Psikolog Ungkap 4 Cara Keluar dari Hubungan Toksik

Mengakhiri hubungan toksik sering kali tidak mudah berikut beberapa cara yang bisa dilakukan menurut pakar.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tidak semua hubungan membawa dampak positif. Hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship tidak hanya terjadi dengan pasangan, tetapi juga bisa melibatkan teman, rekan kerja, bahkan anggota keluarga. Meski demikian, banyak orang justru bertahan dalam hubungan toxic tersebut lebih lama.

Psikolog klinis dan neuroterapis di Chicago, Amerika Serikat, Catherine Jackson, mengatakan bahwa jenis hubungan toksik bisa bermacam-macam.

"Ada banyak jenis hubungan toxic, seperti hubungan yang penuh kendali atau manipulatif, negatif, egosentris atau narsistik, tidak jujur, diliputi rasa insecure, kasar (abusif), gemar menyalahkan atau menuntut dan kompetitif, serta penuh rahasia dan drama," ujar Jackson mengutip Prevention, Rabu (29/7/2026). 

Berikut beberapa cara menyudahi hubungan tidak sehat:

1. Sadar terhadap Hubungan Toksik

Sebelum memutuskan mengakhiri hubungan, penting untuk menyadari terlebih dahulu bahwa hubungan tersebut memang tidak sehat.

Psikoterapis, Fran Walfish, PsyD, mengungkapkan sejumlah tanda hubungan toksik, seperti pasangan atau orang terdekat yang gemar memanipulasi, berbohong, terus-menerus mengkritik, menggunakan silent treatment, hingga membuat Anda merasa bersalah atas kesalahan yang sebenarnya bukan berasal dari diri sendiri.

Psikolog Lisa Marie Bobby, PhD, menambahkan bahwa banyak orang tidak menyadari dirinya berada dalam hubungan toksik karena terus diyakinkan bahwa perlakuan buruk yang diterimanya adalah akibat kesalahan mereka sendiri.

 2. Jangan Hadapi Sendiri

Jika merasa dalam hubungan toksik coba bicarakan kondisi tersebut dengan orang lain bila perlu profesional.

"Sering kali dibutuhkan sudut pandang dari pihak luar, seperti terapis, pelatih, atau teman yang bijak, untuk membantu seseorang memahami bahwa sebenarnya mereka tidak bersalah," kata Bobby.

Tips Lain

 

3. Tetapkan Batasan yang Sehat

Psikolog Forrest Talley menegaskan bahwa menetapkan batasan bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

"Sebagian besar orang yang toksik memanfaatkan kesulitan orang-orang yang baik hati dalam menetapkan batasan," ujarnya.

Batasan dapat diterapkan dengan mengatakan secara tegas ketika tidak bisa memenuhi permintaan seseorang atau memilih menjaga jarak dari interaksi yang merugikan. Jika diperlukan, Anda juga dapat membatasi hubungan di media sosial dengan mute, unfollow, atau bahkan memblokir akun mereka.

Psikolog Karin R. Lawson mengatakan seseorang tidak boleh berasumsi bahwa mereka boleh diperlakukan buruk hanya karena orang toksik tersebut adalah bagian dari keluarga.

"Setiap hubungan membutuhkan batasan, garis yang Anda sendiri tentukan dalam setiap hubungan yang Anda jalani." kata Lawson. 

Menetapkan batasan bukanlah tindakan jahat. Itu adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. 

4. Teguh pada Keputusan

Jika berada di situasi yang mengharuskan untuk tetap terhubung dengan orang yang toksik, batasi atau lakukan interaksi seperlunya.

Dalam kasus seperti itu, langkah terbaik adalah meminimalkan akses orang toksik tersebut serta membatasi kemampuan mereka untuk kembali memengaruhi.

Teknik Gray Rock Method bisa anda terapkan. Metode ini mengarah kepada tindakan bersikap netral, tidak menampilkan emosi maupun tindakan yang memicu konflik. Dengan cara ini, orang yang toksik akan kehilangan kesempatan untuk mengendalikan atau mempermainkan respons emosional Anda.

Â