Bukan Kebetulan, Psikolog Ungkap Faktor di Balik Sikap El Barack

Psikolog, Ayoe Sutomo, mengungkap alasan El Barack tumbuh jadi anak yang penuh empati.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 11:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Video yang memperlihatkan kepedulian El Barack kepada adiknya, Hagia Alyara Verhaag, viral di media sosial. Putra sulung Jessica Iskandar itu terlihat mengambil alih menjaga sang adik agar suster yang mengasuh Hagia bisa makan dengan tenang.

Aksi tersebut menuai banyak pujian dari warganet. Tak sedikit yang kemudian bertanya-tanya, pola asuh seperti apa yang dapat membentuk anak menjadi penuh empati seperti El?

Psikolog Anak, Remaja, & Keluarga di Fyn Clinic, Ayoe Sutomo, mengatakan salah satu faktor yang dapat membentuk karakter tersebut adalah kebiasaan orang tua melibatkan anak dalam proses pengasuhan adik sejak usia dini.

"Ini bisa merupakan output hasil dari orang tua yang senantiasa melibatkan kakak dalam momen-momen pengasuhan adik sejak dini. Jadi, bukannya dimarahi kalau dia memegang adiknya atau dilarang saat dia memegang adiknya, tetapi memang sudah diajak untuk terlibat sejak si adik masih kecil," kata Ayoe kepada Kesehatan Liputan6.com pada Selasa (21/7/2026).

Menurut Ayoe, keterlibatan tersebut dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, rasa mampu, dan kepercayaan diri anak dalam membantu adiknya karena sejak kecil ia sudah dipercaya dan dilibatkan dalam aktivitas sehari-hari.

Meski demikian, Ayoe mengingatkan bahwa orang tua perlu memastikan keterlibatan anak dilakukan secara wajar dan tidak berubah menjadi beban.

"Yang agak-agak perlu diperhatikan dalam pengasuhannya seperti ini adalah orang tua perlu peka untuk melihat apakah anak masih dalam batasan dia happy dan senang melakukan itu semua dan enggak merasa terbebani," tambahnya.

Menurutnya, jika anak mulai merasa terpaksa atau memikul tanggung jawab yang seharusnya menjadi tugas orang tua, kondisi tersebut dapat mengarah pada parentifikasi.

"Karena ketika kemudian anak merasa terbebani, jatuhnya kan jadi parentifikasi, ya. Di mana anak jadi menggantikan peran orang tua untuk melakukan tanggung jawab-tanggung jawab yang dilakukan oleh orang tua," ujar Ayoe.

Oleh sebab itu, mengajarkan kakak membantu mengasuh adik tetap boleh dilakukan selama anak melakukannya dengan sukarela dan merasa senang.

"Jadi ngajarinya boleh, tapi pastiin kalau misalnya anaknya juga dengan senang hati untuk melakukan ini karena emang dia happy dan mau dan senang untuk melakukan itu," katanya.

Orang Tua Jadi Contoh Pertama bagi Anak

Selain melibatkan anak dalam pengasuhan adik, Ayoe mengatakan orang tua juga berperan sebagai teladan dalam memperlakukan orang lain, termasuk pengasuh di rumah.

"Pengasuh itu juga merupakan bagian dari rumah kita yang setara. Orang tua mencontohkan bagaimana menghargai waktu pengasuh dan bagaimana memperlakukannya. Pada akhirnya anak-anak pun akan mencontoh tindakan orang tuanya," katanya.

Dia, menambahkan, nilai-nilai empati juga dibangun melalui kebiasaan sederhana yang terus diucapkan dalam keseharian. Misalnya, orang tua mengajak anak bergantian menjaga adik agar pengasuh bisa makan atau beristirahat.

Menurut Ayoe, ucapan-ucapan seperti itu, jika terus diulang, akan terinternalisasi menjadi nilai yang kemudian tercermin dalam perilaku anak.

Berawal dari Secure Attachment

Ayoe menjelaskan bahwa pola asuh tersebut pada akhirnya berkontribusi membentuk secure attachment atau kelekatan yang aman antara anak dan orang tua. Ketika kebutuhan emosinya terpenuhi, anak memiliki kapasitas lebih besar untuk peduli kepada orang lain.

"Jadi, karena memang punya kelekatan aman dengan orang tuanya, biasanya dia jadi lebih mudah untuk kemudian hadir buat orang lain, membantu orang lain," katanya.

Dia menambahkan bahwa anak dengan secure attachment tidak hanya lebih stabil secara emosional tapi juga lebih mudah memahami kondisi orang lain.

"Kenapa? Karena dia sendiri sudah penuh secara emosi, sehingga dia punya kapasitas lebih secara emosi untuk hadir buat orang lain, bantu orang lain, atau memudahkan pekerjaan orang lain," tambahnya.

Hal itu pula yang membuat hubungan kakak dan adik lebih banyak diwarnai rasa saling menjaga dibandingkan persaingan.

"Jadi, relasinya dengan adik itu nggak berupa rivalitas, tapi output-nya adalah dalam bentuk saling menjaga. Nah, itu yang bisa kelihatan, ya nyuapin atau nemenin main," katanya.

Menurut Ayoe, sikap El yang mengajak suster bergantian makan menunjukkan bahwa dia tidak hanya peduli kepada adiknya tapi juga mampu memahami kebutuhan orang lain.

"Sebenarnya anak ini punya empati yang tinggi untuk tahu kondisi orang lain, berusaha untuk menempatkan dirinya dalam posisi orang lain, dan kemudian melakukan sesuatu untuk membantu orang lain yang dia tahu mungkin butuh bantuan dalam situasi-situasi tertentu," pungkasnya.