Ini Aktivitas Fisik yang Bisa Bantu Cegah 8 Penyakit Kronis Sekaligus

Penelitian terbaru ungkap jenis aktivitas fisik yang disebut bisa bantu tubuh lawan penyakit kronis.

Diterbitkan 12 Mei 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas fisik ternyata bukan hanya membantu menjaga kebugaran tubuh, tapi juga bisa menjadi 'tameng' alami terhadap berbagai penyakit kronis. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa olahraga dengan intensitas tinggi atau vigorous exercise berkaitan dengan penurunan risiko delapan penyakit kronis sekaligus, mulai dari diabetes tipe 2 hingga demensia.

Penelitian yang dipublikasikan dalam European Heart Journal itu menganalisis data lebih dari 96 ribu orang yang menggunakan alat pelacak aktivitas selama satu minggu. Peneliti juga memeriksa data hampir 376 ribu peserta lain dalam UK Biobank, studi kesehatan jangka panjang di Inggris.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang rutin melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi memiliki risiko jauh lebih rendah terkena penyakit kronis dibanding mereka yang jarang bergerak aktif, dikutip dari prevention pada Selasa, 12 Mei 2026.

Bahkan, kelompok dengan aktivitas intensitas tinggi tertinggi diketahui memiliki risiko demensia 63 persen lebih rendah, risiko diabetes tipe 2 turun 60 persen, dan risiko kematian selama periode penelitian tujuh tahun lebih rendah hingga 46 persen.

Menariknya, manfaat tersebut sudah mulai terlihat meski aktivitas berat dilakukan hanya beberapa menit setiap hari.

Peneliti menyebut temuan ini memperkuat pentingnya aktivitas fisik intensitas tinggi dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular.

"Temuan ini mendukung pentingnya memprioritaskan aktivitas fisik dengan intensitas lebih tinggi dalam intervensi kesehatan masyarakat dan klinis untuk mencegah penyakit kronis," tulis peneliti dalam kesimpulan studi tersebut.

Penelitian ini menemukan olahraga intensitas tinggi dapat membantu menurunkan risiko delapan penyakit kronis utama, yaitu:

  • Penyakit kardiovaskular
  • Gangguan irama jantung
  • Diabetes tipe 2
  • Penyakit inflamasi akibat gangguan sistem imun
  • Penyakit hati
  • Penyakit pernapasan kronis
  • Penyakit ginjal kronis, dan
  • Demensia

Dokter spesialis jantung intervensi sekaligus Direktur Program Jantung Struktural di MemorialCare Saddleback Medical Center, Dr. Cheng-Han Chen, menjelaskan bahwa olahraga berat membuat jantung bekerja lebih efisien.

"Olahraga intensitas tinggi meningkatkan denyut jantung sehingga jantung dapat memompa darah lebih efektif," kata Cheng-Han.

Menurutnya, kondisi tersebut memberikan efek positif berantai bagi tubuh. Aliran darah menjadi lebih lancar, distribusi nutrisi lebih optimal, dan fungsi organ tubuh bekerja lebih efisien.

 

Manfaat Lain dari Olahraga

Tak hanya itu, olahraga berat juga membantu pembuluh darah menjadi lebih rileks sehingga tekanan darah dapat lebih terkontrol.

"Hal ini membantu sistem tubuh bekerja lebih efisien dan memperbaiki berbagai penanda risiko penyakit seperti obesitas dan stres," lanjutnya.

Meski terdengar berat, olahraga intensitas tinggi sebenarnya tidak selalu berarti latihan ekstrem di gym. Aktivitas sederhana sehari-hari juga bisa dimodifikasi agar masuk kategori vigorous exercise.

Menurut salah satu pendiri SoHo Strength Lab, Albert Matheny, R.D., C.S.C.S., olahraga intensitas tinggi adalah aktivitas yang membuat napas dan detak jantung meningkat signifikan.

"Jika Anda sudah rutin melakukan suatu aktivitas, cukup tambahkan sedikit sprint atau percepat temponya," ujar Albert.

Dia, mencontohkan, seseorang yang biasa berjalan kaki bisa mencoba menaiki tanjakan dengan lebih cepat. Pengguna sepeda dapat melakukan interval kayuhan lebih kuat dalam beberapa menit sebelum kembali santai. Bahkan naik tangga dengan tempo cepat juga bisa memberikan efek serupa.

 

Contoh Olahraga yang Menyehatkan

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut beberapa contoh olahraga intensitas tinggi antara lain jogging atau berlari, berenang bolak-balik, bersepeda cepat atau menanjak, bermain basket, hingga tenis tunggal.

CDC juga mencatat bahwa satu menit aktivitas intensitas tinggi setara dengan sekitar dua menit aktivitas intensitas sedang.

Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa olahraga tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Orang dengan riwayat penyakit tertentu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memulai latihan berat.

Di tengah meningkatnya kasus penyakit kronis akibat gaya hidup sedentari, penelitian ini menjadi pengingat bahwa perubahan kecil dalam rutinitas harian bisa membawa dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.

Tak harus langsung olahraga berjam-jam, menaikkan sedikit tempo aktivitas sehari-hari ternyata sudah bisa membantu tubuh menjadi lebih sehat dan terlindungi dari berbagai penyakit kronis.