Usai Cedera Kepala, Dokter Lebih Khawatir Pasien Pingsan daripada Benjol Besar

Benjol besar relatif lebih aman ketimbang seseorang yang sempat hilang kesadaran usai cedera kepala.

Diterbitkan 10 Juni 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian pasien cedera kepala tidak merasakan sakit usai kejadian trauma di area tersebut. Dari luar pun tidak ada tanda yang kentara seperti benjol apalagi berdarah. Namun, jika pasien sempat hilang kesadaran itu perlu diwaspadai seperti disampaikan dokter spesialis bedah saraf tulang belakang, Lamhot Asnir Lumbantobing, hal inilah yang perlu diwaspadai.

“Justru buat kita dokter bedah saraf, kita selalu bilang benjol di kepala segede bagong mah saya enggak takut. Yang saya takut, tidak benjol di luar tapi pasien lupa kejadian (kecelakaannya),” kata dokter yang bertugas di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta itu.

“Kenapa? Karena saat hilang kesadaran itu menunjukkan bahwa fungsi otak, fungsi saraf otak, fungsi menghantarkan listrik di otak itu terganggu, justru itu yang lebih penting,” imbuhnya.

Artinya, jika hanya sekadar benjol di luar tanpa disertai lupa (amnesia), kejang-kejang, dan muntah itu justru cenderung aman.

Jika sudah ada gejala lupa atau hilang kesadaran, maka pemeriksaan perlu tetap dilakukan meski tidak ada rasa sakit di kepala.

“Otak rusak itu kadang tidak menimbulkan rasa sakit tapi di dalamnya bisa aja sudah ada memar,” kata Lamhot dalam siaran Instagram Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dikutip pada Rabu, 10 Juni 2026.

Tingkat Keparahan Cedera Kepala

Cedera kepala adalah kejadian trauma pada kepala dan jaringan sekitarnya yang menimbulkan gangguan fungsi saraf.

Cedera ini dapat terjadi akibat benturan kepala ke benda padat seperti dalam kecelakaan lalu lintas, bisa pula karena benda padat menimpa kepala.

Menurut Lamhot, secara awam cedera kepala dibagi tiga yakni ringan, sedang, dan berat. Namun, di kedokteran bedah saraf secara umum, cedera kepala dibagi dalam beberapa klasifikasi berdasarkan tingkat kesadaran pasien.

Cedera kepala ringan ditandai dengan pasien mengalami sakit kepala usai benturan, sempat tidak sadar sebentar kemudian normal kembali dan cenderung merasa mengantuk.

Sedangkan, cedera kepala sedang ditandai dengan kesadaran pasien lebih buruk tapi masih bisa dibangunkan dengan rangsangan yang cukup.

Pada cedera kepala berat, kesadaran pasien sangat buruk, ketika dokter memberikan rangsang nyeri yakni dengan dicubit, pasien tetap tidak sadar.

“Cedera kepala berat itu ketika pasien datang dalam kondisi koma, sudah tidak memberi respons apa-apa,” katanya.

Dalam setiap kasus cedera kepala, Lamhot mengimbau pasien agar tidak terlalu takut tapi juga tidak terlalu meremehkannya. Pasalnya, gejala cedera kepala memiliki rentang yang luas. Kuncinya, jenis cedera kepala yang perlu diwaspadai adalah cedera yang membuat pasien sempat hilang kesadaran.

“Ini harus langsung ditangkap sebagai cedera kepala yang serius beda dengan hanya kejedot tembok,” ujar Lamhot.

Meski begitu, Lamhot mengingatkan bahwa benturan yang dianggap ringan oleh kelompok usia muda, bisa berdampak besar jika terjadi pada lanjut usia (lansia).

“Kejedot tembok, kejedot jendela itu juga bermakna tapi secara umum itu aman. Tapi pada kelompok usia tua, cedera kepala yang sangat ringan, yang buat kita itu tidak ada apa-apanya bagi usia tua atau pasien tertentu misalnya pasien perdarahan, itu bisa bermakna.”

Secara umum, jika cedera kepala tidak memicu hilangnya kesadaran dan hanya meninggalkan rasa nyeri di daerah yang terbentur, itu relatif aman.