Liputan6.com, Jakarta - Dokter Spesialis Anak, dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A menyebut tren masalah gizi anak saat ini bukan lagi didominasi gizi buruk, cenderung bergeser ke kelebihan berat badan dan obesitas. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan sehari-hari yang kerap dianggap sepele, yakni konsumsi gula tambahan secara berlebihan.
Kanya mengatakan tumbuh kembang anak berlangsung secara menyeluruh dan membutuhkan dukungan sejak dini. Oleh sebab itu, orang tua perlu memastikan kebutuhan gizi harian anak terpenuhi sesuai usianya.
Advertisement
Asupan protein, kalsium, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, serta menjaga daya tahan tubuh. Namun, pemenuhan gizi saja tidak cukup.
"Selain itu, kebiasaan makan yang baik, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang berkualitas, dan stimulasi yang tepat juga menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal," kata dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A di peluncuran 'Temani Tumbuh Kembangnya, Rayakan Setiap Langkahnya!' pada Minggu (2/8/2026).
Obesitas Anak Kini Jadi Tantangan Baru
Menurut Kanya, setelah anak berumur di atas dua tahun, kebutuhan gizinya sebaiknya dipenuhi dari makanan asli (whole food) yang secara alami sudah mengandung gula, seperti buah, nasi, kentang, dan sumber karbohidrat lainnya.
Oleh sebab itu, konsumsi makanan atau minuman dengan tambahan gula, termasuk susu yang mengandung sukrosa, perlu diperhatikan. Jika dikonsumsi setiap hari, kata Kanya, tanpa disadari asupan gula Si Kecil bisa melebihi kebutuhan hariannya.
"Yang mengejutkan, risiko jangka panjangnya ternyata setara dengan orang dewasa, yaitu diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, hipertensi, hingga sindrom metabolik," ujar Kanya.
Dia, menjelaskan, kondisi tersebut membuat dokter anak kini mulai melakukan pemeriksaan yang sebelumnya identik dengan pasien dewasa, seperti cek kolesterol, gula darah puasa, hingga HbA1c pada anak dengan gizi berlebih.
"Langkah ini dilakukan untuk mendeteksi risiko penyakit metabolik sejak dini," tambahnya.
Menurut Kanya, gangguan pembuluh darah hingga penurunan fungsi ginjal di masa depan bisa berawal dari kebiasaan kecil yang dianggap sepele, misalnya mengonsumsi makanan atau minuman manis setiap hari.
Pahami Perbedaan Gula Alami dan Gula Tambahan
Sementara itu, Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu IPB, Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt., M.V.P.H., M.Si., mengatakan susu tetap menjadi sumber protein hewani yang penting bagi anak.
"Namun, manfaatnya akan optimal apabila kualitas bahan baku dan proses pengolahannya terjaga dengan baik," ujarnya.
Dia juga menekankan pentingnya edukasi gizi seimbang agar orang tua memahami kebutuhan nutrisi anak sesuai tahap pertumbuhannya.
Epi menjelaskan bahwa rasa manis pada susu tidak selalu berasal dari gula tambahan. Susu secara alami mengandung laktosa yang berbeda dengan sukrosa atau gula pasir.
Dia, menjelaskan,"Artinya, susu tanpa tambahan sukrosa tetap memiliki rasa manis alami sehingga tidak perlu diberi gula tambahan lagi."
Di kesempatan yang sama, Managing Director Dairy & Bread OT Group, Johan Lianto, mengatakan tumbuh kembang anak merupakan hasil perpaduan antara pemenuhan gizi dan pendampingan orang tua.
"Kami juga percaya bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya ditentukan oleh asupan, tapi juga oleh kehadiran orang tua dalam setiap prosesnya," ujar Johan.
Melalui kampanye 'Temani Tumbuh Kembangnya, Rayakan Setiap Langkahnya!', OT Group mengajak para orang tua untuk terus mendampingi setiap proses belajar, bermain, dan bertumbuh anak sebagai bagian dari upaya membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini.