Dokter Jelaskan Alasan Monkey Malaria Tidak Mudah Menular di Kebun Binatang

Banyak monyet di kebun binatang, tapi dokter sebut monkey malaria tidak mudah menular. Apa alasannya?

Diterbitkan 17 Mei 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter anak konsultan infeksi dan penyakit tropis, Inke Nadia Diniyanti Lubis mengatakan bahwa potensi penularan monkey malaria alias malaria knowlesi di kebun binatang cenderung rendah.

"Apakah kebun binatang bisa menjadi tempat yang berpotensi? Sebetulnya tidak, karena biasanya kebun binatang ini lokasinya berada di kota," kata Inke kepada Kesehatan Liputan6.com dalam diskusi daring (dalam jaringan) pada Rabu, 13 Mei 2026.

Inke, menjelaskan, malaria knowlesi adalah malaria zoonotik disebabkan oleh parasit Plasmodium knowlesi (P. knowlesi) yang alaminya menginfeksi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina), lalu menular ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles kelompok leucosphyrus.

Artinya, nyamuk lebih dulu menggigit monyet yang terinfeksi kemudian menggigit manusia. Nyamuk jenis ini hidup di hutan atau kebun di pinggir hutan dan tidak ditemukan di lingkungan perkotaan.

Meski di kebun binatang ada monyet ekor panjang atau beruk, tapi jika tidak ada nyamuk Anopheles kelompok leucosphyrus, maka penularan malaria knowlesi tidak akan terjadi.

"Jadi ini sangat tergantung dari vektor nyamuknya, apakah nyamuknya ada atau tidak, biasanya tidak ada di daerah perkotaan. Tentunya risiko penularan dari monyet ke manusia itu sangat rendah," kata dokter dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu.

Masa Inkubasi Malaria Knowlesi

Inke menambahkan bahwa malaria knowlesi dapat ditandai dengan munculnya gejala demam. Apalagi jika memiliki riwayat pergi ke hutan dalam satu hingga dua pekan ke belakang.

"Biasanya masa inkubasinya itu satu sampai dua minggu. Makanya, ketika seseorang pulang dari tempat yang berisiko tinggi untuk penularan lalu muncul gejala malaria --- demam, sakit kepala, berkeringat, menggigil --- tentunya perlu kita tanyakan riwayat perjalanannya," ujar Inke.

"Jadi satu sampai dua minggu setelah gigitan baru muncul gejala dan ini tidak berbeda dengan malaria jenis lainnya," tambahnya.

Gejala lain yang dapat muncul akibat malaria knowlesi adalah:

  • Demam, pagi turun, malam naik lagi
  • Menggigil, berkeringat
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot dan sendi
  • Lemas, mual, muntah
  • Batuk ringan dan nyeri perut.

"Karena siklus hidup (parasit Plasmodium knowlesi) sangat cepat, maka dia dapat dengan cepat menambah jumlah parasit di dalam tubuh sehingga infeksi bisa menjadi berat dengan cepat," kata Inke.

Pasien harus waspada ketika timbul gejala-gejala berikut:

  • Trombosit turun cepat dan mudah memar
  • Napas cepat atau sesak
  • Air kencing sedikit dan pekat
  • Kuning pada mata atau kulit
  • Penurunan kesadaran.

Cara Tangani Malaria Knowlesi

Kabar baiknya, malaria knowlesi bisa disembuhkan, tapi penanganannya harus cepat.

"Malaria knowlesi masih bisa disembuhkan jika cepat ditangani. Pemberian obatnya sama dengan jenis obat malaria lain yang diberikan di Indonesia yakni Artemisinin-based Combination Therapy (ACT)," kata Inke.

"Tetapi tentunya ini harus segera ditangani, lebih baik ketika terjadi diagnosis maka pemberian obat itu diberikan dalam 48 jam untuk mencegah jangan sampai terjadi infeksi yang berat," tambahnya.

Inke, menambahkan, deteksi cepat adalah kunci dan sebagian besar pasien dapat pulih bila terapi dimulai pada awal sakit. Dia mengingatkan untuk menghindari pengobatan sendiri dengan antibiotik, karena malaria tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik, melainkan harus dengan anti malaria.

Masyarakat juga diimbau untuk berhenti menganggap setiap gejala demam adalah demam berdarah dengue (DBD) atau flu, karena bisa saja ini merupakan gejala malaria knowlesi terutama jika ada riwayat pergi ke hutan. Pemeriksaan pun tidak boleh ditunda-tunda jika muncul gejala setelah pulang dari hutan.

"Untuk malaria knowlesi ini memang kita belum memiliki data yang cukup, kita belum mengetahui obat mana yang efektif untuk melakukan pencegahan. Jadi, rekomendasi untuk meminum obat-obat profilaksis atau obat-obat pencegah saat ini belum direkomendasikan," kata Inke.