Awas! Sosok "Ayah Baru" Ini Diam-Diam Pengaruhi Anak Indonesia

Wihaji mengingatkan bahaya "ayah baru" yang diam-diam memengaruhi tumbuh kembang anak Indonesia.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 16:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menyoroti fenomena yang dinilai semakin mengkhawatirkan dalam pengasuhan anak di Indonesia. Menurutnya, kini muncul sosok 'ayah baru' yang diam-diam mengambil banyak waktu bersama anak, yakni handphone (ponsel).

Pernyataan itu disampaikan Wihaji saat meninjau pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) di SLB Negeri 02 Jakarta, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2026). Program tersebut bertujuan memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan mengajak mereka mengantar anak pada hari pertama sekolah.

Dalam kesempatan itu, Wihaji mengapresiasi para ayah yang meluangkan waktu mendampingi anak sebelum memulai tahun ajaran baru. Menurutnya, momen sederhana seperti mengantar anak ke sekolah memiliki makna besar dalam membangun kedekatan emosional di dalam keluarga.

Namun, dia mengingatkan bahwa tantangan pengasuhan saat ini tidak hanya berasal dari minimnya keterlibatan ayah tapi juga dari penggunaan gawai yang semakin mendominasi kehidupan anak.

"Karena hari ini kalau enggak hati-hati, mohon maaf, ada orang tua baru, ada ayah baru, yang sangat memengaruhi anak-anak kita, yang kita sebut dengan handphone," kata Wihaji.

Wihaji menjelaskan bahwa anak-anak saat ini menghabiskan waktu yang sangat lama bersama handphone setiap harinya. Kondisi tersebut, kata dia, membuat peran orang tua, terutama ayah, perlahan tergeser apabila tidak hadir secara aktif dalam kehidupan anak.

"Handphone sudah menjadi orang tua baru. Delapan sampai sepuluh jam tiap hari bersama anak-anak kita, termasuk anak-anak kita yang hari ini di SLB. Harus dapat perhatian yang lebih khusus lagi," ujarnya.

 

 

Masih Banyak Anak Indonesia Mengalami Fatherless

Dia menegaskan bahwa anak berkebutuhan khusus juga memerlukan pendampingan lebih intensif dari orang tua dalam menggunakan teknologi. Sebab, paparan layar yang berlangsung selama berjam-jam dapat memengaruhi tumbuh kembang maupun pola interaksi anak.

"Saya ulangi, delapan sampai sepuluh jam setiap hari, everyday, mereka bergelut dengan handphone. Maka rata-rata orang tua mereka, bapak mereka, handphone," tambah Wihaji.

Selain menyoroti penggunaan handphone, Wihaji juga mengungkapkan bahwa sekitar 25 persen anak Indonesia mengalami fatherless, yaitu kehilangan kehadiran atau peran ayah dalam proses pengasuhan sehari-hari.

Menurutnya, banyak ayah yang bekerja keras mencari nafkah tapi tanpa disadari kurang mengetahui perkembangan anak, mulai dari jenjang pendidikan hingga aktivitas kesehariannya.

"Katanya ayah cari duit untuk keluarga, untuk anak-anaknya, tapi kadang-kadang lupa anaknya kelas berapa, sekolahnya bagaimana, dan pengasuhannya seperti apa. Semuanya diurus oleh ibu-ibu semua," ujar Wihaji.

 

Pentingnya Keterlibatan Seorang Ayah

Dia menekankan bahwa mencari nafkah memang merupakan tanggung jawab penting seorang ayah. Namun, keterlibatan emosional dan kehadiran dalam kehidupan anak juga tidak kalah penting untuk membentuk karakter generasi penerus.

Melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS), Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga berharap semakin banyak ayah terlibat aktif dalam kehidupan anak sejak usia dini.

Wihaji, mengatakan, mengantar anak ke sekolah bukan sekadar rutinitas harian, melainkan simbol kehadiran ayah yang dapat mempererat hubungan emosional, meningkatkan rasa percaya diri anak, serta menjadi fondasi pengasuhan yang lebih baik.