Cara Orangtua Bangun Komunikasi Hangat dengan Anak

Banyak orangtua di era digital tanpa sadar memiliki persoalan komunikasi karena tidak terbiasa mendengarkan maupun berdialog secara mendalam.

Diterbitkan 22 Mei 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Orangtua zaman sekarang perlu terus melatih komunikasi yang sehat untuk membangun hubungan dengan anak. Hal ini disampaikan psikolog Theresia Novi Poespita Candra.

Novi mengungkapkan di era digital, banyak orangtua tanpa sadar memiliki persoalan komunikasi karena tidak terbiasa mendengarkan maupun berdialog secara mendalam dengan orang lain.

“Kalau kita diajak ngobrol lama atau mendengarkan orang lain lama, kita betah enggak? Itu sebenarnya bisa jadi ukuran,” kata Novi

Ia mengatakan kebiasaan komunikasi masyarakat saat ini cenderung singkat, cepat, dan berorientasi pada kebutuhan praktis sehingga kemampuan mendengarkan perlahan melemah.

Padahal, anak membutuhkan orangtua yang mampu hadir dan mendengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian. “Anak-anak itu tidak butuh dinasihati terus. Mereka butuh didengarkan,” ujarnya.

Novi menilai banyak orangtua terlalu cepat memberi nasihat atau instruksi dibanding membuka ruang dialog dengan anak. Pola komunikasi seperti itu dapat membuat anak enggan terbuka karena merasa tidak benar-benar dipahami.

“Jangan mudah menasihati karena itu menjadikan ruang tidak aman di rumah,” kata Novi mengutip Antara.

Ia menjelaskan kemampuan komunikasi dan mendengarkan sebenarnya dapat terus dilatih, termasuk oleh orang dewasa.

Menurut dia, latihan sederhana dapat dimulai dengan membiasakan diri mendengarkan cerita orang lain tanpa memotong pembicaraan atau merasa harus segera memberi solusi.

 “Kita bisa latihan dengan benar-benar mendengarkan orang lain, bahkan ketika kita tidak punya kepentingan apa pun,” ujarnya.

 

Komunikasi Hangat Tidak Bisa Terbentuk Instan

Novi mengatakan kemampuan mendengarkan penting karena manusia pada dasarnya membutuhkan ruang untuk berbicara dan merasa diterima.

Ia juga menekankan perubahan pola komunikasi dalam keluarga perlu dimulai dari orangtua karena anak cenderung meniru kebiasaan yang mereka lihat sehari-hari.

“The change start from the parents,” katanya.

Menurut dia, komunikasi hangat dalam keluarga tidak terbentuk secara instan, tetapi membutuhkan kesadaran dan latihan yang dilakukan secara konsisten.