Indonesia Bangun Ekosistem Plasma Pertama, Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Indonesia bangun ekosistem plasma pertama untuk memperluas akses obat dan memperkuat layanan kesehatan.

Diterbitkan 14 Juli 2026, 15:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia resmi memulai langkah besar dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional melalui pembangunan ekosistem industri plasma pertama di Asia Tenggara. Inisiatif ini diwujudkan melalui kemitraan strategis antara Pemerintah Indonesia yang melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan Takeda.

Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, Kemenkes RI menetapkan Takeda sebagai industri farmasi yang dapat menyelenggarakan fraksionasi plasma untuk memproduksi Plasma-Derived Medicinal Products (PODP). Langkah ini menjadi tonggak penting dalam membangun ekosistem plasma nasional yang selama ini belum dimiliki Indonesia.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, pembangunan industri plasma merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memperkuat sektor kesehatan sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan inovatif.

"Inisiatif ini mencerminkan komitmen Pemerintah Indonesia untuk membangun industri strategis di sektor kesehatan dan memastikan masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap pengobatan penting dan inovatif," kata Budi.

Lebih lanjut, Menkes, menambahkan,"Melalui kemitraan dengan Takeda, kami berharap dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan."

Inisiatif ini menjadi yang pertama di Asia Tenggara. Fokus utamanya adalah membangun sistem pengumpulan plasma berkualitas tinggi secara berkelanjutan sekaligus mendukung produksi PODP dalam skala besar.

Sebagai tahap awal, Takeda akan menginvestasikan hingga USD30 juta atau sekitar Rp 539 miliar dalam dua tahun untuk membangun sejumlah bank plasma di Indonesia. Tahap ini akan menjadi dasar evaluasi sebelum dikembangkan menjadi jaringan bank plasma nasional.

Seluruh fasilitas akan menerapkan standar mutu dan regulasi internasional dengan memanfaatkan pengalaman global Takeda dalam pengelolaan donor plasma.

Di sisi lain, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani, menilai investasi ini tidak hanya menghadirkan modal baru tapi juga membuka peluang transfer teknologi dan pengembangan industri kesehatan berteknologi tinggi di Indonesia.

"Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem layanan kesehatan, tetapi juga mendukung ambisi menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju," kata Rosan.

Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Pembangunan ekosistem plasma Indonesia diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan PODP bagi pasien di dalam negeri. Selama ini, pasokan obat berbahan baku plasma masih terbatas, sementara permintaannya terus meningkat untuk menangani berbagai penyakit serius.

PODP digunakan dalam terapi berbagai kondisi, seperti gangguan sistem imun, kelainan pembekuan darah, hingga penyakit langka yang membutuhkan pengobatan khusus. Dengan tersedianya sistem pengumpulan plasma di dalam negeri, akses pasien terhadap terapi ini diharapkan menjadi lebih cepat dan berkelanjutan.

Selain meningkatkan layanan kesehatan, proyek ini juga akan mendorong transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta membuka lapangan kerja baru bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium.

 

 

Berpotensi Perkuat Industri Biofarmasi Nasional

President, Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, menjelaskan, kemitraan ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan industri plasma yang berkelanjutan di Indonesia.

Kemitraan ini, kata dia, menunjukkan komitmen Takeda untuk memperluas akses terhadap PODP sekaligus mendukung pembangunan ekosistem plasma yang berkelanjutan di Indonesia.

"Kami berharap pengalaman global Takeda dapat mendukung tujuan jangka panjang Indonesia dalam meningkatkan layanan kesehatan, menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi, dan memperkuat ketersediaan layanan serta pengobatan yang menyelamatkan kehidupan pasien," kata Riad.

Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan akan menjadi bagian dari jaringan BioLife milik Takeda.

Ke depan, Takeda juga akan mengkaji pembangunan fasilitas manufaktur PODP di Indonesia yang berpotensi memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok biofarmasi global.