Usia Menikah Kian Matang, Anak Muda Pilih Karier Dulu

Kemendukbangga ungkap tren bahwa makin banyak anak muda memilih menyelesaikan kuliah, bekerja, atau menikmati masa pengembangan diri (me time) sebelum menikah.

Diterbitkan 09 Juli 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Makin banyak anak muda yang memilih menikah di usia yang matang. Menurut Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, anak muda menunda pernikahan untuk menyelesaikan kuliah, membangun karier, hingga menikmati masa pengembangan diri sebelum berkeluarga.

"Berdasarkan status perkawinan, pernikahan 15–19 tahun relatif sedikit. Tren usia menikah semakin matang karena banyak anak muda memilih menyelesaikan kuliah, bekerja terlebih dahulu, atau menikmati masa pengembangan diri (me time) sebelum menikah," kata Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN Bonivasius Prasetya Ichtiarto dalam keterangan menuju Hari Kependudukan Sedunia. 

Data menunjukkan jumlah pernikahan meningkat pada kelompok 25–29 tahun. Lalu, usia 35–39 menjadi kelompok dengan jumlah pasangan menikah paling tinggi.

Berdasarkan survei demografi United Nations Population Fund (UNFPA) di 73 negara, lebih dari dua pertiga responden tetap memilih institusi pernikahan sebagai jalur hidup ideal mereka. Data ini mematahkan anggapan bahwa generasi muda mulai meninggalkan nilai-nilai keluarga. Namun, mereka menetapkan standar yang tinggi.

Generasi muda secara tegas memprioritaskan tercapainya stabilitas finansial serta kesehatan fisik dan mental yang prima sebagai syarat mutlak sebelum memasuki tahapan kehidupan baru. Meski dua pertiga responden merasa optimis terhadap masa depan pribadi mereka, terdapat kekhawatiran kolektif yang tinggi terhadap ketidakpastian ekonomi global, risiko konflik, dan ketimpangan sosial.

Hambatan terbesar (72 persen) datang dari pertimbangan kondisi ekonomi yang menantang dan keterbatasan akses perumahan layak, yang menjadi faktor penentu paling sering menghalangi niat untuk memiliki anak.

 

 

 

 

 

Angka Kelahiran Total Masih Ideal

Terkait pola kelahiran anak, masih terdapat perempuan usia 15–19 tahun yang telah memiliki anak, meski jumlahnya kecil. Sementara itu, di Indonesia timur banyak yang memiliki anak lebih dari dua. 

"Di beberapa wilayah Indonesia Timur, masih dijumpai keluarga dengan tiga anak, bahkan hingga 5–6 anak, termasuk di Merauke, ini menunjukkan masih adanya kesenjangan angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) antarprovinsi," ujar Bonivasius.

Berdasarkan Survei Penduduk Antar-Sensus (SUPAS) 2025 yang dilakukan Badan Pusat Statistik, TFR Indonesia berada di angka 2,12. Angka ideal secara teori adalah sekitar 2,1, tetapi rentang 2,0–2,2 masih dianggap ideal.

"Angka 2,1 berarti dua orang tua 'digantikan' oleh dua anak. Tambahan 0,1 memperhitungkan kemungkinan kematian sebelum seseorang mencapai usia reproduksi. Hasil SUPAS tersebut sejalan dengan berbagai survei internasional, termasuk dari UNFPA," tuturnya mengutip Antara.

Bonus Demografi Jadi Peluang

Bonus demografi di Indonesia masih menjadi peluang, mengingat saat ini terdapat 68,9 persen penduduk usia produktif.

Menurutnya, bonus demografi harus dipandang sebagai dividen demografi, yang hanya bisa dicapai jika penduduk usia produktif diinvestasikan melalui pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Tanpa investasi kualitas manusia, peluang tersebut tidak akan menghasilkan manfaat ekonomi," ucap Bonivasius.

Â