Coach Valast Bongkar Cara Menekuni Olahraga Lari Tanpa Bikin Boncos

Coach Valast membongkar anggapan olahraga lari mahal dan membagikan cara hemat untuk tetap aktif.

Diterbitkan 12 Agustus 2026, 16:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Olahraga lari kerap dianggap sebagai aktivitas yang membutuhkan biaya besar. Selain sepatu khusus, pelari juga sering menggunakan smartwatch, pakaian olahraga, hingga perlengkapan lain untuk menunjang aktivitasnya.

Namun, anggapan bahwa olahraga lari harus mahal tidak sepenuhnya benar. Pelatih lari profesional dan pacemaker berpengalaman, Coach Valast, mengatakan, biaya untuk menekuni olahraga lari sebenarnya bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

"Sebenarnya kan semua itu kan kita yang menentukan," ujar Coach Valast.

Menurut Direktur Program untuk Campaign SGIM 2026 tersebut pelari tidak harus membeli smartwatch dengan harga tinggi. Jam olahraga dapat dipilih sesuai kebutuhan, terutama apabila digunakan untuk memantau heart rate atau detak jantung.

"Kalau misalnya jam, bisa pakai yang biasa, kok. Menurut saya, yang penting jam tersebut bisa digunakan untuk memantau heart rate. Harganya juga beragam, jadi tinggal pilih sesuai kebutuhan dan kemampuan," tambahnya.

Dia juga menyarankan pelari untuk pintar mencari momentum ketika membeli perlengkapan olahraga. Salah satunya dengan memanfaatkan diskon ketika produk baru mulai bermunculan.

"Terus kemudian kadang-kadang akhir tahun, kalau misalnya sudah datang tipe baru, yang lama kan diskon. Cari diskon dong," katanya.

Hal yang sama berlaku untuk sepatu lari. Menurut Coach Valast, pelari tidak perlu memiliki banyak sepatu. Satu sepatu pun sudah cukup untuk menunjang latihan, selama sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.

Dia juga menyarankan pelari memanfaatkan outlet guna mendapatkan pakaian olahraga dengan harga lebih terjangkau. Dengan begitu, kebutuhan perlengkapan tetap dapat dipenuhi tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

"Jangan lupa ada outlet, bisa dapatnya Rp 200 ribu. Saya juga sering juga pergi outlet. Wah, murah, nih. Kan orang nggak tahu kalau kita belinya di outlet. Jadi nggak mahal juga," katanya.

 

Tidak Harus Ikuti Gaya Hidup yang Mahal

Selain perlengkapan, biaya mengikuti lomba lari juga menjadi pertimbangan bagi sebagian pelari. Coach Valast menilai masyarakat tetap dapat mengikuti ajang lari dengan mengatur keuangan dan menyesuaikannya dengan gaya hidup.

"Kalau di Indonesia kan masih bisa kita nabung. Minimal dalam setahun bisa ikut dua kali lomba, dengan biaya sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu," tambahnya.

Coach Valast menekankan bahwa menekuni olahraga lari tidak harus mengikuti gaya hidup yang mahal. Pelari dapat menentukan sendiri perlengkapan dan aktivitas yang sesuai dengan kondisi finansial.

"Semuanya hanya tergantung lifestyle. Sepatu juga nggak harus banyak-banyak. Satu juga cukup," katanya.

Dia pun mengajak masyarakat yang baru ingin memulai olahraga lari untuk tidak terlalu memikirkan perlengkapan mahal.

Aktivitas sederhana seperti berjalan cepat selama 30 menit secara konsisten sudah bisa menjadi langkah awal.

"Semoga menular nih ke teman-teman media nih. Minimal sudah mulai jalan pagi 30 menit," ujarnya.

Menurut Coach Valast, olahraga pada dasarnya merupakan aktivitas yang dilakukan secara konsisten dalam kurun waktu tertentu.

Oleh sebab itu, konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar memiliki perlengkapan olahraga dengan harga mahal.

"Olahraga adalah kegiatan yang dilakukan secara konsisten dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, dilakukan selama 30 menit secara konsisten, itu sudah termasuk olahraga," pungkasnya.

Â