Obesitas pada Perempuan Bisa Pengaruhi Kesuburan

Pada perempuan, obesitas bisa menyebabkan gangguan hormon yang bisa menyebabkan gangguan ovulasi.

Diterbitkan 01 Agustus 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Obesitas pada perempuan bukan hanya terkait penampilan atau estetika. Obesitas pada perempuan bisa mengancam kesehatan reproduksi.

Dokter Cynthia Agnes Susanto SpOG memaparkan salah satu keterkaitan erat obesitas dengan kesehatan reproduksi terlihat pada kondisi sindrom ovarium metabolik poliendokrin (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome/PMOS), yang sebelumnya dikenal sebagai sindrom ovarium polikistik (Polycystic Ovary Syndrome/PCOS).

Perubahan istilah ini mencerminkan pemahaman ilmiah terbaru bahwa kondisi tersebut bukan sekadar gangguan ovarium, melainkan gangguan hormon (endokrin) dan metabolisme yang kompleks.

Kondisi PMOS menjadi penyebab tersering gangguan ovulasi, dengan sekitar 35 hingga 50 persen penderitanya juga mengalami obesitas. Keadaan ini menciptakan ikatan yang kompleks karena obesitas dapat memperburuk gejala PMOS, sementara perubahan hormon dan metabolisme akibat PMOS membuat upaya pengelolaan berat badan menjadi semakin menantang.

Mengingat kompleksitas biologi tubuh tersebut, penanganan obesitas kini menerapkan pendekatan lintas disiplin (multidisiplin) yang komprehensif, dipersonalisasi, dan berbasis sains. Tata laksana ini mencakup perubahan gaya hidup, dukungan psikologis, terapi obat-obatan (farmakologis) sesuai indikasi medis, hingga tindakan bedah pencernaan (bariatrik) untuk pasien tertentu.

Seiring kemajuan ilmu kedokteran, salah satu pilihan terapi medis yang berkembang adalah penggunaan obat pemicu kerja hormon kenyang (GLP-1 receptor agonist/GLP-1 RA). Terapi ini bekerja pada mekanisme biologis pengatur rasa lapar dan kenyang di otak sebagai pelengkap perubahan gaya hidup di bawah evaluasi dokter.

"Terapi tersebut juga mendukung penurunan berat badan berkualitas yaitu pengurangan massa lemak dengan tetap mempertahankan massa otot, berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20 persen, serta memulihkan parameter kesehatan metabolisme tubuh secara menyeluruh," ujar Cynthia mengutip Antara.

 

Cari Bantua Bila Sulit Mengatasi Obesitas

Associate Director Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia dr. Riyanny Meisha Tarliman menegaskan pentingnya edukasi berbasis fakta ilmiah agar masyarakat, khususnya perempuan, dapat mengenali risiko obesitas tanpa cemas terhadap stigma atau penilaian negatif sosial.

"Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan di berbagai fase kehidupan. Perempuan perlu memiliki informasi yang tepat agar dapat mengenali risikonya, mencari bantuan medis saat diperlukan, dan memperoleh penanganan yang sesuai bersama tenaga kesehatan," ujar Riyanni. 

Ia menambahkan bahwa penanganan obesitas memerlukan konsultasi medis yang tepat agar setiap individu memperoleh tata laksana yang personal. Untuk mendukung kebutuhan edukasi publik tersebut, pihaknya menyediakan platform NovoCare.id yang memuat alat ukur indeks massa tubuh untuk penapisan awal serta direktori pencarian dokter guna membantu masyarakat memulai langkah pengelolaan berat badan secara profesional.