Retina Mata Bisa Membantu Deteksi Risiko Beragam Penyakit Sejak Dini

Retina mata kini bisa membantu deteksi risiko beragam penyakit sejak dini. Simak penjelasannya.

Diterbitkan 06 Agustus 2026, 15:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan teknologi kini turut mengubah cara masyarakat memeriksa kesehatan mata. Jika sebelumnya pemeriksaan mata saat membeli kacamata umumnya hanya untuk mengetahui ukuran minus, plus, atau silinder, kini pemeriksaan retina juga dapat dimanfaatkan untuk membantu mendeteksi risiko berbagai penyakit kronis.

Jurnalis Kesehatan Liputan6.com berkesempatan menjajal AirDoc, teknologi skrining retina berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang digunakan Optik Melawai. AirDoc (Air Doctor) memanfaatkan fundus camera untuk mengambil gambar retina, lalu menganalisisnya menggunakan sistem AI.

President Director Optik Melawai, Eddyanto Hadisurjo menjelaskan bahwa gambar retina akan dikirim ke sistem AI di Beijing, China, untuk dianalisis. Hasilnya kemudian dikirim kembali kepada petugas dan dapat diteruskan kepada pelanggan melalui email.

"Jadi, ini sebenarnya fundus camera yang di-connect ke AI. AI-nya ada di Beijing, China," kata Eddyanto kepada Kesehatan Liputan6.com di sela-sela Eyewear Exhibition 45 Year Anniversary di Senayan City, Kamis, 6 Agustus 2026.

Retina Bisa Menjadi Jendela Kesehatan

Menurut Eddyanto, retina dipilih karena pembuluh darah dan saraf di bagian belakang mata tersebut terhubung dengan jantung dan otak. Oleh sebab itu, berbagai kelainan pada mata maupun kondisi kesehatan tubuh dapat diamati melalui retina secara cepat dan noninvasif.

Kamera fundus akan mengambil gambar retina, kemudian sistem AI menganalisis gambar tersebut untuk menghasilkan laporan skrining hanya dalam beberapa menit.

Namun, Eddyanto menegaskan bahwa AirDoc bukan alat diagnosis, melainkan alat skrining yang membantu mendeteksi dini risiko penyakit sehingga pengguna dapat segera menjalani pemeriksaan lanjutan.

"Ini kan bukan buat diagnosis, ya, tapi mendeteksi," ujarnya.

Bisa Mendeteksi Risiko Penyakit Mata dan Penyakit Kronis

Alat ini dapat membantu melakukan skrining terhadap enam penyakit mata, yaitu:

  • Diabetic retinopathy (retinopati diabetik)
  • Hypertensive retinopathy (retinopati hipertensi)
  • Glaukoma
  • Age-related macular degeneration (AMD)
  • Pathological myopia
  • Retinal detachment (ablasio retina)

Selain itu, teknologi ini juga membantu mendeteksi risiko berbagai penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, gagal jantung, hingga anemia berdasarkan analisis retina.

Hasil Keluar dalam Hitungan Menit

Setelah menjajal AirDoc, jurnalis Kesehatan Liputan6.com hanya perlu menunggu beberapa menit hingga hasil pemeriksaan keluar.

Meski hasil skrining menunjukkan berbagai indikator kesehatan berada dalam kategori relatif aman, Eddyanto mengingatkan bahwa hasil tersebut tidak dapat disamakan dengan diagnosis medis.

"Kalau terbiasa MCU, coba dicocokkan. Yang terpenting, ini bukan untuk mendiagnosis," katanya.

Dia juga menceritakan pengalaman salah satu mitra asuransi yang tidak mengetahui dirinya memiliki kadar gula darah sangat tinggi.

Saat menjalani skrining menggunakan AirDoc, hasilnya menunjukkan risiko tinggi sehingga ia segera dirujuk ke rumah sakit. Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan, kondisi tersebut terbukti benar dan pasien langsung mendapatkan perawatan.

Menurut Eddyanto, pengalaman itu menunjukkan pentingnya skrining kesehatan sebagai langkah awal untuk menemukan potensi penyakit sebelum menimbulkan komplikasi.

Selain cepat, pemeriksaan retina menggunakan alat tersebut juga tidak memerlukan pengambilan sampel darah maupun prosedur yang menimbulkan rasa sakit.

"Kalau ke laboratorium kan harus ditusuk (suntik). Kalau ini enggak sakit dan enggak usah mengantre lama. Hasilnya dalam 10 menit sudah ada," ujarnya.

Meski demikian, Eddyanto kembali menekankan bahwa hasil AirDoc tidak menggantikan pemeriksaan maupun diagnosis dokter. Jika ditemukan indikasi tertentu, pengguna tetap disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

Dorong Masyarakat Rutin Periksa Mata

Eddyanto mengatakan penggunaan gawai yang semakin masif sejak usia dini membuat kesadaran menjaga kesehatan mata harus ditingkatkan. Salah satu kondisi yang menjadi perhatian adalah meningkatnya kasus miopia atau mata minus pada anak.

Karena itu, Optik Melawai menyediakan lensa dengan teknologi myopia management dan terus mendorong orang tua agar rutin memeriksakan kesehatan mata anak.

"Kami ingin mengubah kebiasaan masyarakat dari 'periksa mata ketika sudah ada keluhan' menjadi 'periksa mata secara rutin sebagai bagian dari preventive healthcare'," katanya.

AI untuk Meningkatkan Layanan

Optik Melawai juga terus mengembangkan layanan kesehatan mata yang lebih komprehensif, mulai dari pemeriksaan mata dengan teknologi modern, skrining dini katarak, retinal imaging berbasis AI, hingga layanan Mobile Optik Melawai yang menghadirkan pemeriksaan mata langsung ke perusahaan dan berbagai kegiatan masyarakat.

Menurut Eddyanto, AI akan semakin berperan dalam meningkatkan kualitas pelayanan. Namun, teknologi tersebut tetap diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti tenaga kesehatan.

"Prinsip kami sederhana, AI should make our people better, and make our customers' experience better. Teknologi harus membantu manusia mengambil keputusan yang lebih baik dan memberikan pelayanan yang lebih baik," pungkasnya.