Demam dan Menggigil Bisa Jadi Gejala Malaria, Kenali Tanda Lainnya

Malaria disebabkan oleh parasit dari gigitan nyamuk. Gejalanya awal seperti flu, sehingga memerlukan perhatian lebih. Pahami gejalanya lebih jauh di sini.

Diterbitkan 30 Oktober 2026, 14:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Malaria masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia dan global.Hingga Juli 2026, Indonesia mencatat 346.866 kasus malaria, sementara secara global pada 2024 tercatat 282 juta kasus dengan 610 ribu kematian.

Mengingat adanya risiko kematian dari malaria maka penting untuk mengenali gejala penyakit akibat parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk terinfeksi.

Mengutip Cleveland Clinic, Jumat (30/10/2026), gejala awal malaria meliputi demam disertai menggigil, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh lemas.

Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila tidak segera mendapatkan penanganan. 

Gejala Malaria yang Harus Diwaspadai

Gejala malaria dapat muncul beberapa hari hingga satu bulan setelah seseorang terinfeksi. Namun, pada sebagian orang, tanda-tanda penyakit bahkan baru dirasakan setelah satu tahun atau lebih sejak gigitan nyamuk terjadi.

Pada tahap awal, gejala malaria sering menyerupai flu. Namun lebih dari itu, pasien juga dapat mengalami beberapa gangguan pencernaan, seperti diare, mual, dan muntah.

Pada kondisi yang lebih berat, malaria dapat menyebabkan kesulitan bernapas, kejang, kulit atau bagian putih mata menguning (jaundice), hingga urine berwarna gelap atau mengandung darah.

Jika tidak ditangani, infeksi malaria dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti malaria serebral akibat gangguan pada pembuluh darah di otak, koma, hingga kegagalan organ.

Selain melalui gigitan nyamuk, penularan juga dapat terjadi dalam kondisi tertentu melalui kehamilan atau persalinan, transfusi darah, donor organ, serta penggunaan jarum suntik secara bergantian.

Upaya Mencegah Malaria

Pencegahan malaria dapat dilakukan dengan mengurangi risiko gigitan nyamuk, terutama ketika bepergian ke wilayah yang memiliki penularan malaria.

Disarankan pula menggunakan losion atau semprotan antinyamuk yang mengandung DEET, mengenakan pakaian yang menutupi sebagian besar permukaan kulit, serta tidur menggunakan kelambu.

Bagi orang yang hendak bepergian ke daerah endemis malaria, dokter juga dapat meresepkan obat antimalaria untuk dikonsumsi sebelum, selama, dan setelah perjalanan. Jenis serta penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan tujuan perjalanan.

Jika seseorang tinggal atau baru bepergian dari wilayah endemis malaria kemudian mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tersebut, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

Diagnosis malaria dilakukan melalui pemeriksaan sampel darah untuk mendeteksi parasit sekaligus mengetahui jenis infeksinya.

Malaria dapat diobati menggunakan obat antimalaria yang bekerja membunuh parasit penyebab infeksi. Penanganan sedini mungkin penting untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan peluang pemulihan.