Panti Wreda Bukan Tempat Buangan tapi Ruang Lansia Tetap Aktif

Panti wreda alias panti jompo kerap dianggap sebagai tempat 'membuang' orang tua, menurut Bappenas anggapan ini perlu diubah.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Panti wreda atau dikenal pula dengan panti jompo tak sepatutnya dipandang sebagai tempat dengan konotasi negatif.

Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Maliki menilai, sudah waktunya paradigma soal panti wreda di Indonesia berubah.

“Perempuan lansia (lanjut usia) usia harapan hidupnya lebih panjang dan kecenderungannya kalau lansia perempuan ditinggal meninggal oleh suaminya, mereka enggak akan nikah lagi, biasanya seperti itu. Ada satu periode mereka itu harus hidup sendirian, apalagi kalau anak-anaknya di luar kota,” kata Maliki kepada Kesehatan Liputan6.com saat ditemui di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

“Nah, sebenarnya kita harus mengubah paradigma tentang panti jompo atau panti wreda. Kita ubah jadi senior living misalnya, rumah senior, jadi kita tidak menempatkan itu sebagai tempat buangan, tetapi bagaimana kita menciptakan fasilitas pemulihan ekonomi dan sosial, bagaimana mereka berinteraksi dengan baik,” paparnya.

Interaksi antar lansia dapat membuat mereka menjadi lebih sehat. Sarana pun harus lebih ramah supaya tingkat kesehatan lansia menjadi lebih baik, termasuk tempat untuk ibadah tak boleh liput dari perhatian.

“Jadi, paradigma itu jangan sampai melihat panti wreda sebagai pembuangan. Itu kondisional, kalau anaknya masih bisa merawat ya enggak apa-apa, tapi kalau memang dia membutuhkan tempat lain untuk menua saya kira itu hak mereka untuk memilih,” ujarnya.

Indonesia adalah Tempat yang Baik bagi Lansia

Maliki juga mengatakan bahwa Indonesia adalah tempat yang baik bagi lansia dan para pensiunan.

“Indonesia kan hangat ya, cuacanya hangat tidak terlalu panas. Enggak akan dingin juga seperti ada salju dan sebagainya, ini tempat yang cukup baik bagi orang-orang yang sudah pensiun, yang mungkin punya masalah tulang dan sebagainya,” kata Maliki.

Jika dibangun sebuah area ramah lansia di Indonesia, maka Maliki menilai akan banyak ketertarikan pula dari lansia-lansia mancanegara.

“Kalau kita bangun satu area yang memang ramah lansia, akan banyak ketertarikan juga dari luar (negeri). Misalnya di Florida ada rumah pensiun nah di kita juga bisa bangun juga beberapa area yang seharusnya bisa menjadi seperti itu,” ujar Maliki.

Di Indonesia, tempat serupa ada di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Di mana ada sebuah daerah yang dihuni para pensiunan.

“Misalnya Kabupaten Majalengka, itu terkenal dengan kabupaten pensiunan karena isinya pensiunan semua. Bisa aja suatu saat kita menciptakan satu daerah yang khusus untuk orang pensiunan semua, why not, suatu saat nanti,” kata anggota komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Hj. Selly Andriany Gantina dalam kesempatan yang sama.

Picu Perputaran Silver Economy

Kabupaten ramah lansia secara otomatis diyakini dapat memicu perputaran silver economy. Istilah ini merujuk pada segala bentuk aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan populasi lansia.

“Lingkungan ramah lansia, ada lansia yang sendiri dan lansia yang hidup dengan keluarga. Otomatis kita akan menciptakan satu ruang baru, kelembagaan baru. Pada saat ada kelembagaan baru, maka kan akan menciptakan suatu potensi lapangan ekonomi baru,” kata Selly.

“Misalnya rumah jompo baru, penitipan, otomatis kan akan menciptakan satu ruang baru, kerjaan baru. Kalau dikelola dengan baik, tentu ini akan menciptakan lapangan kerja baru untuk susternya, nersnya, segala macam yang ramah terhadap lansia,” pungkasnya.