Alergi Susu Sapi pada Anak, Ini Risiko Jangka Panjangnya

Alergi susu sapi pada anak tak boleh disepelekan, ini risiko jangka panjang yang perlu diwaspadai orang tua.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Alergi susu sapi pada anak tidak bisa dianggap sebagai kondisi ringan yang akan hilang dengan sendirinya tanpa penanganan yang tepat. Kondisi ini dapat berdampak luas. Tidak hanya pada kesehatan fisik, tapi juga pada tumbuh kembang dan kualitas hidup anak secara keseluruhan.

Menurut Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH alergi susu sapi perlu diwaspadai sejak dini oleh orang tua karena dampaknya bisa berkelanjutan.

"Kondisi ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak," ujar Ray pada Kamis, 11 Juni 2026.

Dia, menjelaskan, penanganan yang tidak tepat dapat mengganggu kecukupan asupan nutrisi anak yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang optimal. Jika terjadi dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak serius pada pertumbuhan anak.

"Tata laksana alergi susu sapi yang tidak tepat dapat memengaruhi kecukupan asupan yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang secara optimal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berujung pada stunting," tambahnya.

Menurut Ray, sejumlah studi menunjukkan risiko stunting pada anak dengan alergi protein susu sapi bisa mencapai hingga 24 persen. Hal ini menegaskan bahwa kondisi ini tidak dapat dipandang sebagai alergi makanan biasa.

Selain dampak pada pertumbuhan, alergi susu sapi juga memengaruhi kualitas hidup anak secara menyeluruh. Dampaknya mencakup aspek psikologis, sosial, hingga beban finansial keluarga dalam proses penanganan jangka panjang.

"Selain itu, dampak alergi susu sapi juga dapat dirasakan pada kualitas hidup anak secara keseluruhan, termasuk aspek psikologis, sosial, finansial serta memberikan tantangan tersendiri bagi keluarga dalam proses pengelolaan sehari-hari," ujarnya.

 

Cerita Momfluencer yang Anaknya Alergi Susu Sapi

Ray menekankan pentingnya orang tua menghindari self-diagnosis dan segera berkonsultasi dengan dokter anak agar penanganan sesuai dengan kondisi anak.

"Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali gejala dan menghindari self diagnosis. Konsultasi dengan dokter anak sejak dini menjadi kunci agar penanganan tepat dan kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi," tambahnya.

Sementara itu, momfluencer sekaligus ibu dengan anak alergi susu sapi, Sandra Devita, membagikan pengalamannya dalam menghadapi kondisi tersebut.

Dia mengaku sempat merasa cemas dan bingung saat pertama kali melihat anaknya menunjukkan reaksi setelah mengonsumsi susu sapi.

"Sebagai ibu, awalnya saya sempat merasa khawatir dan cemas ketika melihat anak menunjukkan reaksi tertentu setelah mengonsumsi susu sapi. Awalnya saya sempat bingung harus mengambil langkah apa," ujar Sandra.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa proses pencarian penanganan tidak mudah karena harus bolak-balik ke dokter hingga mendapatkan diagnosis yang tepat.

"Karena gejalanya tidak kunjung membaik, saya jadi bolak-balik ke dokter anak dan itu cukup menguras waktu, biaya, serta pikiran saya sebagai seorang ibu," tambahnya.

Dari pengalaman tersebut, Sandra menyadari bahwa penanganan alergi tidak cukup hanya dengan mengetahui adanya alergi, tapi juga harus diikuti langkah medis yang tepat.

"Dari pengalaman ini saya belajar bahwa menjadi orang tua tidak cukup hanya sadar alergi saja, tetapi juga perlu mengambil langkah nyata seperti berkonsultasi dengan dokter spesialis anak," pungkasnya.