Konsep Olahraga yang Benar: Tidak Bisa Bangun Tidur Langsung Lari

Olahraga tak bisa asal, harus teratur, terukur, dan sesuai tujuan tubuh.

Diterbitkan 21 Juni 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang mengira olahraga bisa dilakukan secara spontan begitu bangun tidur. Misalnya, langsung berlari tanpa pemanasan atau persiapan apa pun. Padahal, menurut Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Kurza Mulyani, MMRS, Sp.KO, konsep latihan fisik yang benar tidak sesederhana itu.

Dia menekankan bahwa olahraga harus dilakukan dengan prinsip yang tepat, mulai dari intensitas, jenis latihan, hingga waktu pelaksanaan.

"Kalau kita mau yang aman untuk kesehatan, latihan fisik harus dilakukan dengan baik, benar, teratur, dan terukur. Jadi bukan hanya saat sempat atau tiba-tiba bangun tidur langsung lari," ujarnya.

Menurut Kurza, tubuh tidak bisa langsung dipaksa melakukan aktivitas berat setelah bangun tidur. Tubuh masih membutuhkan waktu untuk 'pemanasan' agar sistem otot, jantung, dan metabolisme siap bekerja optimal.

Jika langsung berlari tanpa persiapan, risiko cedera hingga gangguan fisiologis bisa meningkat, terutama pada orang yang tidak rutin berolahraga.

Rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kementerian Kesehatan RI, hingga American College of Sports Medicine (ACSM) menyebutkan bahwa latihan fisik idealnya berada pada intensitas sedang hingga berat, tapi harus disesuaikan dengan kondisi dan tujuan.

"Intensitas sedang itu untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau intensitas berat bisa membantu menurunkan berat badan, tapi harus pada kondisi tubuh yang sudah stabil," ujarnya.

Intensitas sedang umumnya berada pada kisaran 60 hingga 80 persen dari denyut nadi maksimal.

 

Jenis Latihan Perlu Seimbang

Dalam prinsip latihan, terdapat kombinasi antara aerobik, latihan beban, dan fleksibilitas.

  • Aerobik: 3–5 kali per minggu, minimal 30 menit
  • Latihan beban: 2–3 kali per minggu
  • Fleksibilitas: rutin, bahkan bisa dilakukan saat terlalu lama duduk

Namun, semuanya tetap harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.

"Bukan apa yang kita mau sebagai tenaga medis, tapi apa yang bisa dilakukan pasien atau individu tersebut. Tujuannya untuk memperbaiki kesehatan mereka," ujarnya.

Waktu Olahraga Tidak Harus Pagi

Banyak orang menganggap pagi adalah waktu terbaik untuk olahraga. Menurut Kurza, pagi memang ideal karena tubuh masih segar. Namun, olahraga tetap bisa dilakukan kapan saja.

"Olahraga bisa pagi, siang, sore, atau malam. Yang penting tidak mengganggu waktu istirahat dan dilakukan secara teratur," katanya.

Untuk olahraga malam, tetap perlu jeda sekitar dua jam sebelum tidur karena tubuh membutuhkan waktu cooling down setelah aktivitas fisik.

"Kuncinya adalah teratur dan terukur. Bukan dilakukan hanya saat ingin, tapi harus menjadi kebiasaan," pungkasnya.