Pramono Optimistis RS di Jakarta Bisa Kurangi Tren Berobat ke Luar Negeri

Pramono optimistis RS di Jakarta mampu menekan tren masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri.

Diterbitkan 09 Juli 2026, 17:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, berharap masyarakat tidak lagi menjadikan rumah sakit di luar negeri sebagai pilihan utama untuk mendapatkan layanan kesehatan. Menurutnya, peningkatan kualitas rumah sakit di Indonesia harus mampu memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa layanan medis berstandar internasional kini dapat diperoleh di dalam negeri.

Harapan tersebut disampaikan Pramono saat meresmikan Mayapada Hospital Jakarta Timur pada Kamis (9/7/2026). Dia menilai kehadiran rumah sakit modern dengan fasilitas dan tenaga medis berkualitas menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap layanan kesehatan di negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

"Saya berharap bahwa ini dapat menjadi pilihan bagi warga kita yang selama ini rumah sakitnya mau di Penang, di Singapura, atau jauh-jauh. Di Jakarta saja," ujar Pramono dalam sambutannya.

Fenomena masyarakat Indonesia yang masih memilih berobat ke luar negeri selama ini menjadi perhatian pemerintah. Oleh sebab itu, rumah sakit di dalam negeri terus didorong meningkatkan mutu pelayanan, melengkapi fasilitas kesehatan, serta menghadirkan tenaga medis yang kompeten agar mampu bersaing dengan rumah sakit di luar negeri.

Pramono, mengatakan, pembangunan infrastruktur kesehatan yang berkualitas juga sejalan dengan transformasi Jakarta sebagai kota global dan pusat perekonomian. Menurutnya, ketersediaan layanan kesehatan yang modern menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat daya saing ibu kota.

 

Pemerataan Akses Layanan di Kawasan Padat Penduduk

Selain meningkatkan kualitas layanan kesehatan, kehadiran Mayapada Hospital Jakarta Timur juga ditujukan untuk memperluas akses layanan medis di kawasan padat penduduk. Rumah sakit berkapasitas 107 tempat tidur ini berdiri di Kecamatan Cakung, yang merupakan kecamatan terpadat kedua di Jakarta setelah Tambora.

Pramono menilai keberadaan rumah sakit representatif di kawasan tersebut sangat dibutuhkan mengingat tingginya jumlah penduduk dan mobilitas masyarakat.

"Karena di Cakung ini kecamatan nomor 2 terpadat di Jakarta setelah Tambora. Jadi, menurut saya ini sebuah langkah yang luar biasa," katanya.

Dia, menambahkan, rumah sakit ini memiliki fokus layanan pada kesehatan ibu dan anak. Menurutnya, Cakung merupakan kawasan yang dihuni banyak keluarga muda sehingga kebutuhan terhadap layanan kesehatan ibu, bayi, dan anak akan terus meningkat.

"Kenapa ibu dan anak? Karena memang daerah ini adalah daerah yang masyarakatnya sedang tumbuh, banyak keluarga-keluarga baru yang kemudian pasti akan membutuhkan rumah sakit yang representatif," tambahnya.

 

IGD dengan Sistem Siaga Penuh

Direktur Mayapada Hospital Jakarta Timur, dr. Dina Hanum mengatakan bahwa untuk mendukung layanan tersebut, instalasi gawat darurat (IGD) Mayapada Hospital Jakarta Timur telah menerapkan sistem siaga penuh dengan dokter spesialis anak serta dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) yang tersedia selama 24 jam.

Dengan sistem ini, pasien tidak perlu menunggu dokter datang melalui mekanisme on-call. "Keunggulan kita, emergency ataupun IGD kita itu sudah standby untuk dokter spesialis anak dan kebidanannya. Jadi bukan lagi on-call, tapi kita standby 24 jam," ujarnya.

Pramono juga mengungkapkan bahwa dengan beroperasinya rumah sakit ini, jumlah rumah sakit di Jakarta kini mencapai 195 unit yang terdiri atas rumah sakit pemerintah daerah, pemerintah pusat (vertikal), maupun swasta.

Menurutnya, seluruh fasilitas kesehatan tersebut harus saling terintegrasi agar cakupan Universal Health Coverage (UHC) Jakarta yang saat ini telah mencapai sekitar 98,74 persen dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan.

"Yang paling penting adalah kalau semua terkoordinasi dengan baik, maka apa yang disebut dengan universal healthcare Jakarta yang sudah tinggi sekarang ini sekitar 98,74 persen harus tetap bisa dijaga. Bahkan, kalau perlu ditingkatkan," ujar Pramono.