Konselor ASI Ungkap Peran Ayah yang Sering Diremehkan dalam Keberhasilan Menyusui

Konselor ASI beberkan alasan ibu menyusui butuh dukungan ayah demi ASI lebih lancar dan optimal.

Diterbitkan 11 Mei 2026, 13:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keberhasilan menyusui selama ini sering dianggap sepenuhnya bergantung pada ibu. Padahal, menurut Konselor ASI yang berpraktik di Apotek Jooja - Batam, dr. Lucyana Ratna Sari, CBS, ada peran penting lain yang kerap luput dari perhatian, yaitu keterlibatan ayah.

Dalam ilmu laktasi, terdapat dua hormon utama yang berperan dalam proses menyusui, yakni prolaktin dan oksitosin. Prolaktin berfungsi untuk memproduksi ASI, sedangkan oksitosin membantu proses pengeluaran ASI.

Hormon oksitosin sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional ibu, seperti rasa nyaman, tingkat stres, hingga dukungan dari lingkungan sekitar.

"Termasuk kedekatan ibu dan bayi melalui skin to skin contact. Di sinilah peran ayah menjadi sangat berarti," kata Lucy saat berbincang dengan Kesehatan Liputan6.com melalui sambungan telepon pada Senin, 11 Mei 2026.

Menurutnya, peran ayah pertama-tama dimulai dari kehadiran secara penuh sejak masa kehamilan hingga setelah persalinan. Kehadiran ini bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional.

"Memberikan semangat, energi positif, serta memvalidasi perasaan ibu dapat membuat ibu merasa lebih aman dan tenang," ujarnya.

Kondisi psikologis yang nyaman tersebut dapat membantu meningkatkan hormon oksitosin, sehingga proses pengeluaran ASI menjadi lebih optimal.

Selain dukungan emosional, ayah juga dapat membantu melalui hal-hal sederhana yang berdampak besar dalam keseharian.

Misalnya bergantian begadang menjaga bayi, membantu mencuci perlengkapan pumping, hingga ikut merawat bayi.

"Dukungan ini membantu ibu mendapatkan waktu istirahat yang cukup, yang sangat penting untuk pemulihan dan kelancaran produksi ASI," tambahnya.

 

Ayah Juga Harus Belajar Proses Menyusui

Lucy juga menekankan pentingnya ayah ikut belajar mengenai proses menyusui. Menurutnya, pengetahuan tentang menyusui bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi perlu dipahami bersama agar ayah dapat terlibat secara aktif.

"Dalam praktik, saya sering mengajak pasangan untuk membuat breastfeeding goals bersama. Tujuannya apa yang ingin dicapai dalam proses menyusui? Apakah ingin menyusui secara eksklusif langsung, atau ibu akan kembali bekerja setelah masa cuti melahirkan?," katanya.

"Dari sini, ayah dan ibu bisa menyusun langkah-langkah yang dibutuhkan sejak awal agar proses menyusui berjalan lebih terarah dan realistis," tambah Lucy.

Dengan pendekatan yang dilakukan bersama, menyusui tidak lagi menjadi tanggung jawab ibu semata, tetapi menjadi proses kolaboratif antara ayah, ibu, dan bayi.