BKKBN Ungkap Dampak Stunting bagi Masa Depan Bangsa

BKKBN ungkap bahaya stunting terhadap kualitas generasi muda yang menentukan masa depan Indonesia.

Diterbitkan 23 Mei 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menekankan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kesehatan anak, tapi ancaman serius bagi masa depan bangsa. Jika tidak ditangani sejak dini, kondisi ini dinilai dapat menghambat Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi yang akan terjadi dalam dua dekade mendatang.

Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN, Budi Setiyono, mengatakan, Indonesia saat ini tengah berada di persimpangan penting pembangunan nasional. Dalam beberapa tahun ke depan, jumlah penduduk usia produktif diperkirakan akan lebih besar dibanding usia nonproduktif, seperti dikutip Antara pada Sabtu, 22 Mei 2026.

Menurutnya, momentum bonus demografi hanya akan memberikan dampak positif apabila didukung sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif. Oleh sebab itu, persoalan stunting tidak bisa lagi dipandang sebagai isu kesehatan semata.

"Bonus demografi hanya akan memberikan manfaat apabila ditopang oleh kualitas sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif. Di sinilah persoalan stunting menjadi tantangan serius yang tidak boleh dipandang sebagai isu kesehatan semata," ujar Budi.

Dia, mengatakan, anak yang mengalami stunting berisiko menghadapi hambatan pertumbuhan fisik dan gangguan perkembangan kognitif. Kondisi tersebut juga dapat berdampak pada kemampuan belajar hingga produktivitas saat memasuki usia kerja.

"Jika hari ini kita gagal melindungi anak-anak dari stunting, maka kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi produktif di masa depan," tambahnya.

 

 

Bonus Demografi adalah Jendela Emas

Budi menjelaskan bahwa bonus demografi sering disebut sebagai 'jendela emas' karena dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, meningkatkan produktivitas, hingga memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global. Namun, peluang tersebut bisa terhambat apabila angka stunting masih tinggi.

Oleh sebab itu, upaya penurunan stunting disebut harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan banyak pihak.

Menurut Budi, penyebab stunting sangat kompleks, mulai dari kurangnya asupan gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi lingkungan, akses air bersih, pola pengasuhan, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga. "Pencegahan harus dilakukan sejak dini, bahkan sejak fase sebelum kehamilan," ujarnya.

Dia, menambahkan, edukasi kepada calon pengantin, pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga penguatan literasi keluarga menjadi langkah penting dalam mencegah stunting.

Sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting, Kemendukbangga/BKKBN juga menjalankan Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) sejak 2025.

Program ini melibatkan masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendampingi keluarga berisiko stunting.

Menurut Budi, program tersebut tidak hanya fokus pada bantuan material, tetapi juga membangun kesadaran bersama bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab kolektif.

"Negara tentu memiliki peran utama, tapi keberhasilan penanganan stunting juga sangat ditentukan oleh solidaritas sosial masyarakat," pungkasnya.