Laporan Liputan6.com dari Thailand: Perusahaan Kemasan Farmasi Jerman Kepincut Indonesia

Sanner membuka peluang investasi di Indonesia seiring besarnya potensi pasar industri kesehatan nasional.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bangkok - Perusahaan global penyedia solusi kemasan farmasi, Sanner Group, tengah mengkaji peluang investasi jangka panjang di Indonesia, termasuk kemungkinan membangun pabrik. Perusahaan asal Jerman tersebut saat ini telah memiliki sejumlah fasilitas produksi di berbagai negara, termasuk di China yang menjadi basis untuk melayani pasar Asia Pasifik.

Business Development Manager Sanner, Noviyan Permadi, mengatakan, keikutsertaan perusahaan dalam International Healthcare Week (IHW) 2026 di Bangkok bukan untuk mengejar target nilai transaksi. Menurut dia, ajang tersebut dimanfaatkan untuk membuka peluang kerja sama baru sekaligus memperkuat hubungan dengan pelanggan.

"Kalau kami belum berpikir ke arah situ ya untuk mencapai target transaksi. Sebenarnya kita lebih banyaknya mencari opportunity bisnis yang baru," ujar Noviyan saat ditemui jurnalis Liputan6.com, Mevi Linawati, di pameran CPHI, Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC), Bangkok, beberapa waktu lalu.

Sanner bergerak di bidang pengembangan perangkat medis dan solusi kemasan farmasi. Sekitar 80 s.d 85 persen bisnis perusahaan berasal dari industri farmasi, sedangkan sisanya berasal dari sektor kosmetik dan industri lainnya.

Salah satu produk unggulan Sanner adalah kemasan yang dilengkapi desikan (silica gel) terintegrasi di dalam wadah. Teknologi ini dirancang untuk menjaga kualitas obat atau suplemen tanpa membuat silica gel bersentuhan langsung dengan produk di dalam kemasan.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar Asia Pasifik, Sanner mengandalkan fasilitas produksinya di China. Dari negara tersebut, perusahaan memasok produk ke berbagai negara ASEAN, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Di Indonesia, Sanner paling banyak memasok kemasan untuk produk effervescent. Selain itu, perusahaan juga menyediakan kemasan untuk tablet, kapsul, dan botol. Noviyan menyebut pasar Indonesia berkontribusi lebih dari 10 persen terhadap total bisnis yang dilayani dari fasilitas produksi Sanner di China.

 

Bangun Pabrik di Indonesia

Meski begitu, mayoritas pelanggan Sanner di Indonesia masih berasal dari sektor swasta. Perusahaan belum banyak menggarap proyek pemerintah karena belum memiliki fasilitas produksi di Indonesia, sehingga belum dapat memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Noviyan mengatakan peluang membangun pabrik di Indonesia tetap terbuka. Saat ini Sanner masih melakukan feasibility study atau studi kelayakan untuk menilai kemungkinan investasi tersebut.

Menurutnya, keputusan membangun pabrik merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan kajian menyeluruh, baik dari sisi bisnis maupun potensi pasar.

"Tentunya kan kita melihatnya kan dari sisi pasarnya, dengan populasi yang 250 juta lebih, bukan sesuatu yang kecil ya. Pasti kami akan terus pertimbangkan," kata Noviyan.

Selain potensi pasar, Sanner juga melihat prospek industri kesehatan Indonesia yang terus berkembang sebagai daya tarik bagi investor asing.

Di sisi lain, perusahaan mengakui kondisi geopolitik global turut berdampak pada biaya produksi. Kenaikan harga minyak dunia menyebabkan harga bahan baku plastik ikut meningkat.

"Pasti kita mengalami kenaikan, dan untungnya customer kami mengerti. Mereka memberikan sesuatu kayak konsiderasi lah gitu ya untuk sementara bahwa memang akan menjadi kenaikan harga," ujar Noviyan.

 

IHW 2026 Jadi Ajang Menarik Investor Asing

Sementara itu, President Commissioner PT Inspiry Indonesia Konsultan, Asrul Sani, mengatakan kehadirannya di IHW 2026 bertujuan meningkatkan kepercayaan perusahaan asing agar mau berinvestasi di Indonesia, khususnya di sektor alat kesehatan.

Menurut Asrul, pihaknya ingin menunjukkan bahwa regulasi bisnis alat kesehatan di Indonesia tidak serumit yang dibayangkan. Dengan semakin banyak perusahaan asing masuk, diharapkan persaingan usaha menjadi lebih sehat sekaligus mendorong transfer teknologi.

Dia mengatakan kehadiran langsung dalam pameran internasional menjadi kesempatan untuk menjelaskan regulasi, kondisi pasar, hingga potensi Indonesia yang memiliki hampir 300 juta penduduk dan lebih dari 3.000 rumah sakit.

"Kita juga ingin teman-teman dari luar negeri masuk. Kita bantu supaya tidak ada eksklusivitas sehingga harga lebih terjangkau, kompetisi semakin bagus, dan kita bisa membangun ketahanan industri alat kesehatan dalam negeri. Selain itu, ada transfer knowledge dan teknologi sehingga mereka lebih percaya untuk berinvestasi," kata Asrul.

Asrul mengakui masih ada tantangan dalam menarik investor asing ke Indonesia. Namun, dia menilai Indonesia memiliki daya tarik tersendiri, mulai dari besarnya jumlah penduduk hingga karakter masyarakat yang ramah.

Menurut dia, masuknya investor asing juga akan mempercepat modernisasi teknologi alat kesehatan sekaligus menciptakan persaingan harga yang lebih kompetitif.

Asrul menilai masih banyak perusahaan luar negeri yang ragu masuk ke Indonesia karena minimnya informasi mengenai kondisi terkini.

"Dan itu bukan salah mereka juga karena mereka menilai Indonesia itu seperti 20 tahun yang lalu. Jadi apa yang mereka dapat ya itu saja yang mereka pikir di Indonesia. Apa yang mereka dapat Indonesia itu nggak aman ya nggak aman saja gitu. Padahal kita biasa-biasa saja," pungkasnya.