Jamu Mengandung Ratusan Zat Aktif, Punya 6 Manfaat

Jamu adalah cerminan kearifan lokal dengan bukti empiris secara turun-temurun bermanfaat untuk kesehatan.

Diterbitkan 18 Juni 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jamu adalah ramuan herbal yang sudah dikonsumsi masyarakat Indonesia secara turun-temurun. Jamu terbukti secara empiris dapat memberikan manfaat kesehatan.

Menurut Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional Jamu Indonesia (PDPOTJI), dokter Inggrid Tania, beberapa manfaat konsumsi jamu adalah:

  1. Pemeliharaan kesehatan
  2. Peningkatan kesehatan
  3. Pengobatan penyakit
  4. Pencegahan penyakit
  5. Pemulihan dari sakit
  6. Peningkatan kualitas hidup.

“Dari penggunaan yang sedemikian luas, artinya itu menunjukkan manfaat jamu itu banyak, karena jamu kan tersusun dari bahan-bahan alam, tersusun dari campuran herbal-herbal yang memang berkhasiat,” kata Inggrid dalam siaran langsung Instagram Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dikutip pada Rabu (17/6/2026).

“Kenapa bisa punya banyak manfaat? Kenapa khasiatnya banyak? Karena bahan alam itu bahkan satu jenis saja misalnya temulawak, satu temulawak aja mengandung ratusan zat, sebagian besar sifatnya aktif, artinya zat yang bisa menghasilkan efek farmakologis,” tambah Inggrid.

Zat-zat aktif itu umumnya bersifat antioksidan, lanjut Inggrid, dengan sifat antioksidan maka jamu bisa digunakan sebagai semua upaya kesehatan termasuk untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Inggrid menjelaskan, jamu adalah budaya sehat Indonesia yang sudah diakui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan tak benda Indonesia dan dunia.

“Artinya, jamu sebagai budaya sehat itu patut disebarluarkan juga ke seluruh dunia dan dimanfaatkan juga oleh masyarakat dunia,” ujarnya.

Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan No. 17 Tahun 2023, jamu didefinisikan sebagai golongan obat bahan alam.

“Jadi ada jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka, dan obat bahan alam lainnya. Jadi sekarang sudah ada empat golongan.”

“Jamu ini sebagai obat bahan alam yang memiliki riwayat tradisional berdasarkan tradisi. Diturunkan dari nenek moyang bangsa Indonesia terus sampai generasi sekarang yang digunakan untuk pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, upaya rehabilitatif, dan paliatif,” jelas Inggrid.

Istilah jamu mulai dikenal di Jawa, di berbagai daerah lain seperti Sumatera istilah yang lebih dikenal adalah ramuan herbal. Di jawa barat, ada pula istilah ubar kampung. Sementara di Maluku Utara disebut rorano.

“Tiap-tiap suku memang ada istilah sendiri tapi yang akhirnya dipakai untuk merepresentasikan herbal tradisional Indonesia itu akhirnya dipakai istilah jamu,” ujar Inggrid. 

Jamu Bukan Sekadar Ramuan Herbal

Inggrid menambahkan, tidak semua ramuan herbal bisa disebut sebagai jamu. Menurutnya, jamu adalah ramuan turun temurun yang sudah terbukti secara empiris. Artinya, sudah dikonsumsi jutaan orang sejak dulu dengan efek yang baik.

Jamu umumnya terdokumentasi baik secara lisan maupun tulisan bahkan ada yang diturunkan lewat tembang atau lagu. Kemudian diperkuat dengan riset etnofarmakologi dan riset etnobotani.

“Umumnya, ramuan-ramuan yang sudah terdokumentasikan itu bisa dikatakan aman karena sudah ada bukti dokumentasi pemakaian dari puluhan atau ratusan tahun yang lalu sampai sekarang dengan cara meramu yang sesuai.”

Jika ramuan sudah terdokumentasi dan diolah secara sesuai dengan dosis sesuai maka ramuan tersebut bisa disebut jamu yang aman.

“Tapi kalau yang  tidak sesuai, misalnya tidak sesuai dari sisi pemilihan tanamannya, cara produksinya kurang benar, pemakaian alat-alatnya kurang benar, produksi kurang higienis, takaran bahan kurang tepat, itu akhirnya bisa kita bilang belum tentu aman.”

“Jadi bukan berarti segala yang alami itu pasti aman, jadi bukan berarti seperti itu,” jelasnya.