6 Ciri People Pleaser, Sosok yang Selalu Ingin Menyenangkan Orang Lain

Demi ingin diterima oleh lingkungan sosial, people pleaser kerap mengorbankan dirinya agar disukai oleh orang lain.

Diterbitkan 20 Juli 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasti Anda pernah mendengar istilah people pleaser. Ini adalah istilah yang digunakan bagi individu yang memiliki keinginan kuat untuk menyenangkan orang lain.

People pleaser ini basically membantu dengan motif untuk menyenangkan orang lain meski itu merugikan dirinya sendiri. Itu perbedaanya dengan orang yang benar-benar mau membantu, bisa memetakan kapasitasnya sampai mana bisa membantu atau tidak,” papar psikolog UGM, Smita Dinakaramani.

Terdapat beberapa ciri yang mencerminkan people pleaser yakni:

Pertama, memprioritaskan kepentingan maupun perasaan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Bahkan, jika hal tersebut merugikan dirinya sendiri tidak menjadi persoalan bagi people pleaser.

“People pleaser akan menaruh kebutuhan diri sendiri pada urutan paling akhir. Perasaan, kebutuhan, serta opini diri tidak lebih penting dari orang lain,” ucap Smita.

Kedua, people pleaser ingin terlihat sempurna sehingga ia dapat dilihat sebagai orang yang bisa menyenangkan semua orang seperti disampaikan dosen Fakultas Psikologi UGM ini.

Ketiga, people pleaser memiliki keinginan kuat semua orang untuk menyukai dirinya. Dalam dirinya ada keinginan untuk mendapatkan validasi diri yang baik dari orang lain yang sangat kuat.

Keempat, ia membiarkan dirinya untuk dimanfaatkan oleh orang lain. Kelima, mudah atau sering meminta maaf karena penuh dengan rasa bersalah maupun takut disalahkan. “Saat menolak atau menetapkan batasan kemudian muncul perasaan bersalah yang sangat mendalam,” imbuhnya.

Kelima, people pleaser juga takut terhadap konflik. Ada perasaan cemas, tidak nyaman, serta takut apabila tidak disetujui orang lain.

 

Siapa yang Rentan Jadi People Pleaser?

Smita mengatakan bahwa people pleaser bisa terjadi kepada siapa saja. Sebab hal yang wajar untuk memiliki keinginan agar disukai oleh orang lain.

“Ya ini bisa terjadi ke siapa saja karena pada dasarnya semua orang pengen diterima dan disukai,” ucap Smita.

Meski begitu, ada banyak penyebab atau faktor pendorong mengapa mereka menjadi people pleaser. Salah satunya, kepercayaan diri yang rendah. Saat melihat orang lain lebih keren maka orang dengan kepercayaan diri rendah akan menganggap bahwa perasaan maupun pendapatnya bukanlah hal yang penting dibandingkan perasaan dan pendapat orang lain.

“Orang-orang dengan kepercayaan diri rendah kalau mengatakan ya agar merasa jadi berguna, tetapi jika menyatakan no jadi merasa tidak berguna,” tuturnya.

Faktor lain, sikap people pleaser ditujukan untuk menghindari konflik dengan orang lain. Untuk menghindari konflik yang dilihat sebagai perbedaan menjadikan people pleaser berusaha menyamakan pendapatnya dengan orang lain.

Lalu, rasa cemas karena ingin bisa beradaptasi untuk bisa disukai orang lain. People pleaser memiliki kecemasan karena takut konflik dan ditolak.

“Semua motifnya ya agar semua suka,” katanya.

Lalu, faktor budaya juga menjadi salah satu faktor pendorong mengapa orang menjadi people pleaser. Misal suatu negara memiliki nilai-nilai untuk memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kepentingan diri sendiri akan mempengaruhi masyarakat didalamnya untuk menurunkan nilai tersebut.

Dampak People Pleaser

Sikap people pleaser ini apabila terus berlangsung bisa mengakibatkan kelelahan fisik dan mental. People pleaser yang berlebihan dapat berakibat sulitnya mengetahui keinginan diri sendiri (lost sense of self) karena segala yang dilakukan dan dipilihnya tergantung pada orang lain. Lalu, bisa menyebabkan perasaan tertekan karena tidak menjadi dirinya sendiri. Penampilan juga terabaikan karena acuh terhadap kepentingan diri sendiri.

“Sikap people pleaser juga bisa berdampak pada hubungan sosial. Saat di tempat kerja berusaha baik ke semua orang lalu sampai rumah sudah capek fisik mental kalau tidak pandai mengelola emosi akhirnya mudah marah pada anggota keluarga,” urainya.