Abu Vulkanik Bisa Bikin Tekanan Darah Pasien Hipertensi Naik

Abu vulkanik mengandung partikel mikro yang bisa meningkatkan tekanan darah pasien hipertensi dan jantung.

Diterbitkan 14 September 2026, 16:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Erupsi gunung berapi tidak hanya meninggalkan dampak pada lingkungan, tapi juga dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang akibat paparan abu vulkanik. Selain mengganggu sistem pernapasan dan paru-paru, paparan material erupsi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, terutama pada pasien hipertensi dan orang yang memiliki riwayat penyakit jantung.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Decsa Medika Hartanto, menjelaskan bahwa abu vulkanik berbeda dengan abu hasil pembakaran biasa.

Material yang keluar dari perut bumi tersebut mengandung partikel mikroskopis yang bersifat tajam, seperti silika dan pecahan kaca. Ketika partikel berukuran 2,5 mikron atau PM2.5 terhirup dan masuk ke saluran pernapasan, dampaknya tidak hanya terbatas pada paru-paru, tetapi juga dapat memengaruhi sistem sirkulasi dan pembuluh darah.

Menurut Decsa, abu vulkanik juga dapat memberikan dampak langsung terhadap sistem kardiovaskular, salah satunya dengan meningkatkan tekanan darah.

"Terkait dengan abu vulkanik, abu vulkanik itu bukan abu biasa ya, jadi di dalamnya itu ada silika, ada kandungan kaca dan lain-lain. Itu selain bisa merusak paru, ternyata bisa menyebabkan gangguan jantung, salah satunya bisa meningkatkan tekanan darah," terang dokter dalam acara 'World Heart Day 2026: Keep On with Healthy Habits, Live On with Purpose' oleh OMRON Indonesia di Jakarta pada Jumat, 11 September 2026.

Paparan PM2.5 Bisa Meningkatkan Kekentalan Darah

Salah satu mekanisme yang dapat menyebabkan tekanan darah meningkat setelah terpapar abu vulkanik berkaitan dengan perubahan pada pembuluh darah dan kekentalan darah.

Decsa menjelaskan, partikel PM2.5 yang terhirup dapat memicu reaksi inflamasi di dalam tubuh. Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan resistensi pembuluh darah dan membuat darah menjadi lebih kental.

Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah sehingga tekanan darah dapat meningkat.

"Karena partikel yang dihirup, terutama PM2.5, itu bisa menyebabkan kekentalan pembuluh darahnya menjadi lebih, sehingga tekanan darahnya otomatis lebih tinggi," ungkap Decsa.

Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi orang yang sudah memiliki diagnosis hipertensi. Paparan abu vulkanik dapat membuat tekanan darah yang sebelumnya sudah tidak stabil menjadi semakin mudah naik.

Risiko Rawat Inap Pasien Hipertensi Bisa Meningkat

Menurut Decsa, kondisi ini juga berkaitan dengan meningkatnya risiko seseorang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, terutama pada pasien yang memiliki hipertensi.

"Jadi risiko terjadi peningkatan masuk rumah sakit cukup tinggi. Karena ‘kan, (misal) dia punya hipertensi, tekanan darahnya gampang naik turun, begitu dia menghirup paparan asap, jadi bisa naik," tambah Decsa.

Oleh karena itu, paparan asap maupun abu vulkanik perlu menjadi perhatian, khususnya bagi pasien hipertensi dan orang dengan riwayat penyakit jantung. Kondisi tekanan darah yang meningkat setelah paparan membutuhkan perhatian dan penanganan yang sesuai.