FOMO Olahraga Ekstrem saat Promil Bisa Ganggu Kesuburan

Tubuh yang dipaksa berlatih melebihi kapasitasnya (overtraining), apalagi tanpa persiapan, dapat mengganggu kesuburan.

Diterbitkan 01 Agustus 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tangerang Selatan - Belakangan ini, olahraga berintensitas tinggi seperti HYROX dan marathon tengah menjadi tren. Tak sedikit orang yang tertarik mencobanya karena rasa penasaran atau fear of missing out (FOMO).

Padahal, tanpa persiapan fisik yang memadai, latihan dengan intensitas tinggi berisiko memberikan efek termasuk bagi pasangan yang sedang menjalani program hamil.

Dokter spesialis andrologi Christian Christoper Sunnu, mengatakan masih banyak masyarakat yang salah kaprah dengan menganggap semakin berat olahraga yang dilakukan, maka kualitas sperma akan semakin baik.

"Pasien sering salah kaprah. Mereka berpikir olahraga ekstrem membuat kualitas sperma semakin bagus, padahal olahraga yang terlalu ekstrem justru meningkatkan radikal bebas," ujarnya.

Peningkatan radikal bebas atau stres oksidatif dapat merusak sel sperma sehingga berdampak pada kualitas maupun jumlah sperma.

Apabila seseorang sudah mengalami kondisi overtraining, tubuh juga tidak bisa langsung pulih dalam waktu singkat. Dibutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan agar proses pembentukan sperma kembali berlangsung optimal.

"Kalau sudah overused, minimal butuh tiga sampai empat bulan untuk pemulihan," katanya dalam temu media dengan Eka Hospital BSD beberapa hari lalu di Tangerang Selatan.

Selain itu, latihan berlebihan bisa juga menyebabkan cedera atau peradangan kronis. Peradangan yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan organ reproduksi pria.

 

 

Wanita Berisiko Mengalami Gangguan Ovulasi

Selain pada pria, perempuan yang lakukan olahraga ekstrem secara mendadak juga bisa memengaruhi kesehatan reproduksi. Latihan fisik berlebihan dapat menyebabkan tubuh mengalami stres fisiologis. Kondisi tersebut mengganggu keseimbangan hormon sehingga proses ovulasi maupun siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

"Kalau olahraga terlalu ekstrem, ditambah diet ekstrem dan stres yang tinggi, bisa menyebabkan gangguan ovulasi. Sel telur tidak dilepaskan, sehingga tentu akan menyulitkan terjadinya kehamilan," ujar dokter Agus Heriyanto SpOG Subsp FER.

Meski demikian, Agus menilai tren masyarakat yang mulai gemar berolahraga tetap merupakan hal positif. Yang perlu dihindari adalah keinginan mengikuti tren tanpa memahami kemampuan tubuh sendiri.

"FOMO olahraga tentu lebih baik daripada FOMO dugem. Olahraga itu bagus karena membuat orang lebih aktif. Tetapi jangan sampai karena ikut komunitas atau tren, kita memaksakan tubuh berlatih melebihi kapasitasnya," tuturnya.

Ia menekankan bahwa olahraga yang ideal saat program hamil adalah olahraga yang dilakukan secara terukur, bertahap, dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. Dengan demikian, manfaat olahraga untuk meningkatkan kesehatan tetap diperoleh tanpa mengganggu fungsi reproduksi.