Di Balik Bedah Robotik, Ada Tangan Dokter yang Mengendalikan

Bedah robotik bukan berarti robot bekerja sendiri. Dokter tetap memegang kendali penuh selama operasi.

Diterbitkan 23 September 2026, 13:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mendengar istilah bedah robotik, sebagian pasien mungkin langsung membayangkan mesin yang bergerak sendiri di dalam tubuh. Kekhawatiran itu bahkan bisa muncul sebelum operasi dimulai.

Pertanyaan seperti 'Dok, serem banget dioperasi sama robot' cukup sering didengar Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSU Bunda Jakarta, dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, M.Sc. (Humrepro), FESICOG, MIGS. Menurutnya, ketakutan pasien terhadap bedah robotik merupakan hal yang wajar, terutama karena teknologi tersebut masih terdengar asing bagi sebagian orang.

Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami. Robot tidak mengoperasi pasien secara mandiri. Dokter tetap berada di balik setiap gerakan instrumen.

Dalam prosedurnya, kata Sita, dokter duduk di konsol yang berada beberapa meter dari meja operasi. Dari sana, gerakan tangan dan jari dokter diterjemahkan menjadi gerakan instrumen robotik yang bekerja di dalam tubuh pasien.

Dengan kata lain, ketika tangan dokter tidak bergerak, instrumen robotik juga tidak akan bergerak. "Robot ini alat bantu, bukan pengambil keputusan. Semua gerakan di dalam tubuh pasien itu dokter yang kendalikan, dari awal sampai akhir tindakan," kata Sita di Jakarta.

Teknologi robotik juga dilengkapi tremor filter yang membantu menyaring getaran kecil tangan dokter sehingga gerakan instrumen menjadi lebih stabil dan presisi.

"Kalau tangan saya diam, instrumennya juga diam. Robot ini membantu saya bergerak lebih presisi dari tangan 'telanjang', tapi soal jaringan mana yang diangkat dan sejauh mana batasnya, itu murni keputusan dokter," tambahnya.

Dokter Perempuan di Balik Bedah Robotik

Sita bukan orang baru dalam teknologi tersebut. Pada 2013, dia menjadi dokter perempuan pertama yang bergabung dalam tim bedah robotik ginekologi di Indonesia.

Kala itu, teknologi robotik baru diperkenalkan sekitar setahun di RSU Bunda Jakarta. Bahkan bagi Sita sendiri, penggunaan teknologi tersebut membutuhkan proses adaptasi.

Dia harus terbiasa dengan pengalaman yang berbeda dari operasi konvensional. Jika biasanya dokter berada tepat di sisi pasien, kali ini dia mengendalikan instrumen dari sebuah konsol.

"Awalnya terasa sangat berbeda. Saya juga harus membangun kepercayaan terhadap teknologinya," katanya.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menangani berbagai kasus ginekologi yang kompleks.

Mulai dari mioma multipel berukuran besar, kista dengan perlengketan luas, hingga endometriosis berat yang melibatkan organ di sekitar rahim.

Pada kondisi dan pasien yang sesuai, pendekatan minimal invasif dapat membantu dokter menangani area yang sulit dengan sayatan lebih kecil dibandingkan operasi terbuka.

"Masa pemulihan juga dapat relatif lebih singkat pada kasus tertentu," ujar Sita.

 

Harapan Mempertahankan Rahim

Bagi pasien dengan mioma, persoalan yang dihadapi terkadang bukan hanya ukuran atau jumlah mioma. Ada pula kekhawatiran bahwa tindakan operasi dapat berujung pada pengangkatan rahim.

Menurut Sita, pada pasien yang memenuhi indikasi, teknologi robotik dapat membantu dokter melakukan pengangkatan miom sekaligus mempertahankan rahim.

"Ini penting, terutama bagi pasien usia reproduktif yang sebelumnya mungkin harus menghadapi pilihan jauh lebih berat," katanya.

Meski menawarkan bantuan dalam menangani kasus tertentu, bedah robotik bukan berarti semua pasien otomatis cocok menjalani prosedur tersebut.

Lebih lanjut, Sita, menambahkan,"Pemilihan metode operasi tetap harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan pertimbangan dokter."

Teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan dokter dan tim yang kompeten. Direktur Utama PT Bundamedik Tbk, Agus Heru Darjono, mengatakan, dokter yang menangani bedah robotik di jaringan BMHS menjalani pelatihan dan sertifikasi khusus.

Sementara itu, kasus kompleks ditangani bersama tim multidisiplin. Sita mengatakan kemampuan menangani bedah robotik juga tidak terbentuk dalam waktu singkat.

"Kompetensi menangani kasus robotik tidak instan. Butuh waktu bertahun-tahun sampai saya benar-benar nyaman menghadapi kasus kompleks, dan itu masih terus berkembang," ujarnya.

Â