Kunci Cepat Move On dari Kekalahan Tim Favorit di Piala Dunia 2026

Tim favorit kalah di Piala Dunia 2026? Simak cara psikolog membantu Anda lebih cepat move on.

Diterbitkan 20 Juli 2026, 12:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perasaan campur aduk dirasakan oleh para penggemar yang mengikuti Piala Dunia 2026. Pendukung Timnas Spanyol tentu larut dalam euforia kemenangan. Sebaliknya, pendukung Argentina, Portugal, dan Belanda harus menerima kenyataan pahit setelah tim favorit mereka gagal mengangkat trofi di ajang sepak bola empat tahunan tersebut.

Rasa sedih, kecewa, hingga marah merupakan reaksi yang normal. Menurut Psikolog Anak, Remaja & Keluarga di Fyn Clinic, Ayoe Sutomo, hal itu terjadi karena tim favorit bukan sekadar tim sepak bola, melainkan telah menjadi bagian dari identitas sosial seseorang.

"Kalau tim kita kalah, kemudian kita menjadi sedih, kecewa, atau marah, itu tidak apa-apa. Itu adalah proses emosi yang normal dan wajar. Jadi, ya dirangkul dan diterima," ujarnya saat dihubungi Kesehatan Liputan6.com pada Senin (20/7/2026)

Ayoe, menjelaskan, semakin besar fanatisme seseorang terhadap sebuah tim, semakin tinggi pula identifikasi sosial yang terbentuk. Itulah yang membuat kekalahan tim favorit terasa sangat personal.

"Semakin kita nge-fans, semakin tinggi identifikasi sosial kita terhadap tim tersebut. Karena itu, akan semakin sulit bagi kita untuk move on ketika tim favorit mengalami kekalahan," katanya.

Cara Cepat Move On dari Kekalahan Tim Favorit

Lalu, bagaimana agar lebih cepat move on setelah tim favorit kalah? Menurut Ayoe, langkah pertama adalah menerima dan menyadari emosi yang dirasakan. Jangan menyangkal rasa kecewa karena itu merupakan respons yang wajar bagi seseorang yang memiliki ikatan emosional kuat dengan tim favoritnya.

Setelah itu, kurangi paparan terhadap konten yang terus mengingatkan pada kekalahan, seperti tayangan ulang pertandingan, cuplikan gol, atau diskusi yang memicu rasa kecewa. Sebagai gantinya, alihkan perhatian dengan kembali menjalani rutinitas sehari-hari, seperti bekerja atau melakukan aktivitas lain.

 

Tenangkan Diri Sendiri Selama 2 Hari

Menurutnya, perasaan sedih umumnya akan mereda dalam waktu satu hingga dua hari. Namun, apabila emosi negatif terus bertahan hingga berhari-hari dan mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya mencari bantuan dari tenaga profesional.

Setelah emosi mulai lebih stabil, cobalah melihat kekalahan dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya, menggunakan perspektif humor atau rasa syukur atas pencapaian tim selama turnamen.

"Walaupun kalah, tapi setidaknya sudah masuk dua besar. Mereka bermain dengan sangat baik," tambahnya.

Sudut pandang seperti itu dapat menggantikan pikiran yang semula hanya berfokus pada kekalahan. Namun, Ayoe mengingatkan bahwa proses tersebut baru bisa dilakukan setelah emosi berhasil diregulasi.

"Tapi memang itu baru bisa kita proses setelah kita tenang dulu. Kita regulate our emotion dulu. Baru setelahnya kita bisa melihat dari POV yang lebih netral atas kekalahan tim kesayangan kita," pungkasnya.