Liputan6.com, Jakarta - Persalinan normal dan caesar bukan sekadar pilihan mengenai bagaimana bayi dilahirkan. Keduanya memiliki keuntungan dan risiko masing-masing yang perlu dipertimbangkan berdasarkan kondisi ibu dan bayi.
Ahli Bayi Tabung sekaligus Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk (BMHS), dr. Ivan Rizal Sini, MD, FRANZCOG, GDRM, MMIS, Sp.OG, mengatakan bahwa sekitar satu dari lima ibu yang berencana melahirkan normal berpotensi mengalami kondisi yang membuat persalinan pervaginam tidak dapat dilakukan.
Menurut Ivan, salah satu faktor yang dapat memengaruhi kemungkinan persalinan normal adalah komplikasi selama kehamilan. Namun, beberapa kondisi masih dapat diupayakan untuk diperbaiki selama kehamilan.
Advertisement
Salah satunya adalah diabetes dalam kehamilan yang dapat menyebabkan bayi berukuran lebih besar. Kondisi tersebut berpotensi menyulitkan proses persalinan karena ukuran kepala bayi harus menyesuaikan dengan panggul ibu.
"Kalau bayinya terlalu besar, panggul kita ini cuma dikasih untuk sebegitu rupanya, sementara kepala bayi memang belum tentu bisa lolos," kata Ivan di di Bunda Parenting Convention 2026 dalam rangka memperingati Hari Anak Internasional dan Pekan Menyusui Sedunia pada Sabtu (8/8/2026)
Oleh sebab itu, edukasi dan pemantauan selama kehamilan penting dilakukan. Tujuannya guna mengetahui berbagai faktor risiko sejak awal sehingga kondisi yang masih dapat diperbaiki bisa ditangani dan peluang melahirkan normal tetap dapat diupayakan.
Selain kondisi ibu dan bayi, kata Ivan, kesiapan rumah sakit juga menjadi faktor penting. Dia mengatakan rumah sakit harus siap menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi selama persalinan.
"Stand-by-nya anestesi, stand-by-nya dokter anak, stand-by-nya juga perawat. Dan, itu sangat menentukan confidence kami sebagai dokter untuk bisa memberikan keyakinan kepada pasien bahwa untuk lahir normal itu dapat dilakukan secara aman," katanya.
Â
Dampak Persalinan terhadap Adaptasi Bayi
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/9319610/original/021699400_1786261877-Dokter_Anak_Konsultan_Neonatologi_RSIA_Bunda_Jakarta__Dr._dr._R._Adhi_Teguh_Perma_Iskandar__Sp.A.__Subsp.Neo__4_.jpg)
Dokter Anak Konsultan Neonatologi RSIA Bunda Jakarta, Dr. dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A., Subsp.Neo., menjelaskan bahwa cara bayi dilahirkan juga berkaitan dengan proses adaptasinya setelah lahir.
Saat masih berada di dalam kandungan, paru-paru bayi mengandung cairan. Setelah lahir, cairan tersebut perlu dikeluarkan agar bayi dapat bernapas dengan baik. Proses persalinan membantu terjadinya perubahan tersebut.
Selain proses adaptasi pernapasan, penelitian juga menunjukkan bahwa pola mikroorganisme di dalam usus bayi dapat berpengaruh terhadap kesehatan bayi.
Bayi yang sehat memiliki berbagai mikroorganisme baik, termasuk kelompok laktobasili (Lactobacilli). Paparan terhadap mikroorganisme tersebut salah satunya terjadi saat proses persalinan normal.
"Karena paparan kuman baik itu sudah terjadi waktu di persalinan normal. Makanya bayi-bayi yang bersalin normal mungkin lebih terproteksi,"Â ujar Adhi.
Meski begitu, Adhi menegaskan bukan berarti bayi yang lahir melalui caesar memiliki kondisi yang lebih buruk. Pada kondisi tertentu, melahirkan caesar justru diperlukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi.
Misalnya ketika bayi mengalami kondisi gawat di dalam kandungan dan harus segera dilahirkan. Dalam situasi tersebut, persalinan caesar dapat menjadi pilihan yang lebih cepat dan menguntungkan.
"Jadi, sekali lagi, pilihan seksio sesarea ataupun pervaginam itu masing-masing ada keuntungan dan kerugiannya," ujarnya.
Â
Advertisement
Manfaat Persalinan Normal Tetap Bisa Diupayakan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319287/original/095975700_1786232079-Dokter_Tiwi_RS_Bunda.jpg)
Dokter Spesialis Anak RSIA Bunda Jakarta, dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A., MARS, atau dokter Tiwi, mengatakan, sejumlah manfaat yang biasanya diperoleh dari persalinan normal tetap dapat diupayakan pada ibu yang menjalani caesar.
Salah satunya melalui kontak kulit ke kulit atau skin-to-skin dan inisiasi menyusu dini (IMD).
Menurut Tiwi, mikroorganisme baik dari tubuh ibu dapat berpindah ke area areola pada akhir kehamilan trimester ketiga hingga awal masa menyusui. Oleh sebab itu, kontak langsung antara ibu dan bayi tetap penting meski bayi dilahirkan melalui caesar.
"Jadi artinya, yang bagus-bagusnya dari persalinan pervaginam itu sebetulnya bisa kita timbun," kata Tiwi.
Namun, lanjut Tiwi, persiapan menyusui perlu dilakukan sejak sebelum persalinan. Tiwi mengatakan bahwa 20 s.d 48 jam pertama setelah melahirkan menjadi periode yang sangat penting untuk memulai proses menyusui.
"Kalau itu tidak kita perbaiki, hormonnya turun, hormon menyusuinya. Sehingga kita nge-jalaninnya sulit," ujarnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295706/original/066644800_1783939615-cek_fakta_-_prasetyo_hadi_umumkan_dana_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317894/original/043579200_1786076765-Screenshot_2026-08-07_110222.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318485/original/050923200_1786098399-Cek_fakta_-_blt_umkm_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/9319609/original/020959700_1786261876-dr._Ivan_Rizal_Sini__MD__FRANZCOG__GDRM__MMIS__Sp.OG_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319540/original/021746300_1786258665-Dokter_Anak_Konsultan_Neonatologi_RSIA_Bunda_Jakarta__Dr._dr._R._Adhi_Teguh_Perma_Iskandar__Sp.A.__Subsp.Neo__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3981141/original/048766100_1648734211-tony-litvyak-FznzCnePmbw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8408521/original/066435200_1782291770-psikiater_Indonesia_dr._Andri__SpKJ__FAPM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319288/original/041503000_1786232080-Dokter_Tiwi_Spesialis_Anak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4656894/original/031313400_1700545747-eric-ward-akT1bnnuMMk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296829/original/098179900_1784027448-Kolom_Pakar_Prof_Tjandra_Yoga_Aditama.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319287/original/095975700_1786232079-Dokter_Tiwi_RS_Bunda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4457748/original/071069700_1686193850-angiola-harry-nJv6xnlpNaA-unsplash.jpg)