Putus Cinta, Siapa yang Lebih Cepat Move On: Pria atau Wanita?

Berbagai survei menunjukkan pria lebih cepat move on usai putus cinta. Namun, terapis hubungan ungkap hal berbeda.

Diterbitkan 10 Juli 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari ini pecinta hiburan Korea kaget dengan kabar aktris dan penyanyi IU putus dari Lee Jong Suk. Setelah menjalin hubungan asmara empat tahun, hubungan cinta mereka kandas. 

Kabar tersebut kembali memunculkan pertanyaan yang kerap menjadi perdebatan, yakni siapa yang sebenarnya lebih cepat bangkit setelah putus cinta, pria atau wanita?

Sejumlah data, seperti hasil survei menunjukkan bahwa pria cenderung lebih cepat pulih setelah putus cinta dibandingkan perempuan. Hal itu diungkapkan oleh Paul Hokemeyer, PhD, terapis pernikahan dan keluarga sekaligus penulis buku Fragile Power: Why Having Everything Is Never Enough.

Namun, berdasarkan pengalamannya menangani pasangan selama hampir dua dekade, Hokemeyer menilai tidak ada perbedaan yang berarti antara pria dan perempuan dalam hal kecepatan move on setelah hubungan berakhir.

"Saya tidak melihat adanya perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam hal seberapa cepat mereka pulih dari berakhirnya sebuah hubungan," kata Hokemayer seperti mengutip The Healthy, Jumat (10/7/2026).

Anggapan bahwa pria lebih cepat move on usai putus cinta masih begitu melekat karena dipengaruhi oleh norma sosial. Selama ini, perempuan dinilai lebih diterima untuk mengekspresikan emosinya secara terbuka. Sementara itu, pria lebih sering menghadapi tuntutan budaya yang mengharuskan mereka terlihat tegar dan tidak menunjukkan perasaan, terutama dalam urusan percintaan.        

 

 

Beda Pria dan Wanita Hadapi Putus Cinta

Hokemeyer menjelaskan bahwa sebenarnya terdapat perbedaan biologis dan fisiologis antara pria dan wanita menghadapi putus cinta.

"Pria cenderung memprosesnya ke dalam diri, sedangkan wanita cenderung mengungkapkannya ke luar," katanya.

Pria memproses perpisahan secara internal melalui korteks prefrontal mereka, dengan cara merasionalisasi rasa sakit yang mereka alami. "Sebaliknya, wanita cenderung mencari jalan keluar secara eksternal seperti berbicara dengan sahabat dan mencari bantuan dari pihak luar. Melalui proses ini, mereka membiarkan sistem limbik mereka melakukan penyesuaian ulang dan mengintegrasikan pengalaman tersebut secara emosional, bukan sekadar secara intelektual," jelasnya. 

Masa pemrosesan emosional ini menjadi salah satu alasan para peneliti, seperti dalam sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa pria justru membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar pulih dari patah hati dibandingkan wanita.