[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Dampak Dolar Naik pada Sektor Kesehatan

Selain harga obat yang kemungkinan naik, ada beberapa aspek dari sektor kesehatan imbas dolar naik.

Diterbitkan 10 Juni 2026, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Prof Tjandra merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran UI juga Direktur Program Pasca Sarjana Universitas YARSI Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta - Per 9 Juni 2026, nilai tukar dolar AS telah menembus level Rp 18 ribu. Selain berbagai dampaknya pada kehidupan maka baik kita bahas tentang lima potensi dampaknya pada kesehatan.

Pertama adalah kemungkinan naiknya harga obat karena sebagian besar bahan baku obat kita masih di impor. Di media massa kita baca bahwa pemerintah mencoba mengendalikan potensi kenaikan harga obat dengan melakukan relaksasi pengadaan yang memberikan fleksibilitas bagi industri farmasi untuk mencari dan mengalihkan pasokan bahan baku obat ke negara lain yang menawarkan harga lebih terjangkau.

Juga diberitakan ada kemungkinan penyesuaian kemasan dengan mengizinkan penyesuaian bentuk atau ukuran kemasan demi efisiensi biaya produksi.

Dampak kedua adalah harga bahan lain seperti cartridge, test strip dan lain-lain untuk berbagai tes pemeriksaan diagnostik. Seperti juga bahan baku obat maka tidak sedikit reagen dan bahan-bahan ini yang masih impor.

Dampak ketiga adalah terhadap harga alat-alat kesehatan yang besar dan canggih yang kebanyakan impor. Ini tentu punya potensi dampak bagi masyarakat yang memerlukan pemeriksaan alat canggih di rumah sakit.

Selain tiga di atas, dampak keempat adalah kenaikan nilai dolar yang menimbulkan tekanan finansial pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Bukan tidak mungkin menjadi salah satu pemicu stres dan gangguan kesehatan mental.

Dampak kelima, di jangka lebih panjang maka kalau kenaikan dolar ini tidak dapat segera diperbaiki tentu akan berdampak pada daya beli masyarakat. Termasuk daya beli untuk makanan bergizi dan juga pelayanan kesehatan.

Kita berharap agar situasi ekonomi ini dapat segera membaik. Bukan hanya akan baik bagi situasi ekonomi tetapi juga akan baik bagi kesehatan bangsa

** Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University Australia, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes, Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025