Jemaah Haji Sakit Diprioritaskan Pulang Lebih Cepat, Ini Skemanya

Skema khusus pemulangan jemaah haji sakit bikin proses pulang ke Indonesia dipercepat di Arab Saudi.

Diterbitkan 05 Juni 2026, 06:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makkah - Petugas kesehatan haji menyiapkan skema khusus untuk mempercepat pemulangan jemaah Indonesia yang baru menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi menjelang akhir operasional haji 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, dr. Dani Pramudya, mengatakan, petugas langsung mengajukan proses pemulangan begitu jemaah dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit.

"Jadi baru pulang dari rumah sakit, kita langsung daftarkan untuk cepat dipulangkan," kata Dani pada tim Media Center Haji di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah pada Kamis, 4 Juni 2026.

Petugas kesehatan menjalankan proses tersebut bersama petugas kloter. Setelah pasien kembali dari rumah sakit, tim segera mengurus administrasi dan menempatkan jemaah pada kelompok terbang (kloter) yang memiliki jadwal kepulangan lebih awal.

"Jadi kalau sama-sama dari Surabaya, misalnya, bisa kita ikutkan di kloter yang berangkat lebih dulu," ujarnya. Petugas mempertimbangkan kondisi kesehatan sebagai faktor utama dalam penentuan prioritas pemulangan.

Selain itu, sebagian besar jemaah yang menjalani perawatan juga telah menyelesaikan rangkaian pokok ibadah haji sehingga tidak lagi memiliki kewajiban ibadah yang harus dituntaskan.

Dani mengatakan mekanisme tersebut tidak berlaku untuk seluruh pasien. Jemaah yang masih berada dalam kondisi kritis memerlukan evaluasi lanjutan sebelum diputuskan dapat kembali ke Indonesia.

Dia menyebut pasien yang mengalami penurunan kesadaran atau membutuhkan ventilator berpotensi menjalani perawatan lebih lama di Arab Saudi.

Petugas kesehatan terus memantau perkembangan pasien kategori berat untuk menentukan langkah terbaik menjelang berakhirnya operasional haji.

Untuk mendukung layanan kesehatan selama operasional haji, KKHI Makkah mengerahkan sekitar 200 personel yang terdiri dari dokter, perawat, dan tenaga pendukung.

Tim tersebut bekerja selama 24 jam untuk menangani observasi pasien, layanan laboratorium, rontgen, serta koordinasi rujukan dan pemulangan jemaah sakit.

Dani mengatakan KKHI juga didukung enam dokter spesialis, antara lain spesialis jantung, penyakit dalam, paru, dan kesehatan jiwa.