Ini Persentase Keberhasilan Berbagai Metode Penurunan Berat Badan

Ketahui persentase keberhasilan diet, operasi, hingga tirzepatide untuk turun berat badan.

Diterbitkan 06 Juli 2026, 13:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menurunkan berat badan tidak selalu cukup hanya dengan mengatur pola makan dan rutin berolahraga. Pada sebagian orang, terutama yang mengalami obesitas akibat faktor genetik, diperlukan penanganan medis agar hasilnya lebih optimal.

Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., mengatakan bahwa setiap metode penurunan berat badan memiliki tingkat keberhasilan yang berbeda-beda. Pemilihan terapi pun harus disesuaikan dengan kondisi pasien.

"Ada orang yang punya gen obesitas. Sudah menjaga makan, tetap saja gemuk. Nah, itu adalah orang-orang yang memang membawa gen obesitas. Karena itu butuh pendekatan khusus," ujar Dante kepada Kesehatan Liputan6.com belum lama ini.

Dia, menjelaskan, hasil Human Genome Project menunjukkan bahwa faktor genetik berperan dalam obesitas. Oleh sebab itu, tidak semua pasien dapat memperoleh hasil maksimal hanya dengan menjalani perubahan gaya hidup.

Menurut Dante, perubahan pola makan dan kebiasaan hidup sehat umumnya hanya mampu menurunkan berat badan sekitar 2 persen. Apabila dibarengi olahraga secara rutin dan intensif, penurunan berat badan dapat meningkat menjadi sekitar lima hingga 10 persen.

"Kalau tata laksananya ditambah olahraga keras dan makannya bagus, itu bisa sekitar lima sampai 10 persen," ujarnya.

Sementara itu, operasi bariatrik menjadi metode yang memberikan hasil paling besar, yakni mampu menurunkan berat badan sekitar 25 hingga 30 persen.

"Tapi ususnya mesti dipotong sehingga dengan makanan yang sedikit dia akan turun 25 s.d 30 persen," tambahnya.

Namun, prosedur ini memerlukan tindakan pembedahan sehingga tidak dapat dilakukan pada semua pasien.

Di antara kedua metode tersebut, terdapat terapi obat yang kini menjadi alternatif bagi pasien obesitas. Menurut Dante, terapi farmakologis mampu membantu pasien menurunkan berat badan hingga sekitar 20 persen.

 

Tirzepatide Jadi Terapi Baru untuk Obesitas

Dante menyebut salah satu terapi terbaru adalah tirzepatide, obat yang bekerja melalui dua hormon incretin, yaitu GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide) dan GLP-1 (glucagon-like peptide-1).

Dia, menjelaskan, kedua hormon tersebut sebenarnya diproduksi secara alami oleh tubuh, tetapi efeknya berlangsung singkat.

Tirzepatide bekerja dengan meningkatkan aktivitas kedua hormon tersebut hingga mencapai kadar suprafisiologis, sehingga memberikan efek penurunan berat badan yang lebih optimal.

"Kalau menggunakan obat khusus, gen yang sudah terpola tadi akan mengalami proses yang namanya epigenetik. Kalau pakai obat bisa turun hingga 20 persen. Salah satu obatnya adalah tirzepatide," kata Dante.

Selain membantu menurunkan berat badan, tirzepatide juga memberikan manfaat metabolik lain. "Efeknya berat badan turun, hipertensi turun, profil lipid menjadi baik, kolesterol membaik, dan gula darah juga baik. Ini bisa dipakai untuk pasien diabetes maupun bukan diabetes," ujarnya.

Menurut Dante, pada pasien dengan kadar gula darah normal, tirzepatide tidak akan terus menurunkan gula darah, melainkan lebih banyak bekerja memperbaiki faktor risiko metabolik lain seperti hipertensi, kadar kolesterol, dan berat badan.

 

Obesitas Bukan Sekadar Masalah Penampilan

Dante menegaskan bahwa obesitas harus dipandang sebagai penyakit kronis yang memerlukan tata laksana medis, bukan sekadar persoalan bentuk tubuh.

"Obesitas bukan body shape atau body shaping. Obesitas adalah penyakit yang harus didiagnosis dan diobati. Kita perlu mengedukasi masyarakat bahwa obesitas bukan sekadar gemuk, tetapi merupakan penyakit yang membutuhkan tata laksana medis," pungkasnya.