4 Kebiasaan Orangtua yang Bantu Anak Lebih Tangguh dan Mandiri

Salah satu diantaranya membiarkan anak merasa kesulitan baru kemudian membantunya.

Diterbitkan 04 September 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak, termasuk membantu ketika mereka menghadapi kesulitan. Namun, terlalu sering turun tangan justru bisa membuat anak kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah sendiri.

Lalu, banyak juga orangtua yang selalu berusaha membuat anak sibuk karena kasihan kalau dia bosan. Padahal anak merasa bosan juga penting.

Berikut beberapa kebiasaan yang orangtua lakukan ternyata baik untuk perkembangan anak:

1. Mengakui kesalahan di depan anak

“Ketika orangtua mengakui kesalahan, meminta maaf dengan tulus, dan berusaha memperbaiki diri, anak belajar tentang tanggung jawab, kerendahan hati, dan kepercayaan melalui perilaku ayah dan ibu” jelas psikolog klinis Rachel Rengifo.

Mengakui bila tidak tahu jawaban dari pertanyaan anak itu juga baik. Ayah dan ibu juga tidak perlu selalu terlihat memiliki semua jawaban. Mengakui bahwa orang dewasa masih belajar juga dapat memberikan manfaat bagi anak.

“Ayah atau ibu belum yakin jawabannya, tapi yuk kita cari tahu bersama,” contoh Rengifo mengutip Parade.

Cara tersebut menunjukkan kepada anak pentingnya rasa ingin tahu, ketangguhan, dan kemampuan mencari solusi.

Bila ayah atau ibu salah, psikolog anak Sarah Suria juga menyarankan orangtua menggunakan kalimat seperti, “Tadi Mama/Papa salah. Coba kita ulangi lagi,” ketika melakukan kesalahan.

Menurutnya, hal tersebut mengajarkan anak bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar, bukan bukti bahwa ada sesuatu yang salah dalam dirinya.

“Anak perlu melihat orang dewasa mampu menghadapi dan memperbaiki kesalahan, bukan hanya mengharapkan mereka untuk bangkit dari kesalahannya sendiri,” ujarnya.

Seiring waktu, anak akan belajar bahwa kesalahan dapat diakui, diperbaiki, dan dijadikan pelajaran, bukan sesuatu yang harus disembunyikan atau ditakuti.

2. Membiarkan anak bosan

Ketika anak merasa bosan, orangtua sering kali tergoda untuk segera mencarikan kegiatan atau tugas agar mereka kembali sibuk. Menurut Dr. Suria, waktu yang tidak terstruktur justru dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kreativitas, inisiatif, dan kemampuan memecahkan masalah secara mandiri.

“Ketika anak belajar melewati rasa bosan tanpa selalu diselamatkan dari kondisi tersebut, mereka menemukan bahwa dirinya mampu menciptakan kegiatan, mengeksplorasi sesuatu, dan menentukan sendiri apa yang ingin dilakukan selanjutnya,” jelasnya.

Dengan kata lain, ayah atau ibu tidak selalu harus mengisi setiap waktu luang anak. Memberikan ruang untuk merasa bosan dapat membantu anak belajar mencari kesibukan dan hiburan sendiri.

3. Tetap tenang saat hadapi situasi stres

Psikolog klinis yang mendalami masalah anak Becky Fenton mengatakan orangtua agar tetap tenang ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan memberikan dua manfaat.

Pertama, sikap tersebut dapat membantu meredakan situasi. Kedua, anak belajar dari contoh orang tua tentang bagaimana menghadapi tekanan tanpa ikut terbawa emosi.

“Jadi, daripada menjadi semakin stres ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan, Anda menghadapi keadaan tersebut dengan tenang dan apa adanya. Hal ini membantu menenangkan sistem saraf, membuat Anda lebih mampu menghadapi situasi, dan menggunakan kemampuan memecahkan masalah,” jelasnya.

4. Membiarkan anak menghadapi kesulitan

Orangtua tentu ingin membantu ketika anak mengalami kesulitan. Namun, terlalu cepat turun tangan untuk menyelesaikan masalah atau mencegah anak merasa tidak nyaman justru dapat membuat mereka kehilangan kesempatan untuk belajar memecahkan masalah dan mempercayai kemampuannya sendiri.

Dalam situasi tertentu, orang tua justru dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mencari solusi sendiri.

Misalnya, membiarkan balita berusaha mengambil mainan yang sulit dijangkaunya atau mendorong anak berbicara langsung dengan pelatih ketika mengalami masalah di lapangan, alih-alih orang tua yang langsung menyelesaikannya.

“Hal-hal kecil seperti ini mengajarkan satu hal penting: ‘Saya bisa melakukan hal-hal yang sulit,’” ujar Dr. Rengifo.

Seiring waktu, pengalaman tersebut dapat menjadi dasar bagi anak untuk membangun ketangguhan, kepercayaan diri, dan kemandirian.