Kejar Usia Harapan Hidup Malaysia, Indonesia Butuh Rp 1.800 T

Presiden Prabowo meminta Menkes Budi menaikkan usia harapan hidup warga Indonesia.

Diterbitkan 31 Oktober 2026, 06:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menilai belanja kesehatan Indonesia perlu meningkat hingga tiga kali lipat jika ingin mengejar kualitas kesehatan negara tetangga, Malaysia.

Kebutuhan belanja kesehatan tersebut diperkirakan mencapai Rp 1.800 triliun, naik dari anggaran saat ini yang sekitar Rp 640 triliun.

Budi menyebut usia harapan hidup masyarakat Indonesia saat ini sekitar 74 tahun. Angka tersebut masih tertinggal dibandingkan Malaysia yang mencapai 76 tahun.

Namun, menurut dia, meningkatkan usia harapan hidup bukan perkara mudah. Pemerintah perlu memperbesar investasi di sektor kesehatan sekaligus mengubah pendekatan, dari mengobati orang sakit menjadi menjaga masyarakat tetap sehat.

“Kalau kita sebagus Malaysia, usia harapan hidupnya 76 tahun. Belanja kesehatannya sekitar 300 dolar per kapita. Kita sekarang baru sekitar 130 dolar,” kata Budi saat memaparkan materi dalam kegiatan IAKMI di Gedung Nusantara V, Kompleks MPR/DPR RI, Jakarta, pada Jumat (30/10/2026).

Budi kemudian menggambarkan besarnya kebutuhan belanja kesehatan jika Indonesia ingin menyamai tingkat pengeluaran Malaysia.

“Kalau kita dapat 300 dolar, dikali 280 juta penduduk, itu dapat 84 miliar dolar. Kalau dikali Rp 17.000, sekitar Rp 1.800 triliun. Kita sekarang belanja kesehatannya Rp 640 triliun, berarti harus naik tiga kali lipat,” ujarnya.

Meski demikian, Budi mengingatkan bahwa peningkatan anggaran saja tidak cukup jika pembangunan kesehatan masih bertumpu pada layanan pengobatan.

“Kalau pendekatannya program kesehatan Kemenkes seperti yang lalu, enggak akan kuat kita membiayai layanan kesehatan Indonesia,” tegasnya.

 

Utamakan Pencegahan

Menurut Budi, Indonesia perlu menggeser strategi dengan lebih mengutamakan pencegahan penyakit. Masyarakat harus dijaga agar tetap sehat, bukan baru mendapat perhatian ketika sudah jatuh sakit.

Dia mencontohkan Jepang yang memiliki usia harapan hidup sekitar 84 tahun, dengan belanja kesehatan per kapita lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat.

“Kenapa Jepang lebih hemat daripada Amerika, usia lebih panjang? Karena strateginya di Jepang adalah menjaga masyarakatnya sehat, bukan mengobati saat sakit,” ungkapnya.

Budi menegaskan, orientasi pembangunan kesehatan semestinya tidak berhenti pada penyediaan rumah sakit dan layanan pengobatan. Upaya menjaga kesehatan masyarakat harus menjadi bagian utama dari sistem kesehatan.

“Itu kenapa namanya Menteri Kesehatan, bukan Menteri Kesakitan, bukan Menteri Kesembuhan, bukan Menteri Kedokteran,” tandasnya.