Diare Tak Kunjung Sembuh 2 Minggu? Bisa Jadi Radang Usus

Diare yang terjadi karena salah makan biasanya kondisi membaik dalam 2-5 hari. Jika Anda mengalami diare lebih dari 2 minggu maka perlu dicari tahu penyebabnya.

Diterbitkan 26 Mei 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - IBD (Inflammatory Bowel Disease) atau Penyakit Radang Usus memiliki gejala salah satunya diare atau mencret lebih dari dua minggu. Bila seseorang mengalami kondisi ini dan sudah coba diatasi tapi tak kunjung membaik maka perlu dicurigai penyakit radang usus.

"Umumnya efek dari salah makan yakni diare yang berlangsung 3-5 hari sudah selesai. Tapi kalau diare yang timbul karena IBD ini bisa sampai 2 minggu. Jika mengalami ini hati-hati," tutur dokter konsultan gastroentero hepatologi, Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, SpPD-KGEH, FINASIM, FACG, FASGE dari Eka Hospital MT Haryono Jakarta.

Biasanya gejala IBD lain adalah buang air besar berdarah, sakit perut, lemas, berat badan turun drastic, mudah lelah dan pucat, berat badan turun drastis. Murdani mengungkapkan gejala tersebut bisa muncul semuanya tapi bisa juga hanya salah satu. Meski begitu, ketika muncul salah satu perlu segera ditelusuri untuk menegakkan diagnosis.

Lebih lanjut, Murdani mengungkapkan bahwa gejala IBD sangat mirip dengan penyakit lain. Misalnya lemas, banyak orang lemas karena faktor penyakit lain. Maka tak jarang kasus IBD ini kerap luput dari perhatian tenaga medis dan masyarakat karena gejala mirip dengan penyakit lain.

"Ini agar waspada, apakah keluhan yang terjadi bagian dari IBD? Maka periksakan kesehatan jika mengalami dan pendalaman penyakit secara khusus," terang Murdani ditemui di Jakarta pada Senin, 25 Mei 2026.

Untuk memastikan keluhan yang terjadi pada pasien ada beberapa tahapan yang mesti dilakukan:

  1. Wawancara, dokter akan bertanya kepada pasien apa yang dialami lalu memeriksa atau meraba area tubuh yang sakit.
  2. Pemeriksaan darah.
  3. Pemeriksaan feses, salah satunya untuk mengetahui ada tidaknya darah pada feses.
  4. Kolonoskpi dan biopsi, ini tahapan yang tidak boleh dilewatkan untuk menegakkan diagnosis. "Jangan sekali-sekali minum IBD tanpa pemeriksaan kolonoskopi terlebih dahulu. Kolonoskopi persyaratan utama untuk melakukan pengobatan IBD," tutur Murdani.
  5. USG/CT Scan/ MRI sebagai pemeriksaan penunjang.

IBD memiliki dua jenis atau tipe yakni:

  • Kolitis ulseratif (ulcerative colitis): Peradangan kronis ini hanya terjadi pada lapisan usus besar dan rektum. Ciri khasnya adalah munculnya luka terbuka yang merata pada dinding saluran pencernaan menyebabkan perdarahan terus-menerus.
  • Penyakit Crohn (Crohn's disease): Peradangan ini menyerang bagian mana pun dari saluran pencernaan, mulai dari mulut hingga anus. Selain itu, peradangan pada Penyakit Crohn dapat menembus seluruh ketebalan dinding usus secara acak.

 

 

Penyebab IBD

Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab IBD. Namun, kehadiran penyakit ini ada kaitan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh (autoimun). Kondisi ini membuat pasien mengalami gangguan, bukannya melawan virus atau bakteri, mereka justru menyerang sel-sel sehat di saluran pencernaan sendiri secara agresif.

Murdani juga mengungkapkan fakta bahwa industrialisasi turut berpengaruh terhadap angka kasus penyakit radang usus. "Suatu negara yang lebih dulu mengalami industrialisasi kasus IBD-nya lebih dulu dari yang masih tertinggal. Faktor makanan, gaya hidup tampaknya berpengaruh di sini," tuturnya.

Ketika seorang pasien sudah tegak mengalami IBD, maka pengobatan penyakit radang usus akan disesuaikan dengan kondisi. Pada beberapa kasus pemberian obat tahap awal sudah membantu pasien. Namun, jika kondisi tidak membaik maka perlu dilakukan pemberian atau mencari obat yang lebih tepat.

Tindakan bedah adalah pilihan terakhir jika obat-obatan sudah tidak mempan atau telah terjadi komplikasi serius seperti kebocoran dan penyumbatan usus.

Murdani juga mengungkapkan bahwa penyakit radang usus adalah penyakit kronik yang berarti belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkannya secara tuntas.

Namun, kabar baiknya adalah dengan pengobatan dan perawatan yang tepat, peradangan dapat dikontrol, gejala bisa diredakan, dan penderita bisa mencapai fase remisi yang panjang, bahkan hidup normal. Lalu, pasien pun diminta untuk mengatur pola makan salah satunya menghindari gula dan produk yang mengandung emulsifier.

"Penanganan medis dapat menekan peradangan secara signifikan hingga pasien mencapai fase remisi (fase bebas gejala)," pesannya.

Jika IBD Telat Ditangani

Penanganan IBD secara dini bisa meningkatkan kualitas hidup pasien dan bisa menjalani kehidupan seperti biasa.

Namun, jika tidak ditangani, penyakit radang usus bisa menyebabkan komplikasi diantaranya:

● Penyumbatan usus Peradangan kronis yang sembuh akan meninggalkan jaringan parut. Jaringan parut ini lambat laun menebal dan menyempitkan saluran usus sehingga makanan tidak dapat lewat.

● Fistula: Terbentuknya saluran abnormal menembus dinding usus yang menghubungkan satu organ ke organ lain, seperti usus ke kulit atau usus ke kandung kemih.

● Perforasi usus: Dinding usus yang terus terkikis oleh luka lama-kelamaan dapat robek atau bocor, menyebabkan feses masuk ke rongga perut dan memicu infeksi berat .

● Kanker usus besar: Pasien Kolitis Ulseratif jangka panjang memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk terkena kanker kolon, sehingga memerlukan skrining berkala secara rutin.