Kisah Sahabat Pena 30 Tahun yang Akhirnya Dipertemukan Takdir

Kisah sahabat pena yang akhirnya bertemu setelah 30 tahun membuktikan persahabatan bisa melampaui jarak.

Diterbitkan 04 Agustus 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebelum media sosial dan platform digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, Saskia Martin dan Heidi Thibeault-Grainger telah lebih dulu menjalin persahabatan sebagai sahabat pena. Keduanya berkenalan lewat program pertukaran guru internasional yang mendorong murid sekolah dasar dari berbagai negara untuk saling berkirim surat.

Mengutip ABC Net, setelah lebih dari 30 tahun bertukar kabar melalui surat, email, dan media sosial, Saskia dan Heidi akhirnya berkesempatan bertemu langsung. Namun, pertemuan itu nyaris batal karena jadwal mereka yang tidak sejalan.

Awalnya, Saskia mengetahui Heidi akan datang ke Sydney untuk menghadiri pernikahan saudaranya. Dia sempat kecewa karena waktu kedatangan Heidi bertepatan dengan rencananya berlibur ke Jepang.

Namun sehari sebelum Heidi tiba, Saskia mengetahui bahwa pernikahan tersebut digelar di Coledale, hanya sekitar lima menit dari Thirroul, lokasi toko miliknya.

"Rasanya seperti takdir ikut campur. Saat aku bertanya di mana saudara laki-lakinya akan menikah, dia menjawab di suatu tempat dekat Wollongong," ujar Saskia.

Keesokan harinya, Saskia bertemu Heidi beserta keluarganya di Stasiun Thirroul. Meski baru pertama kali bertatap muka, dia merasa seperti sudah lama mengenal sahabat penanya itu.

"Aku sudah tahu banyak tentang dirinya. Kami lalu mencari tempat makan dan mengobrol. Anehnya, semuanya terasa sangat nyaman. Tidak canggung dan aku sama sekali tidak gugup," kata Saskia dikutip dari Kanal Global Liputan6.com pada Selasa (4/8/2026)

Saskia juga mengenang awal mula persahabatan mereka, saat ia pergi ke kantor pos untuk membeli perangko internasional.

Salah satu hal yang membuatnya tertarik terus berkirim surat dengan Heidi adalah perbedaan kehidupan mereka. Saskia tumbuh di kawasan pantai, sedangkan Heidi berasal dari daerah pegunungan dan tinggal di peternakan sapi.

"Bagiku, kehidupannya seperti mimpi," ujar Saskia.

Seiring berkembangnya media sosial, kebiasaan berkirim surat tulisan tangan mulai ditinggalkan. Meski kini mereka lebih sering berkomunikasi lewat email atau platform digital, Saskia mengaku merindukan sensasi menerima dan menulis surat di atas kertas.

Selama bertahun-tahun, keduanya juga rutin saling mengirim hadiah kecil melalui surat. Mulai dari foto, gelang persahabatan, kartu pos, peta, bunga yang diawetkan, resep masakan, stiker, teka-teki silang, sulaman silang, hingga kantong teh. Meski sederhana, benda-benda tersebut selalu membawa kebahagiaan bagi mereka.

Kini, berbagai platform daring memudahkan orang menemukan sahabat pena dan bertukar pesan secara online. Salah satunya dimanfaatkan Julie Delbridge, warga Melbourne, yang bergabung dengan organisasi International Pen Friends (IPF) sejak remaja.

Organisasi tersebut tahun ini merayakan ulang tahun ke-60, sementara Delbridge telah menjadi bagian dari IPF selama 25 tahun.

Menurut Delbridge, memiliki sahabat pena dapat meningkatkan kesejahteraan emosional, mengurangi rasa kesepian, sekaligus mendorong seseorang untuk terus belajar sepanjang hidup.

"Kamu akan membangun hubungan dengan seseorang hingga merasa sudah bersahabat dengannya, meski belum pernah bertemu secara langsung," ujarnya.

Delbridge mengaku sangat menikmati pengalaman memiliki sahabat pena saat masih muda. Menurutnya, menunggu balasan surat mengajarkan arti kesabaran.

"Saat orang tuaku bercerai, secara psikologis aku menjauh dari teman-temanku dan lebih banyak menjalin pertemanan dengan sahabat pena," kenangnya.

Ia juga menilai surat tulisan tangan memiliki nilai emosional yang tidak tergantikan karena dapat menjadi kenangan berharga. Delbridge bahkan masih menyesali hilangnya sekantong surat miliknya saat pindah rumah.

"Orang tua dan kakek-nenekku selalu saling menulis surat yang penuh makna. Surat-surat itu mencerminkan kepribadian mereka di atas selembar kertas. Karena itu, menulis surat dengan tangan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan," pungkasnya.

Penulis: Teddy Tri Setio Berty/Global