dan dikenal sebagai Alt-Skalden. Dia dibesarkan di Jerman Timur.

Pada 1968, von Hagens ikut memprotes penindasan Musim Semi Praha oleh Uni Soviet. Setahun kemudian, dia ditangkap saat mencoba melarikan diri ke Jerman Barat. Pada 1970, pemerintah Jerman Barat membayar 40.000 deutsche mark untuk membebaskannya sebagai tahanan politik.

Setelah menetap di Jerman Barat, dia menikah dengan Cornelia von Hagens dan mengadopsi nama belakang istrinya.

 

Spesimen Anatomi yang Diawetkan

Pada 1977, saat menjadi peneliti di Institut Patologi dan Anatomi Universitas Heidelberg, von Hagens menciptakan teknik plastinasi. Ide tersebut muncul ketika dia melihat spesimen anatomi yang diawetkan dalam plastik.

"Saya bertanya-tanya mengapa plastik dituangkan mengelilingi tubuh, bukan ke dalam tubuh," tulisnya.

Teknik plastinasi dilakukan dengan mengeluarkan cairan dan lemak dari tubuh, kemudian menggantinya dengan resin, silikon, dan epoksi. Proses ini membuat jaringan tubuh menjadi kaku, tahan lama, dan dapat diposisikan menyerupai kondisi saat masih hidup.

Body Worlds dan Kontroversinya

Sejak 1995, pameran Body Worlds menampilkan tubuh manusia hasil plastinasi kepada publik sebagai sarana edukasi anatomi. Sebagian spesimen memperlihatkan organ-organ tubuh, sementara lainnya diposisikan sedang melakukan aktivitas seperti bermain catur, berolahraga, hingga berhubungan seksual.

Pameran yang dikembangkan bersama istri keduanya, Angelina Whalley, itu telah menarik lebih dari 50 juta pengunjung di seluruh dunia.

Menurut mereka, tujuan Body Worlds adalah "mendemokratisasi anatomi" dan mengurangi stigma masyarakat terhadap kematian.

Meski demikian, pameran tersebut menuai kritik. Beberapa pihak menilai sejumlah koleksinya terlalu sensasional, termasuk spesimen janin pada berbagai tahap perkembangan.

Von Hagens selalu menegaskan bahwa seluruh tubuh yang dipamerkan berasal dari orang-orang yang telah memberikan persetujuan sebelum meninggal untuk kepentingan pendidikan. Namun, penggunaan tubuh bayi dan hewan tetap memicu perdebatan etika.

Kontroversi kembali mencuat pada 2004 ketika majalah Der Spiegel melaporkan bahwa fasilitas plastinasi miliknya di Dalian, China, membeli "tubuh tanpa pemilik" dari kepolisian.

Laporan itu juga menyebut sebagian jenazah diduga merupakan narapidana yang dieksekusi dan masih memiliki bekas luka tembak.

Setelah laporan tersebut terbit, von Hagens disebut meminta stafnya menghentikan penerimaan jenazah hasil eksekusi.

Selain dikenal lewat karyanya, von Hagens juga memiliki penampilan khas dengan topi fedora dan rompi kulit, sehingga kerap digambarkan sebagai perpaduan ilmuwan eksentrik dan ahli forensik.

Saat penyakit Parkinson mulai mengganggu kemampuan berbicara dan motoriknya, ia menyerahkan pengelolaan organisasi serta keuangan kepada istrinya dan putranya, Rurik.

Dalam tulisan yang diterbitkan pada 2018, von Hagens juga mengungkapkan pandangannya tentang kematian.

"Saya berharap bisa percaya pada Tuhan dan kehidupan setelah mati. Namun saya tidak berpikir ada kelanjutan setelah kematian. Setiap tubuh yang saya lihat setelah meninggal menunjukkan kepada saya bahwa jiwa sudah tidak ada. Saya tidak percaya ada sesuatu yang tersisa dari diri kita setelah kita meninggal," tulisnya.