Skrining TB dan CKG di 532 Lapas dan Rutan, Sasar 321 Ribu Orang

Tak hanya warga binaan, petugas lapas dan rutan juga menjalani skrining tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Diterbitkan 30 Juni 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Warga binaan yang berada di rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas) memiliki hak atas layanan kesehatan. Maka dari itu, warga binaan juga mendapatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta skrining tuberkulosis (TB).

Tak hanya warga binaan, seluruh petugas pemasyarakatan di seluruh Indonesia juga bakal menjalani pemeriksaan kesehatan tersebut.

"Pak Presiden berpesan agar program ini dilakukan kepada seluruh masyarakat, siapa pun mereka, termasuk 272 ribu warga binaan di lebih dari 532 lapas dan rutan di seluruh Indonesia," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam ‘Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG)’ di Lapas Kelas IIA Ngaseman, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Senin (29/6/2026).

Budi berharap pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat membantu warga binaan menjaga kesehatannya selama menjalani masa pidana. Dengan demikian, saat kembali ke masyarakat, mereka tetap sehat dan memiliki usia harapan hidup yang sama dengan rata-rata masyarakat Indonesia, yakni 74 tahun.

Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menjelaskan bahwa secara nasional program ini akan menyasar total 321.449 peserta yang terdiri dari 272.573 warga binaan dan 48.876 petugas di 532 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang tersebar di 34 provinsi. Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026.

Sebagai tahap awal, peluncuran di Nusakambangan dilaksanakan selama empat hari, mulai 29 Juni hingga 1 Juli 2026, dengan target 5.768 orang, yang terdiri atas 4.842 warga binaan dan 926 petugas.

Paket layanan Cek Kesehatan Gratis yang diberikan meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, tes cepat (rapid diagnostic test/RDT) HIV, skrining TB menggunakan foto rontgen dada, serta pengambilan sampel dahak bagi peserta yang bergejala untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

 

 

Risiko Penularan TB Tinggi di Lapas

Budi juga menyoroti tingginya risiko penularan tuberkulosis (TB) di lingkungan lembaga pemasyarakatan. Berdasarkan data, prevalensi kasus TB di lapas mencapai 0,54 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 0,3 persen.

Kondisi warga binaan yang tinggal dalam lingkungan padat dengan jarak antarpenghuni yang berdekatan menyebabkan risiko penularan penyakit menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, skrining rutin menggunakan foto rontgen dada menjadi langkah yang sangat penting.

"TB ini menular dan jangan dianggap remeh. Tapi pengobatannya ada. Kalau ketahuan sejak awal, diobati pasti sembuh dan tidak menularkan lagi. Inilah mengapa skrining TB kita lakukan di lapas agar angka kematian akibat TB bisa menurun tajam," jelas Budi mengutip keterangan tertulis Kemenkes.

Koordinasi Lintas Sektor

Pada kesempatan yang sama, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyatakan komitmen penuh jajarannya untuk menyukseskan program deteksi dini tersebut. Ia menyambut baik kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dalam mendukung target eliminasi TB di Indonesia pada 2030.

"Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India. Oleh karena itu, diperlukan langkah luar biasa, termasuk deteksi dini di lingkungan pemasyarakatan yang memiliki risiko penularan tinggi," tegas Agus.

Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, Menimipas juga telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan terkait pemenuhan sarana dan prasarana di klinik lapas dan rutan.

"Sebagian alat kesehatan sudah kami terima, dan ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi warga binaan," tambahnya.

Cegah Stroke

Budi mengatakan pentingnya deteksi dini untuk mencegah penyakit tidak menular, seperti stroke dan penyakit jantung. Ia berpesan kepada warga binaan maupun petugas agar disiplin menjaga tiga indikator kesehatan utama, yaitu tekanan darah. kadar gula darah dan kolesterol.

“Risiko stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal dapat dikurangi dengan menjaga tekanan darah tetap di bawah 120/80 mmHg, kadar gula darah di bawah 200 mg/dL, serta kolesterol di bawah 200 mg/dL,” katanya.