Batuk dan Pilek Tak Kunjung Membaik, Waspadai Tanda ISPA Makin Berat

Wajib tahu gejala ISPA yang makin berat. Termasuk bila ada ngik-ngik alias mengi pada anak.

Diterbitkan 04 September 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Batuk dan pilek menjadi gejala yang umum muncul saat seseorang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Namun, keluhan tersebut perlu mendapat perhatian apabila tidak kunjung membaik atau justru disertai gejala yang semakin berat.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan paru, Ika Trisnawati, dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, mengatakan ISPA akibat paparan debu dan asap sesaat umumnya membaik dalam 3-5 hari. 

Apabila keluhan tidak membaik setelah beberapa hari atau justru semakin berat maka sebaiknya segera memeriksakan diri. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain demam yang tidak kunjung turun, dahak semakin banyak dan berubah warna menjadi kekuningan, serta sesak napas yang memburuk.

Terkhusus pada anak-anak bila disertai dengan gejala suara mengi atau “ngik-ngik” saat bernapas perlu segera diperiksakan.

“Pemeriksaan dapat dimulai di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau layanan kesehatan primer. Patokannya bukan ISPA dari infeksi virus atau bakteri itu mana yang paling berat, tetapi pada gejalanya,” ujar Ika mengutip laman UGM, Jumat (4/9/2026).

Pada kasus ISPA, Ika mengatakan orangtua perlu lebih memperhatikan kondisi anak ketika mengalami ISPA. Pasalnya, saluran pernapasan anak masih berkembang dan memiliki diameter yang lebih kecil dibandingkan orang dewasa.

Kondisi tersebut membuat saluran napas anak lebih mudah mengalami penyumbatan ketika terjadi peradangan atau penumpukan dahak.

“Kalau terkena infeksi virus seperti influenza ataupun masuk partikel debu, kalau terjadi peradangan, tersumbat oleh dahak, lebih mudah sesak dibanding yang saluran napasnya diameternya lebih besar, yaitu pada usia dewasa,” tuturnya.

Mencegah Terpapar ISPA di Musim Kemarau

Ika menjelaskan, peningkatan kasus gangguan saluran pernapasan, termasuk ISPA, cenderung terjadi selama musim kemarau. Saat kondisi kering, partikel debu dari tanah maupun udara lebih mudah terbawa angin dan masuk ke saluran pernapasan.

“Adanya peningkatan ISPA di periode musim kemarau itu karena pada saat kemarau tentu saja akan banyak partikel debu. Partikel-partikel debu kecil yang terbawa oleh angin berada di udara bebas dan kemudian terhirup di pernapasan,” jelasnya.

Untuk mengurangi risiko itu, ia menyarankan untuk mengurangi paparan debu dan asap. Penggunaan masker dapat membantu mengurangi paparan ketika harus beraktivitas di lingkungan yang berdebu atau berasap.

Ika juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari pembakaran sampah, terutama pada musim kemarau. Selain itu, menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan bergizi, olahraga di lingkungan yang minim paparan debu dan asap, serta istirahat yang cukup juga penting dilakukan sebagai langkah pencegahan ISPA.