Fakta Menarik Kulit Pisang yang Kerap Bikin Tokoh Kartun Kepleset

Kupas fakta ilmiah di balik kulit pisang yang identik dengan adegan tokoh kartun kepleset.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Generasi 90-an tentu sudah akrab dengan adegan ikonik di kartun seperti Tom and Jerry atau gim Mario Kart. Ketika karakter menginjak kulit pisang, mereka langsung kepleset, melayang di udara, lalu jatuh secara dramatis.

Selama bertahun-tahun, banyak orang menganggap adegan tersebut hanya sekadar lelucon untuk mengundang tawa. Namun, benarkah kulit pisang memang licin dan bisa membuat seseorang terpeleset, atau itu hanya mitos?

Mengutip Mental Floss pada Selasa (7/7/2026), kisah ini berawal pada pertengahan abad ke-19 ketika Carl B. Frank mulai mengimpor pisang dari Panama ke New York City, Amerika Serikat. Buah tropis tersebut dengan cepat menjadi salah satu makanan jalanan paling populer.

Sayangnya, popularitas pisang tidak diimbangi dengan sistem sanitasi yang baik. Saat itu, masyarakat masih terbiasa membuang sampah sembarangan ke jalan. Kulit pisang yang membusuk berubah menjadi lapisan berlendir yang sangat licin sehingga membahayakan pejalan kaki.

Akibat banyaknya kecelakaan, kulit pisang bahkan sempat menjadi simbol perilaku jorok dan buruknya tata krama. Pada 1909, Dewan Kota St. Louis mengeluarkan aturan yang melarang masyarakat membuang kulit pisang di jalan umum.

Masalah sampah kulit pisang di New York akhirnya mulai teratasi pada awal abad ke-20 berkat gerakan kebersihan yang dipimpin mantan kolonel Perang Saudara Amerika, George Waring. Gerakan tersebut kemudian tercatat sebagai salah satu program daur ulang berskala besar pertama di Amerika Serikat.

Dari Jalanan ke Panggung Komedi

Setelah jalanan mulai bersih, kulit pisang justru beralih fungsi menjadi properti komedi. Adegan terpeleset kulit pisang pertama kali dipopulerkan di panggung vaudeville oleh komedian "Sliding" Billy Watson.

Watson mengaku mendapat inspirasi setelah melihat langsung seorang pria yang kesulitan menjaga keseimbangan usai menginjak kulit pisang di jalan.

Adegan tersebut kemudian diadaptasi ke layar lebar melalui film bisu The Flirt karya Harold Lloyd. Dalam salah satu adegan, karakter Lloyd melempar kulit pisang ke lantai restoran hingga seorang pelayan menginjaknya, terpeleset, dan memicu kekacauan. Sejak saat itu, adegan serupa terus muncul dalam berbagai film kartun klasik.

 

Benarkah Kulit Pisang Masih Bisa Membuat Orang Terpeleset?

Di era modern, sol sepatu telah dirancang dengan daya cengkeram yang jauh lebih baik untuk mengurangi risiko tergelincir. Lantas, apakah kulit pisang masih benar-benar berbahaya?

Program televisi MythBusters pernah menguji mitos ini pada 2009. Saat hanya menginjak satu kulit pisang, presenter tidak sampai terjatuh. Namun, ketika lantai beton dipenuhi banyak kulit pisang, presenter Adam Savage terpeleset enam kali hanya dalam waktu satu menit.

Menurut Smithsonian Magazine, kulit pisang memang lebih licin dibandingkan kulit buah lainnya karena mengandung gel yang kaya molekul polisakarida. Artinya, meski kejadian ini sudah jauh lebih jarang dibandingkan pada abad ke-19, kulit pisang tetap memiliki potensi menyebabkan seseorang terpeleset.

Di balik reputasinya sebagai penyebab orang kepleset, kulit pisang ternyata memiliki manfaat yang tidak banyak diketahui.

Mengutip NPR, Selasa (7/7/2026), seorang ilmuwan asal Brasil berhasil memanfaatkan limbah kulit pisang untuk membantu menyaring air yang tercemar logam berat akibat aktivitas pertambangan.

Peneliti tersebut adalah Gustavo Castro, pakar kimia lingkungan dari São Paulo State University. Berawal dari rasa penasasarannya terhadap kandungan nutrisi kulit pisang, Castro kemudian meneliti komposisi kimianya secara lebih mendalam.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Industrial & Engineering Chemistry Research terbitan American Chemical Society menunjukkan bahwa kulit pisang mengandung nitrogen, sulfur, serta senyawa organik berupa asam karboksilat (carboxylic acids).

Senyawa tersebut memiliki kemampuan alami mengikat logam berat bermuatan positif yang mencemari sungai akibat limbah industri dan pertambangan.

Dalam pengujian laboratorium, kulit pisang menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam menyerap kontaminan sehingga berpotensi menjadi bahan penyaring air yang murah, ramah lingkungan, dan mudah diperoleh.