Cara Penularan Hantavirus, Bisa Lewat Udara Terkontaminasi Kotoran Tikus

Selain itu, penularan hantavirus juga bisa terjadi lewat kontak langsung tikus yang terinfeksi virus hanta.

Diterbitkan 15 Mei 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Virus hanta atau hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat terutama tikus atau celurut. Penularan bisa terjadi ke manusia paling sering terjadi melalui airborne transmission yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.

"Selain itu, kontak langsung dengan sarang tikus atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh area wajah juga meningkatkan risiko penularan," kata dokter spesialis penyakit dalam Rio Yansen Cikutra dari Bethsaida Hospital Gading Serpong, Banten dalam pesan teks.

Rio juga mengatakan bahwa seseorang bisa terinfeksi hantavirus lewat gigitan tikus yang terinfeksi. Namun, kasus ini lebih jarang terjadi.

Pada strain Andes hantavirus seperti yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius yang kini tengah jadi sorotan penularan bisa antarmanusia. Meski begitu, strain yang banyak ditemukan di Argentina dan Chile ini baru bisa menularkan ketika ada kontak sangat erat.

Di Indonesia, kasus hantavirus yang tercatat di Kementerian Kesehatan dari 2024 hingga pekan epidemiologi ke-16 tercatat ada 23 konfirmasi virus hanta dengan 3 kematian. Berikut lingkungan yang perlu diwaspadai agar tidak tertular virus hanta:

  • Area dengan Populasi Tikus yang Tinggi: Lingkungan tempat tinggal atau area kerja yang menjadi sarang tikus adalah zona risiko utama.
  • Ruang Tertutup yang Lama Terabaikan: Membersihkan gudang, loteng, atau bangunan lama tanpa alat pelindung diri sangat berbahaya, karena debu yang mengandung virus dapat terhirup dengan mudah.
  • Sektor Pertanian dan Perkebunan: Pekerja di area lahan terbuka atau perkebunan memiliki risiko lebih tinggi karena kontak yang intens dengan habitat alami hewan pengerat.
  • Aktivitas di Alam Bebas: Berkemah atau beraktivitas di hutan dan area perkemahan tanpa menjaga higienitas makanan dan tempat tidur dapat meningkatkan peluang terpapar.
  • Kondisi Sanitasi yang Buruk: Lingkungan yang kotor dan tidak memiliki tata kelola sampah yang baik akan memicu kedatangan hewan pembawa virus.

 

Upaya yang Bisa Dilakukan

Rio mengatakan, mengingat tikus atau celurut merupakan hewan yang bisa membawa virus hanta. Maka dua hal ini yang bisa dilakukan :

  • Menutup Lubang di Dalam dan di Luar Rumah: Untuk mencegah hewan pengerat masuk ke dalam rumah/tempat kerja.
  • Menjaga Kebersihan Lingkungan Tempat Tinggal/Tempat Kerja: Gunakan metode pel basah (wet cleaning) di seluruh area untuk memastikan partikel berbahaya tidak terhirup. Apalagi jika menemukan jejak kotoran tikus.

Gejala Virus Hanta HFRS

Di Indonesia, virus Hanta menyebabkan kondisi Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan pembuluh darah. Gejala yang muncul meliputi demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise (lemas) dan ikterik atau janudice yakni tubuh menguning.

Rio mengingatkan jika merasakan gejala seperti demam tinggi yang disertai nyeri otot hebat, terutama setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

"Penanganan medis yang dilakukan sedini mungkin sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih berat," tambah Rio.

Bila ada dugaan suspek infeksi Hantavirus maka perlu mendapatkan penanganan medis di ruang isolasi agar kondisi pasien dapat dipantau secara intensif sekaligus mencegah penularan.

"Melalui ketersediaan fasilitas ruang isolasi yang modern dan tim medis yang kompeten, kami siap menjadi garda terdepan dalam menangani berbagai tantangan kesehatan masyarakat, termasuk risiko penyakit infeksi seperti hantavirus," kata Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong dokter Margareth Aryani Santoso.

Â