Dokter Jelaskan Kapan Cedera Olahraga Cukup Dikompres Es

Banyak yang anggap sepele, ternyata tidak semua cedera olahraga cukup ditangani dengan kompres es.

Diterbitkan 13 Mei 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cedera olahraga sering kali dianggap sepele, terutama jika rasa sakitnya masih bisa ditahan. Banyak orang memilih langsung mengompres bagian tubuh yang nyeri dengan es tanpa memahami apakah cedera tersebut memang masih aman ditangani sendiri atau justru membutuhkan pemeriksaan medis.

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dari Klinik MOTIVA, dr. Veranika Darmidy, Sp.KO, SubSp.ALK(K) menjelaskan bahwa tidak semua cedera olahraga harus berujung ke rumah sakit. Namun, ada batasan tertentu yang perlu dipahami agar kondisi cedera tidak semakin parah.

Menurut Veranika, masih banyak masyarakat yang menganggap cedera olahraga hanya terjadi jika seseorang mengalami patah tulang atau sampai tidak bisa berjalan. Padahal, definisi cedera olahraga jauh lebih luas dari itu.

"Cedera olahraga itu bukan berarti pincang ataupun kaki patah. Di dalam dunia olahraga, cedera adalah segala masalah kesehatan yang menyebabkan partisipasi kita dalam olahraga menjadi terganggu," ujar Veranika kepada Kesehatan Liputan6.com, Rabu, 13 Mei 2026.

Dia, menjelaskan, cedera olahraga dapat berupa kerusakan pada berbagai struktur tubuh, mulai dari jaringan lunak seperti kulit, otot, ligamen, dan tendon, hingga jaringan keras seperti tulang dan sendi.

Gejalanya pun tidak selalu dramatis. "Umumnya, gejala cedera ditandai dengan adanya gangguan pada kemampuan gerak seseorang, bisa berupa nyeri, kaku, pegal linu, lemah, rasa tertarik, rasa kencang, dan lain-lain," tambahnya.

Tak sedikit orang juga mengira cedera olahraga hanya terjadi karena kurang pemanasan. Padahal, penyebab cedera olahraga sangat beragam dan bersifat multifaktor.

"Berbagai faktor yang berperan dalam terjadinya suatu cedera biasanya dikelompokkan menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik," kata Veranika.

Faktor intrinsik berasal dari dalam diri seseorang, misalnya kelebihan berat badan, riwayat cedera sebelumnya, hingga kurang pemanasan sebelum olahraga.

Sementara faktor ekstrinsik berasal dari luar tubuh, seperti cuaca yang terlalu panas, permukaan lantai licin, hingga penggunaan alat olahraga yang kurang tepat.

 

Cedera Olahraga Harus Dikompres Es

Meski demikian, tidak semua cedera olahraga membutuhkan penanganan medis darurat. Pada cedera ringan, penanganan awal masih bisa dilakukan secara mandiri di rumah menggunakan kompres es atau metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation).

"Pada cedera yang ringan, pasien dapat melakukan penanganan fase akut atau awal sendiri, misalnya dengan melakukan kompres es atau menerapkan prinsip RICE," ujarnya.

Metode ini bertujuan membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan pada fase awal cedera. Namun, Veranika mengingatkan bahwa kompres es bukan solusi untuk semua kondisi.

Jika nyeri tidak membaik, pembengkakan semakin besar, tubuh sulit digerakkan, atau aktivitas sehari-hari mulai terganggu, pasien disarankan segera memeriksakan diri ke tenaga medis profesional.

"Setelah melewati fase awal, pasien sebaiknya segera memeriksakan diri ke tenaga medis profesional untuk memastikan fungsi bagian tubuh yang cedera dapat kembali optimal," pungkasnya.