Kolom Pakar: Cara Memilih Olahraga yang Tepat untuk Tubuhmu

Teuku Aufra Maretto membagikan cara memilih olahraga yang tepat sesuai tujuan dan kondisi tubuh.

Diterbitkan 14 Juli 2026, 17:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Direview oleh:
Edukator Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia sekaligus Ketua Asosiasi Kalistenik dan Street workout Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Belakangan ini, pilihan olahraga semakin beragam. Mulai dari lari, latihan beban, berenang, yoga, pilates, tenis, padel, sepak bola, basket, bela diri, hingga olahraga berbasis komunitas seperti calisthenics, CrossFit, dan yang belakangan ini semakin populer, Hyrox.

Akibatnya, banyak orang justru menjadi bingung. "Coach, sebenarnya olahraga apa, sih, yang paling cocok buat saya?"

Sayangnya, tidak ada satu jawaban pasti yang berlaku untuk semua orang. Tidak ada tes sederhana yang bisa menentukan bahwa seseorang "ditakdirkan" untuk menjadi pelari atau lebih cocok bermain tenis.

Menurut saya, memilih olahraga jauh lebih baik jika didasarkan pada beberapa pertimbangan berikut.

Pertama: Tentukan Tujuan Terlebih Dahulu

Setiap olahraga memiliki karakteristik dan keunggulan yang berbeda. Jika tujuanmu adalah meningkatkan massa otot dan kekuatan, latihan beban menjadi salah satu pilihan terbaik. Jika ingin meningkatkan daya tahan jantung dan paru, olahraga seperti lari, bersepeda, atau berenang bisa menjadi pilihan utama.

Sementara itu, jika ingin meningkatkan fleksibilitas, keseimbangan, dan kontrol tubuh, yoga atau pilates mungkin lebih sesuai. Tidak ada olahraga yang paling baik. Yang ada adalah olahraga yang paling sesuai dengan tujuan yang ingin kamu capai.

Kedua: Sesuaikan dengan Kondisi Tubuh Saat Ini

Kondisi tubuh setiap orang berbeda. Seseorang yang obesitas mungkin akan lebih nyaman memulai olahraga dengan jalan kaki, bersepeda statis, atau latihan beban dibandingkan langsung berlari jarak jauh yang memberikan benturan berulang pada sendi.

Begitu pula seseorang yang memiliki riwayat cedera, mungkin perlu memodifikasi jenis latihan tertentu agar tetap aman dan nyaman dilakukan.

Bagi mereka yang memiliki kondisi medis seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit lainnya, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memulai program latihan yang lebih intens juga merupakan langkah yang bijak.

Artinya, olahraga harus disesuaikan dengan kondisi tubuh kita saat ini, bukan dengan kondisi tubuh yang kita inginkan nanti.

Ketiga: Pilih Olahraga yang Kamu Nikmati

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menjadi salah satu faktor yang paling menentukan. Program latihan terbaik sekalipun tidak akan memberikan manfaat jika hanya dijalankan selama dua minggu.

Sebaliknya, olahraga yang mungkin bukan yang "paling optimal", tetapi bisa kamu lakukan secara rutin selama bertahun-tahun, hampir selalu akan memberikan hasil yang lebih baik. Pada akhirnya, konsistensi hampir selalu mengalahkan kesempurnaan.

Keempat: Pertimbangkan Faktor Lingkungan

Memilih olahraga bukan hanya soal kondisi tubuh, tetapi juga lingkungan yang mendukung.

Apakah tempat latihannya mudah dijangkau? Apakah biayanya sesuai dengan kemampuanmu? Apakah jadwal latihannya cocok dengan rutinitas sehari-hari? Adakah teman atau komunitas yang bisa membuatmu lebih termotivasi untuk datang latihan?

Sering kali, faktor-faktor praktis seperti ini justru lebih menentukan apakah seseorang bisa berolahraga secara konsisten dibandingkan jenis olahraganya sendiri.

Kelima: Jangan Takut Mencoba

Tidak semua orang langsung menemukan olahraga favoritnya. Ada yang baru sadar ternyata lebih menikmati angkat beban setelah mencoba lari.

Ada yang awalnya ikut gym, lalu jatuh cinta pada tenis. Ada juga yang menemukan passion-nya di calisthenics setelah bertahun-tahun bermain futsal.

Tidak ada salahnya bereksperimen. Selama aman dan sesuai dengan kemampuanmu, mencoba berbagai jenis olahraga justru dapat membantumu menemukan aktivitas yang benar-benar kamu nikmati dan bisa kamu lakukan dalam jangka panjang.

 

Jangan Lupakan Strength Training sebagai Fondasinya

Baik kamu seorang pelari, perenang, pemain tenis, pesepeda, praktisi bela diri, maupun hanya ingin hidup lebih sehat, latihan kekuatan tetap memiliki peranan yang sangat penting.

Latihan kekuatan membantu meningkatkan massa dan kekuatan otot, menjaga kepadatan tulang, meningkatkan keseimbangan dan koordinasi, serta menurunkan risiko cedera.

Pada banyak cabang olahraga, peningkatan kekuatan juga berkontribusi terhadap performa, baik dalam kecepatan, daya ledak, maupun efisiensi gerakan.

Saya sering mengibaratkan strength training seperti fondasi sebuah rumah. Bentuk rumahnya boleh berbeda-beda, tetapi fondasinya tetap harus kuat agar mampu menopang seluruh bangunan.

Begitu pula dengan olahraga. Cabangnya boleh berbeda, tetapi tubuh yang kuat akan selalu menjadi modal untuk bergerak lebih baik, berlatih lebih lama, dan menikmati olahraga yang kamu pilih.

Tentu bukan berarti semua orang harus menjadi powerlifter atau bodybuilder. Porsi latihan kekuatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Seorang pelari mungkin cukup melakukannya satu hingga dua kali seminggu, sementara atlet cabang olahraga lain bisa jadi memerlukan frekuensi yang berbeda.

Sebagai penutup, daripada bertanya, "Olahraga apa yang paling cocok untuk tubuh saya?", mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, "Olahraga apa yang paling sesuai dengan tujuan, kondisi, dan bisa saya lakukan secara konsisten?"

Karena pada akhirnya, olahraga terbaik bukanlah olahraga yang sedang populer atau yang membakar kalori paling banyak, melainkan olahraga yang dapat kamu nikmati dan lakukan secara konsisten dalam jangka panjang.

Apa pun pilihannya, jangan lupa untuk menyisipkan latihan kekuatan sebagai bagian dari rutinitasmu, karena tubuh yang kuat akan selalu menjadi bekal terbaik untuk menikmati olahraga apa pun yang kamu pilih dan tekuni nantinya.

Penulis: 

Teuku Aufra Maretto

Edukator Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia sekaligus Ketua Asosiasi Kalistenik dan Street workout Indonesia