DBD Masih Jadi Tantangan, Kemenkes Catat 39.672 Kasus hingga Mei

Selain gerakan 3M plus, upaya inovasi seperti penyebaran nyamuk ber-Wolbachia untuk menekan kasus DBD.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Prima Yosephine mengatakan bahwa demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi tantangan di Indonesia.

“Tahun lalu, 2025, tercatat kita ada kasus dengue sebanyak 161.752 dengan 673 kematian dan tahun ini sampai bulan Mei sudah ada 39.672 kasus dengan kematian 105,” kata Prima yang hadir secara daring (dalam jaringan) di Asean Dengue Day pada Kamis, 11 Juni 2026.

Berbagai upaya telah dilakukan, sambung Prima, mulai dari pengendalian vektor, penguatan surveilans, tatalaksana klinis, dan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan 3M Plus. Gerakan ini terdiri dari:

  • Menguras tempat penampungan air
  • Menutup tempat-tempat penampungan air
  • Mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia.

Selain 3M di atas yang dimaksud pada poin Plus antara lain:

  • Menanam tanaman yang dapat menangkal nyamuk
  • Memeriksa tempat-tempat yang digunakan untuk penampungan air
  • Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk
  • Menggunakan obat anti nyamuk
  • Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi yang ada di rumah
  • Melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan secara bersama
  • Meletakkan pakaian yang telah digunakan dalam wadah yang tertutup
  • Memberikan larvasida pada penampungan air yang susah untuk dikuras
  • Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar.

“Serta inovasi seperti Wolbachia maupun vaksin dengue. Tantangan kita saat ini adalah memastikan semua upaya tersebut berjalan dalam satu kerangka nasional terpadu, berbasis bukti, dan didukung koordinasi lintas sektor yang kuat,” ujar Prima.

 

Target Nol Kematian Akibat Dengue

Prima menambahkan, Indonesia tengah berupaya mengejar target nol kematian akibat dengue alias zero dengue death pada 2030.

“Target zero dengue death 2030 tentu bukan target yang sederhana kalau kita lihat keadaan kita saat ini. Tentu untuk mencapainya diperlukan penguatan di berbagai aspek,” kata Prima.

Beberapa aspek yang perlu dikuatkan adalah:

  • Penguatan tata kelola program
  • Penguatan surveilans dan pelaporan kasus
  • Integrasi data nasional
  • Peningkatan akses diagnosis
  • Tata kelola klinis
  • Pengendalian vektor yang efektif
  • Peningkatan pemberdayaan masyarakat
  • Penguatan dukungan pembiayaan berkelanjutan.

“Keberhasilan dari pengendalian dengue tidak bisa dilakukan oleh sektor kesehatan saja, dibutuhkan keterlibatan aktif dari pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, dan mitra pembangunan.”

“Pendekatan kolaboratif dan berbasis bukti harus menjadi fondasi utama kita dalam setiap kebijakan dan implementasi program,” pungkasnya.