Liputan6.com, Jakarta - Pulang kampung ke Prancis sambil membawa kotak berisi abu jenazah sang ayah tercinta tak pernah sedikit pun terlintas di benak Gloria Natapradja Hamel. Sosok muda berbakat yang dikenal luas sebagai anggota Paskibraka Nasional 2016 itu harus menjalani perjalanan paling emosional dalam hidupnya.
Inilah kisah Gloria saat membawa abu sang ayah ke Prancis, lengkap dengan proses panjang dan berbagai syarat yang harus dipenuhi demi mewujudkan keinginan terakhir ayahnya.
Sang ayah, Didier Hamel, mengembuskan napas terakhir pada 1 Februari 2026 setelah berjuang melawan tumor otak ganas berukuran besar di dekat thalamus.
Advertisement
Gloria, yang lahir pada 1 Januari 2000, bercerita bahwa ayahnya sempat tidak menunjukkan gejala yang terlalu jelas. Didier hanya beberapa kali mengeluhkan sakit kepala, tetapi keluarga mengira itu hanyalah sinusitis biasa.
"Karena memang sudah kambuhan selama hampir 30 tahun," kata Gloria saat berbincang dengan Kesehatan Liputan6.com pada Senin malam, 18 Mei 2026.
Selain itu, sang ayah juga menggunakan pacemaker dan pernah menjalani pemasangan dua ring jantung. "Jadi, setiap kali beliau merasa tidak enak badan, kami pikir itu masih berkaitan dengan kondisi jantung atau aritmia-nya,"Â tambahnya.
Gloria mengatakan ayahnya sempat dua kali memeriksakan diri ke dokter jantung. Namun, dokter merasa ada sesuatu yang tidak beres, meski bukan berasal dari jantung. CT scan pun disarankan karena dicurigai sumber masalah berada di kepala.
"Setelah hasil CT scan keluar, Papa menolak konsultasi lebih lanjut ke dokter saraf karena beliau punya pengalaman buruk dengan penanganan saraf punggung beberapa tahun sebelumnya. Jadi, beliau memang sudah tidak percaya lagi," katanya.
Bak petir di siang bolong, pada pertengahan November sang ayah tiba-tiba pingsan. Gloria dan saudara-saudaranya membawa Didier ke dua rumah sakit berbeda, tapi belum juga mendapatkan diagnosis yang jelas.
Â
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/6268202/original/047531500_1779143544-Gloria.JPG)
Setelah pulang ke rumah, kondisi Didier semakin memburuk. Dia mulai tidak bisa berjalan dan perlahan kehilangan ingatan. "Titik yang paling menghancurkan buat saya adalah ketika Papa mulai lupa siapa saya," ujar Gloria.
Saat itu, Gloria yang sedang menjalani pendidikan S2 di ITB langsung pulang dari Bandung karena merasa kondisi ayahnya semakin mengkhawatirkan.
"Waktu itu awal Desember saya langsung pulang dari Bandung. Karena sudah sangat putus asa dan merasa tidak ada dokter yang benar-benar bisa memberikan jawaban, saya membawa Papa ke geriatric center," katanya.
Syukurnya, dalam waktu dua hari, tim dokter akhirnya menemukan penyebab kondisi Didier setelah dilakukan pemeriksaan lintas departemen.
"Papa memiliki tumor otak yang sangat besar di dekat thalamus, dan tumornya ganas," kata Gloria.
Â
Hati Hancur Berkeping-Keping
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-portrait-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/6268577/original/015828600_1779143923-Gloria_Paskibraka_Nasional_2016__1_.jpg)
Kondisi Didier saat itu sudah stadium lanjut. Pembengkakan tumor sangat besar hingga menekan saraf-saraf penting di otak. Gloria mengaku baru menyadari bahwa gejala tumor otak sering kali muncul ketika kondisi sudah terlambat.
Dokter menjelaskan bahwa operasi memiliki risiko sangat tinggi karena usia Didier yang sudah lanjut dan kondisi tubuhnya yang semakin lemah. Kemoterapi pun dinilai kecil kemungkinan memberikan hasil signifikan. Saat itu dokter memperkirakan Didier hanya memiliki waktu sekitar tiga bulan.
"Kami benar-benar hancur karena harus memilih antara operasi dengan kemungkinan gagal yang lebih besar daripada berhasil, atau membiarkan Papa pergi dengan tenang tanpa perjuangan medis yang terlalu berat," ujarnya.
Pada akhirnya, Didier sendiri yang memutuskan untuk tidak menjalani operasi dan memilih menikmati sisa hidupnya dengan damai bersama keluarga.
"Papa akhirnya meninggal pada tanggal 1 Februari, hanya sekitar satu setengah bulan setelah diagnosis itu keluar," tambah Gloria.
Setelah kepergian Didier, keluarga sepakat untuk mengkremasi jenazahnya. Menurut Gloria, sang ayah memiliki keinginan untuk disemayamkan bersama ibunya di Prancis. Nenek Gloria diketahui meninggal dunia pada 2023 di umur 99 tahun.
"Sejak kepergian nenek, kesehatan Papa memang mulai menurun karena beliau sangat terpukul. Jadi, bagi kami, rasanya penting untuk bisa menyatukan mereka kembali," ujarnya.
Keputusan membawa abu sang ayah ke Prancis bukan keputusan yang diambil secara sembarangan. Gloria dan saudara-saudaranya ingin memenuhi harapan terakhir ayah mereka.
Â
Advertisement
Proses Panjang Membawa Abu Sang Ayah
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-portrait-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/6268578/original/066252200_1779143925-Gloria_Paskibraka_Nasional_2016__2_.jpg)
Proses pemulangan jenazah antarnegara ternyata sangat panjang, rumit, dan memerlukan biaya besar. Selain itu, kondisi tubuh Didier juga dinilai tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh karena sudah terlalu banyak mengonsumsi obat selama sakit.
"Karena Papa lahir sebagai Katolik dan gereja memperbolehkan kremasi, akhirnya saya mengambil keputusan untuk membawa abu Papa ke Prancis agar beliau tetap bisa dimakamkan bersama ibunya," katanya.
Seluruh keputusan tersebut mendapat dukungan penuh dari keluarga besar di Prancis.
"Keputusan utamanya diambil bersama saya dan kakak-kakak saya melalui musyawarah keluarga, serta didukung tante dan keluarga Papa di sana," tambahnya.
Â
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-portrait-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/6268579/original/088770000_1779143925-Gloria_Natapradja_Hamel__2_.JPG)
Gloria menyadari proses pengurusan dokumen sangat panjang dan melelahkan. Seluruh berkas harus diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Inggris, termasuk untuk kebutuhan transit penerbangan.
"Abu Papa juga harus disegel resmi oleh Kedutaan Besar Prancis sebelum bisa dibawa pergi. Akhirnya saya membawa sendiri abu Papa dengan hand-carry sampai ke Prancis," ujarnya.
Bagi Gloria, perjalanan itu menjadi pengalaman paling menyakitkan sekaligus paling indah dalam hidupnya.
"Saya merasa sangat terhormat bisa mengantarkan Papa ke tempat peristirahatan terakhirnya," katanya.
Â
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/6268580/original/055417800_1779143927-Gloria_Natapradja_Hamel__3_.JPG)
Namun, di balik itu semua, ada kesedihan yang tak bisa dia bendung. "Di saat yang sama, kotak abu itu adalah hal terberat yang pernah saya pangku seumur hidup saya. Lucu rasanya, karena seperti baru kemarin saya yang tidur di pangkuan Papa," ujarnya.
Gloria mengaku selama perjalanan tidak ada reaksi berlebihan dari orang-orang di bandara karena kotak abu tersebut tidak tampak mencolok.
"Saya membungkusnya dengan tas motif pisang kesayangan Papa. Yang paling mencolok mungkin justru saya sendiri, karena bisa tiba-tiba nangis bombay setiap bengong sedikit," katanya sambil tertawa kecil.
Beruntung, seluruh petugas bandara bersikap sangat baik dan kooperatif karena semua dokumen telah lengkap.
"Memang hampir di setiap gate saya ditanya dan harus menunjukkan surat-suratnya, tetapi semuanya berjalan lancar. Banyak petugas yang ikut mengucapkan belasungkawa, dan pihak maskapai juga sangat membantu selama perjalanan itu," pungkas Gloria.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5566966/original/026954400_1777262107-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-27T105347.703.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111045/original/054516000_1783054306-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-03T114409.776.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8359730/original/054220900_1782235074-063_2282965616.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/6268199/original/065144400_1779143543-Gloria_Natapradja_Hamel__1_.JPG)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9133935/original/022673500_1783073947-AP26184046344844.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4246766/original/006828700_1669910509-AP22335568653043.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519978/original/083186800_1782447080-063_2283364620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9108027/original/057222500_1783044209-063_2284404573.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9107329/original/011934200_1783043803-063_2284409214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8624685/original/076624500_1782618194-000_B8K274B.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9107326/original/029939500_1783043802-063_2284407272.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9076838/original/076638200_1783028282-000_B8H386V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9104370/original/097375700_1783042219-ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9105249/original/065305000_1783042685-por7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111027/original/077801500_1783052609-AP26183730218725.jpg)
![[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Ebola Kegawatan Internasional](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/rid6h6OrmXBwM-hIYMaROC1lFaY=/200x113/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5084739/original/081560300_1736341701-20250108-Tjandra_Yoga_Aditama-ANG_10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4198596/original/061665200_1666304827-AP22293530930437.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4394764/original/055659100_1681449533-annie-spratt-jNkvZ8hx8QQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6223884/original/023979200_1779100816-Jokowi_yoga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5348248/original/063047200_1757816622-WhatsApp_Image_2025-09-14_at_09.18.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5554781/original/098529600_1776129841-aji.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6202770/original/003636400_1779081736-aji__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4198593/original/060764600_1666304820-AP22293531986722.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3408516/original/033968500_1616469360-IMG20210321094001.jpg)