OCD Bukan Sekadar Suka Bersih dan Rapi, Ini Tanda yang Perlu Dikenali

Jangan self-diagnosis, bila menemui gejala berikut sebaiknya ke psikolog atau psiakiater untuk mengetahui OCD atau bukan.

Diterbitkan 31 Oktober 2026, 11:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di masyarakat kerap dikaitkan orang yang rapi, bersih dan teratur disebut dengan OCD atau Obsessive-compulsive disorder (OCD). Padahal OCD itu adalah suatu kondisi gangguan mental yang sampai mengganggu aktivitas hidup seseorang.  

OCD ditandai dengan munculnya obsesi, kompulsi, atau keduanya seperti disampaikan dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Agung Minto Wahyu, SM, SPsi, MSi.

Obsesi adalah pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang muncul berulang kali, tidak diinginkan, dan sulit dikendalikan.

Sementara itu, kompulsi merupakan perilaku atau tindakan mental yang dilakukan berulang kali sebagai respons terhadap obsesi atau untuk mengatasi kecemasan yang dirasakan.

“OCD menjadi gangguan ketika gejalanya menyita waktu secara signifikan, menimbulkan tekanan, atau mengganggu fungsi kehidupan seseorang, seperti pekerjaan, studi, maupun hubungan sosial,” kata Agung dikutip dari laman IPB pada Sabtu (31/10/2026).

Mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR), obsesi dan kompulsi yang menyita waktu lebih dari satu jam sehari dapat menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan.

Gejala OCD Tidak Selalu Terlihat

Agung menerangkan, gejala OCD juga tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang dapat mengalami kekhawatiran berlebihan terhadap kotoran, keraguan berulang, kebutuhan agar sesuatu terasa benar, hingga pikiran yang tidak diinginkan tentang menyakiti diri sendiri atau orang lain.

“Pada sisi kompulsi, gejalanya dapat berupa mencuci tangan berkali-kali, memeriksa sesuatu secara berulang, mengulang kata atau hitungan dalam pikiran, hingga terus-menerus meminta kepastian dari orang lain,” ungkapnya.

Siklus yang Sulit Dihentikan

OCD dapat membentuk siklus yang sulit dihentikan. Pikiran mengganggu memunculkan kecemasan, kemudian seseorang melakukan tindakan tertentu untuk meredakannya.

Rasa lega yang muncul hanya bersifat sementara sehingga ketika pikiran tersebut kembali, dorongan untuk mengulangi tindakan yang sama dapat muncul lagi.

“Kesulitannya bukan sekadar karena seseorang terlalu banyak berpikir. Ada pola yang membuat pikiran, kecemasan, dan respons kompulsif saling memperkuat,” ujarnya.

 

Penyebab

OCD tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Faktor biologis, psikologis, dan lingkungan dapat berperan dalam meningkatkan kerentanan seseorang. Namun, memiliki riwayat keluarga dengan OCD atau mengalami stres tidak berarti seseorang pasti mengalami gangguan tersebut.

Agung mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan diagnosis mandiri hanya berdasarkan kebiasaan atau gejala yang dirasakan.

Jika pikiran dan perilaku berulang mulai sulit dikendalikan, menimbulkan tekanan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, seseorang sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Penanganan OCD dapat dilakukan melalui psikoterapi, penggunaan obat sesuai evaluasi psikiater, atau kombinasi keduanya. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT), khususnya Exposure and Response Prevention (ERP), yang membantu individu menghadapi pemicu kecemasan secara bertahap tanpa melakukan kompulsi.

“Dengan penanganan yang tepat dan konsisten, OCD dapat dikelola sehingga gejalanya tidak harus terus-menerus mengendalikan kehidupan seseorang,” pungkasnya.