Kisah Achmad, Ayah ASN yang Setia Antar Anak Berkebutuhan Khusus Setiap Hari

Kisah inspiratif Achmad, ayah ASN yang setia mendampingi anak berkebutuhan khusus setiap hari.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 17:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang bocah laki-laki dengan ramah menghampiri jurnalis Liputan6.com dan seorang jurnalis media lain. Sambil menggenggam tangan, dia mengajak berkenalan sekaligus bermain. Bocah itu adalah Rafif Pradipta, murid SLB Negeri 02 Lenteng Agung, Jakarta Selatan, yang pada hari ini, Senin, 13 Juli 2026, diantar ayahnya, Achmad Sofyan, dalam rangka hari pertama sekolah melalui program Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS).

Achmad merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Depok. Pada hari pertama sekolah Rafif, dia mendapat dispensasi dari kantornya untuk bekerja setengah hari agar bisa mengantar putranya ke sekolah.

"Kalau kerja saya di Depok, anak Jakarta, itu bisa seharian. Cuma kalau satu wilayah, cuma dapat setengah hari saja izinnya," kata Achmad saat berbincang dengan Kesehatan Liputan6.com.

"Jadi, ini dapat dari pemerintah fasilitas seperti itu, jadi tidak mengurangi cuti," tambahnya.

Dispensasi tersebut sejalan dengan penjelasan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji. Dia mengatakan bahwa Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) merupakan inisiatif pemerintah untuk mendorong keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak, terutama pada hari pertama sekolah.

Program ini juga diharapkan dapat mengurangi fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, sekaligus menegaskan bahwa mendidik anak bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu.

Wihaji mengatakan pihaknya telah mengirimkan surat kepada kementerian dan lembaga agar memberikan dispensasi kepada para ayah yang mengantar anak ke sekolah tanpa mengurangi hak cuti mereka.

Bagi Achmad, mengantar Rafif ke sekolah bukanlah hal baru. Karena lokasi rumah, kantor, dan sekolah berada di satu jalur, ia sudah terbiasa melakukannya setiap hari. "Karena kantor saya searah, jadi setiap hari saya nganterin, sih," ujarnya.

 

Mengantar Anak adalah Tanggung Jawab Orang Tua

Dia, menjelaskan, rumahnya berada di Pasar Minggu, sementara tempat kerjanya di Depok dan sekolah Rafif berada di Lenteng Agung.

"Dari rumah di Pasar Minggu, kerja di Depok, sekolah di Lenteng Agung. Searah tuh. Jadi kalau pagi saya bisa setiap hari nganter. Karena memang anak kayak gini kan perlu perhatian khusus," katanya.

Achmad mengaku dirinya tidak pernah diantar sang ayah saat masih bersekolah. Namun, pengalaman itu justru membuatnya ingin memberikan hal yang berbeda kepada Rafif.

"Kenapa saya nganterin? Karena pertama sekolahnya agak jauh. Yang kedua karena memang anak ini perlu perhatian khusus dari orang tuanya. Jadi memang itu tanggung jawab sebagai orang tua," ujar Achmad.

Perjalanan menuju sekolah juga menjadi waktu berharga untuk membangun kedekatan dengan sang anak. Achmad mengatakan Rafif sangat suka mengobrol dan bercanda selama di perjalanan.

"Dia suka ngobrol, suka ngomong-ngomong, suka bercanda," ujarnya.

Meski begitu, dia mengakui tidak selalu memahami apa yang diucapkan Rafif.

"Cuma kadang-kadang dia ngomong kita kurang paham. Tapi, kalau kita ngomong, dia mengerti. Apa yang kita sebutkan atau yang kita mau, dia mengerti. Cuma kadang-kadang saya sebagai orang tua tidak memahami bahasanya. Nggak selalu ngerti. Kalau memahami, saya bisa langsung jawab," tambahnya.

 

GAMAS adalah Momen Terbaik Komunikasi Sama Anak

Bagi Achmad, momen sederhana saat berangkat sekolah itu menjadi kesempatan untuk mempererat komunikasi dengan anak.

Di rumah, Achmad juga berusaha terlibat dalam berbagai aktivitas merawat Rafif. Dia mengaku kerap membantu memandikan, menyuapi makan, hingga membelikan makanan kesukaan putranya saat memiliki waktu luang.

"Peran saya sebagai orang tua ya sebagai pengayom anak. Karena anak ini butuh perhatian khusus," katanya.

"Di rumah kadang-kadang saya mandiin anak, ngasih makan juga kalau ada waktu luang. Kalau libur suka beliin makanan kesukaan dia. Sarapan sama makan juga kadang saya yang suapin," tambahnya.

Achmad juga bercerita bahwa Rafif memiliki hobi menari dan bernyanyi. Di momen Piala Dunia 2026, putranya senang menirukan gaya pesepak bola Cristiano Ronaldo.

"Sebenarnya dia suka joget dan suka nyanyi. Sekarang dia suka niru kayak Ronaldo. Kita nggak ada ngajarin, cuma dia melihat sendiri. Jadi, kita nggak ada ngajarin, dia bisa sendiri," ujarnya.

 

Peran Ayah Bukan Hanya Mencari Nafkah

Menurut Achmad, masih ada anggapan bahwa tugas ayah hanya mencari nafkah, sementara mengurus anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu.

Dia tidak sependapat dengan pandangan tersebut. "Salah sebenarnya sih itu," katanya.

"Orang tua juga bisa membantu anak. Walaupun anak itu butuh perhatian khusus, biar anak itu punya percaya diri," tambah Achmad.

Dia menambahkan bahwa pekerjaannya memungkinkan dirinya mengantar Rafif karena lokasi kantor yang searah dengan sekolah.

Selain itu, istrinya bekerja di Tangerang sehingga tidak memungkinkan untuk mengantar anak setiap hari.

"Kebetulan istri saya kerjanya di daerah Tangerang, jadi dia nggak mungkin nganter. Kalau saya karena sekalian jalan ke Depok, ya sudah. Tidak ada salahnya sekalian. Kadang-kadang pulang juga saya jemput," pungkasnya.